BACAAJA, PURBALINGGA – Langkah kecil anak-anak di lereng Karangjambu kini terasa lebih ringan. Bukan karena jalan menuju sekolah berubah mulus, melainkan karena mereka akhirnya bisa memakai sepatu baru yang layak setelah sekian lama bertahan dengan alas kaki yang sudah rusak.
Program bertajuk “Sepasang Sepatu, Sejuta Harapan” resmi dimulai di wilayah pegunungan Kabupaten Purbalingga. Sebanyak 126 pasang sepatu sekolah dibagikan kepada siswa sekolah dasar yang selama ini berangkat belajar dengan kondisi sepatu yang sudah tak layak pakai.
Di balik program itu ada kisah-kisah yang menyentuh. Salah satunya datang dari Zahra Ahira, siswi kelas VI SD Negeri 1 Sanguwatang.
Setiap pagi, Zahra harus berjalan kaki sekitar setengah jam melewati jalan setapak yang menanjak dan menurun di kawasan perbukitan. Sejak sang ayah meninggal dunia setahun lalu, ia tetap berangkat sekolah dengan semangat meski hidup dalam keterbatasan.
Ada pula Arman Maulana, teman sekelas Zahra. Perjalanan menuju sekolah yang berjarak sekitar tiga kilometer harus ditempuh melewati hutan pinus, pematang sawah, hingga jalan desa yang licin saat hujan turun.
Selama ini Arman tetap memakai sepatu yang kondisinya sudah memprihatinkan. Solnya berlubang, bagian bawah mudah kemasukan air, dan kakinya sering terasa sakit saat menginjak bebatuan.
Namun keadaan ekonomi keluarga membuat sepatu itu terus dipakai setiap hari karena belum ada biaya membeli yang baru.
Kondisi seperti inilah yang menjadi perhatian Bupati Purbalingga Fahmi Muhammad Hanif. Ia memilih memulai gerakan sederhana, tetapi menyentuh kebutuhan paling mendasar anak-anak sekolah di daerah pelosok.
Menariknya, seluruh biaya pembelian sepatu berasal dari gaji dan tunjangan pribadi sang bupati. Bantuan itu diberikan sebagai bentuk kepedulian langsung kepada siswa dari keluarga yang membutuhkan.
Bagi Fahmi, sepatu bukan sekadar pelengkap seragam sekolah. Lebih dari itu, sepatu menjadi simbol bahwa keterbatasan ekonomi tidak boleh menghentikan semangat anak-anak untuk terus belajar.
Di hadapan para siswa, ia berpesan agar sepatu baru itu menjadi penyemangat untuk terus mengejar cita-cita hingga jenjang pendidikan setinggi mungkin.
Ia berharap anak-anak Karangjambu tidak pernah minder dengan kondisi yang mereka hadapi saat ini. Menurutnya, kerja keras dan pendidikan tetap menjadi jalan terbaik untuk mengubah masa depan.
Program pembagian sepatu tersebut juga menjadi langkah awal menuju Program Purbalingga Gotong Royong yang dijadwalkan mulai berjalan pada Oktober 2026 dan berlanjut pada awal 2027.
Lewat program itu, pemerintah daerah ingin mengajak masyarakat bergotong royong membantu warga yang membutuhkan, mulai dari penyediaan perlengkapan sekolah, perbaikan rumah tidak layak huni, hingga pembangunan fasilitas sanitasi secara bertahap.
Kepala SD Negeri 1 Sanguwatang, Nunung Nur Happy, mengaku bantuan tersebut membawa dampak besar bagi anak-anak didiknya. Menurutnya, bukan hanya sepatu yang mereka terima, tetapi juga rasa percaya diri untuk terus bersekolah.
Ia juga menyampaikan apresiasi atas beasiswa pendidikan yang diberikan kepada Arman Maulana. Dukungan itu dinilai menjadi suntikan semangat agar Arman tetap fokus mengejar cita-citanya.
Bagi banyak orang, sepasang sepatu mungkin hanya benda yang akan aus seiring waktu. Namun bagi Zahra, Arman, dan ratusan anak lain di Karangjambu, sepatu baru menjadi teman perjalanan yang menguatkan langkah mereka menuju masa depan yang lebih baik. (*)

