BACAAJA, KUPANG – Update korban gempa Flores, NTT. Tercatat 100 korban tewas, 1.603 orang mengalami luka-luka, sementara 180.327 orang lainnya mengungsi.
Gempa bumi di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pascaguncangan berkekuatan Magnitudo 7,7 belum benar-benar selesai.
Diketahui, gempa berkekuatan Magnitudo 7,7 mengguncang NTT pada pada 15 Agustus 2026 kemarin. Selanjutnya, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat ada ribuan gempa susulan yang masih terus terjadi.
Hingga Selasa (25/8/2026) pukul 06.00 Wita, BMKG Stasiun Geofisika Kupang mencatat sudah ada 7.029 gempa susulan terjadi.
Bacaaja: PDIP Kirim Kapal Medis Malahayati ke Flores, Bantu Korban Gempa NTT
Bacaaja: Flores NTT Diguncang 2.403 Gempa Susulan
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kupang, Arief Tyastama, mengatakan gempa susulan itu memiliki kekuatan yang beragam. Gempa susulan terbesar tercatat mencapai M 6,2. Sementara yang terkecil berada di angka M 1,1.
Yang bikin perhatian, ada 32 gempa susulan dengan kekuatan di atas M 5. Selain itu, 141 gempa susulan dirasakan langsung oleh masyarakat.
Arief menjelaskan, sebagian besar gempa susulan terjadi di wilayah laut sebelah utara Pulau Flores.
“Karena memang segmen sumber gempanya ada di sana,” kata Arief kepada Kompas.com, Selasa pagi.
Gempa utama M 7,7 sendiri terjadi pada 15 Agustus 2026 pukul 05.58 Wita. BMKG menyebut gempa tersebut berkaitan dengan aktivitas Flores Back-Arc Thrust atau Sesar Naik Flores.
Aktivitas gempa susulan juga masih menunjukkan peningkatan. Sebagai perbandingan, hingga 24 Agustus pukul 04.30 Wita, jumlah gempa susulan yang tercatat masih 6.397 kejadian. Artinya, dalam waktu kurang dari sehari, jumlahnya kembali bertambah ratusan.
BMKG masih terus memantau perkembangan aktivitas kegempaan di wilayah Flores. Masyarakat juga diminta tetap tenang dan tidak mudah percaya informasi yang belum jelas sumbernya. Warga diimbau mengikuti perkembangan hanya dari kanal resmi BMKG.
Update korban bencana gempa NTT
Jumlah korban meninggal dunia kini mencapai 100 orang. Data tersebut disampaikan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Senin (24/8/2026).
Kepala BNPB Letnan Jenderal TNI Suharyanto mengatakan, jumlah korban meninggal bertambah sembilan orang dibandingkan data sehari sebelumnya.
“Per hari ini yang meninggal dunia ada 100 ya, kemudian luka-luka 1.603 jiwa, mengungsi 180.327 jiwa,” kata Suharyanto dalam konferensi pers daring, Senin.
Yang bikin situasi makin berat, sebagian korban meninggal sebelumnya merupakan pasien yang mengalami luka berat. Mereka sempat mendapat perawatan intensif di fasilitas kesehatan maupun rumah sakit darurat. Namun, nyawa mereka akhirnya tidak berhasil diselamatkan.
“Yang meninggal 100 ini adalah korban gempa yang semula luka berat, yang dirawat di fasilitas kesehatan, ini tidak berhasil diselamatkan,” jelas Suharyanto.
Sejak gempa utama terjadi pada Sabtu (15/8/2026), jumlah korban meninggal terus bertambah. Pada hari pertama dan kedua gempa, tercatat 48 orang meninggal dunia. Angka tersebut kemudian meningkat hingga mencapai 100 orang.
Bukan cuma korban jiwa. Kerusakan akibat gempa juga cukup besar. BNPB mencatat sementara ada 73.818 rumah yang mengalami kerusakan.
Rinciannya, sebanyak 23.276 rumah rusak berat, 17.563 rumah rusak ringan, dan 32.979 rumah masuk kategori rusak lainnya sesuai pendataan BNPB.
Di sisi lain, jumlah warga yang mengungsi mencapai 180.327 orang. Sebanyak 1.603 orang juga tercatat mengalami luka-luka dan membutuhkan penanganan.
Gempa utama yang mengguncang NTT pada 15 Agustus lalu juga masih diikuti aktivitas gempa susulan. Situasi ini membuat banyak warga belum berani kembali beraktivitas normal, terutama untuk tinggal kembali di rumah yang terdampak.
Pemerintah dan tim penanganan bencana masih melakukan pendataan serta penanganan terhadap korban dan warga terdampak.
Di tengah kondisi tersebut, kebutuhan warga pengungsi dan penanganan korban menjadi perhatian utama.
Bencana ini bukan sekadar soal angka. Di balik 100 korban meninggal, ada keluarga yang kehilangan orang terdekat. Di balik puluhan ribu rumah rusak, ada warga yang kini harus bertahan di tempat pengungsian.
Penanganan dan pemulihan pun masih jadi pekerjaan besar setelah gempa besar mengguncang NTT. (*)

