BACAAJA, SEMARANG- Rencana pengembangan geotermal di kawasan Ungaran tak hanya memunculkan pembahasan soal potensi energi. Bagi aktivis lingkungan, ada hal lain yang tak kalah penting, seberapa terbuka informasi mengenai proyek tersebut kepada masyarakat.
Aktivis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Rizki mengatakan, masyarakat perlu mengetahui secara jelas berbagai kajian dan dokumen yang menjadi dasar pengembangan proyek, termasuk analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal).
Baca juga: Geotermal Diklaim Energi Bersih, Narasi yang Menguntungkan Siapa?
“Kalau ini baik, kalau ini untuk masyarakat, coba buka informasi itu untuk publik,” kata Rizki, Senin (28/9/2026). Menurutnya, keterbukaan tidak cukup sebatas menyampaikan bahwa geotermal merupakan energi bersih. Masyarakat juga perlu mengetahui potensi dampak proyek, langkah pencegahan, hingga rencana pemulihan apabila terjadi kerusakan lingkungan.
Bagian Penting
Rizki menilai dokumen Amdal menjadi salah satu bagian penting yang perlu dapat diakses publik. Dari dokumen tersebut, masyarakat bisa melihat seberapa besar dampak yang telah diperkirakan serta upaya apa yang disiapkan untuk mengantisipasinya.
“Lewat situ harusnya kita bisa melihat bareng-bareng sebesar apa partisipasi masyarakat, berapa besar dampak dan upaya pemulihan dan pelestarian lingkungan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti keterlibatan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan. Menurutnya, warga yang nantinya hidup berdampingan dengan proyek harus memiliki ruang untuk mengetahui sekaligus menyampaikan sikapnya. “Biarkan masyarakat tahu, masyarakat ambil keputusan sendiri,” kata Rizki.
Baca juga: Aktivis LBH Semarang Soroti Klaim Geotermal sebagai Energi Terbarukan
Baginya, keterbukaan menjadi penting sejak awal, bukan setelah proyek berjalan. Sebab, ketika pengembangan geotermal benar-benar dilakukan, masyarakat sekitar akan menjadi pihak yang paling dekat dengan aktivitas proyek dan berbagai dampaknya. “Ketika proyek ini dikerjakan, masyarakat sendiri yang akan tinggal bersama proyek ini,” tutupnya.
Pada akhirnya, proyek boleh bicara soal energi masa depan. Tapi warga yang tinggal di sekitarnya juga berhak tahu apa yang sedang direncanakan, bukan baru mencari tahu setelah alat berat datang. (dul)

