BACAAJA, SEMARANG– Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi menyambut rencana investasi perusahaan pengolahan limbah asal Amerika Serikat, Energy Three International (E3i), yang ingin menggarap proyek pengolahan sampah di kawasan aglomerasi Soloraya.
Menurut Luthfi, persoalan sampah di Soloraya masih menjadi pekerjaan rumah yang harus segera dituntaskan. Meski sudah ada kesepakatan pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik untuk timbulan sampah baru, persoalan sampah lama dengan volume yang sangat besar masih membutuhkan solusi.
“Saya senang sekali ada investor dari Amerika Serikat yang akan masuk. Ini kalau bisa harus terealisasi dan bisa menyelesaikan permasalahan sampah di Soloraya,” kata Luthfi usai menerima perwakilan E3i, Medhat Omran, di kantornya, Senin (3/8/2026).
Baca juga: Jateng Mau Sulap 70 Persen Sampah Jadi Listrik, Mimpi atau Jalan Keluar?
Berdasarkan data Pemprov Jateng, kawasan Soloraya menghasilkan sekitar 2.944,55 ton sampah setiap hari. Namun, kapasitas pengelolaan yang ada saat ini belum mampu menangani seluruh timbulan sampah tersebut.
Karena itu, pemerintah mendorong pembangunan fasilitas Waste to Fuel berkapasitas sekitar 1.000 ton per hari yang nantinya melayani wilayah Surakarta, Boyolali, Sukoharjo, Karanganyar, Wonogiri, Sragen, hingga Klaten.
Luthfi menjelaskan, sejumlah kawasan aglomerasi di Jateng sebelumnya juga telah memiliki kerja sama pengolahan sampah. Kota Semarang dan Kabupaten Kendal, misalnya, sudah menandatangani nota kesepahaman dengan Danantara.
“Sudah ada beberapa daerah aglomerasi yang MoU pengolahan sampah, seperti Kota Semarang dan Kendal yang sudah dengan Danantara. Lalu Soloraya juga, tapi itu untuk sampah baru, sampah lama masih dicarikan investor,” ujarnya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jateng, Heru Djatmika mengatakan, proyek yang ditawarkan investor Amerika tersebut sejalan dengan target Jawa Tengah mencapai zero sampah pada 2028.
Calon Lahan
Menurutnya, lokasi proyek direncanakan berada di Boyolali. Saat ini sudah tersedia sekitar 20 hektare lahan dari total kebutuhan sekitar 25 hektare. “Soloraya itu sampahnya di atas 1.000 ton per hari. Investor ini masuk untuk waste to fuel. Nanti tempatnya di Boyolali, sudah ada lahan 20 hektare dari kebutuhan 25 hektare,” jelas Heru.
Sementara itu, perwakilan E3i ASEAN, Medhat Omran mengatakan, perusahaan yang diwakilinya bergerak di bidang investasi pengolahan limbah menjadi biofuel dan energi.
Ia optimistis proyek tersebut tidak hanya mampu mengurangi persoalan sampah di Soloraya, tetapi juga menghadirkan teknologi baru yang ramah lingkungan.
Baca juga: Sampah Jateng Tembus 6,4 Juta Ton Per Tahun, Baru 30 Persen Terurus
“Semoga proyek ini dapat terwujud di sini, yang akan bermanfaat bagi masyarakat dan negara. Kita menggunakan teknologi baru dengan zero emission. Jadi, ini ramah lingkungan,” katanya.
Selain membantu mengurangi timbulan sampah, proyek tersebut diperkirakan membuka hampir 300 lapangan kerja sekaligus memperkuat posisi Indonesia, khususnya Jawa Tengah, dalam pengembangan energi hijau di tingkat global.
“Kami juga berharap dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat di sekitar fasilitas yang akan kita bangun, sehingga proyek ini akan bermanfaat bagi semua orang dalam banyak hal,” pungkas Medhat.
Sampah memang sering dianggap masalah. Tapi kalau dikelola dengan teknologi yang tepat, yang tadinya cuma menumpuk di TPA bisa berubah jadi energi, investasi, bahkan membuka lapangan kerja. Yang penting, jangan sampai rencana besarnya ikut menumpuk tanpa pernah benar-benar dijalankan. (tebe)

