BACAAJA, SEMARANG- Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Mohammad Saleh mengingatkan pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) SMA/SMK Negeri tahun ajaran 2026/2027 harus berjalan transparan dan bisa dipertanggungjawabkan.
Menurut Saleh, proses penerimaan siswa baru selalu jadi perhatian masyarakat setiap tahun karena menyangkut masa depan anak-anak dan keresahan orang tua.
“SPMB harus dilaksanakan secara objektif, terbuka, dan akuntabel supaya masyarakat percaya terhadap proses penerimaan siswa baru,” kata Saleh di Semarang.
Baca juga: SPMB SMA/SMK Resmi Dibuka, Luthfi: No Titip, No Jastip
Pemprov Jawa Tengah sendiri sudah mulai membuka pelaksanaan SPMB dengan total daya tampung mencapai 231.724 kursi SMA dan SMK negeri. Jumlah itu tersebar dalam 6.442 rombongan belajar (rombel) di berbagai sekolah negeri di Jawa Tengah.
Masalahnya, kursi sebanyak itu ternyata baru cukup menampung sekitar 40,83 persen lulusan SMP sederajat di Jawa Tengah yang jumlahnya mencapai sekitar 567.500 siswa. Artinya, lebih dari separuh lulusan SMP harus bersaing ekstra ketat atau mencari alternatif sekolah lain.

Tanpa Intervensi
Karena daya tampung terbatas, Saleh meminta seluruh proses seleksi dilakukan secara adil dan profesional tanpa intervensi maupun praktik titipan. “Jangan sampai ada praktik yang merugikan masyarakat maupun calon siswa,” tegas Ketua DPD Golkar Jateng itu.
Ia juga meminta pemerintah daerah memastikan seluruh informasi soal jadwal, jalur penerimaan, hingga hasil seleksi bisa diakses publik secara terbuka dan mudah dipahami.
Menurutnya, keterbukaan informasi penting supaya masyarakat tidak bingung dan tidak mudah percaya pada pihak-pihak yang mengaku bisa meloloskan siswa lewat “jalur khusus”.
Baca juga: SPMB Belum Mulai, Ombudsman Sudah Cium “Bau” Ribetnya
Saleh pun mengimbau masyarakat memahami mekanisme SPMB dengan baik dan mengikuti proses sesuai aturan yang berlaku.
“Yang paling penting adalah memastikan proses penerimaan berjalan bersih, profesional, dan berpihak pada kepentingan pendidikan,” ujarnya.
Di tengah kursi negeri yang terbatas dan persaingan makin padat, satu hal yang pasti tiap tahun tetap sama: orang tua deg-degan, siswa mulai overthinking, dan “jalur orang dalam” selalu jadi gosip yang paling cepat beredar. (tebe)

