BACAAJA, SEMARANG – Saban hari, menu Makan Bergizi Gratis (MBG) banyak terbuang tersisa. Hal ini dimanfaatkan peternak di Di Kelurahan Plombokan, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang.
Sisa makanan dari dapur MBG ia manfaatkan untuk pakan ternak ayam miliknya. Sisa makanan dari dapur MBG bahkan bisa menekan biaya pakan ternak hingga 50 persen.
Salah satu peternak ayam kampung jenis KUB, Joni Priyo Santoso, menyebut sisa nasi dan sayuran dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Plombokan 2 dimanfaatkan sebagai campuran pakan ayam miliknya. Menurut Joni, pemanfaatan sisa makanan tersebut mampu menghemat biaya pakan hingga 40–50 persen.
Bacaaja: Korban Keracunan MBG di Berastagi Alami Gangguan Saraf Otak, 3 Korban Dirujuk ke Medan
Bacaaja: Keracunan MBG Terus Terjadi! Ratusan Siswa di Berastagi Tumbang, 240 Orang Masih Dirawat
“Setelah adanya MBG kami sangat terbantu. Kalau dulu pakai pakan pabrikan, biayanya sangat tinggi. Sekarang bisa terbantu sampai 40 sampai 50 persen dari MBG,” kata Joni, Senin (31/8/2026).
Setiap sore sekitar pukul 17.30 WIB, Joni mengambil sisa makanan dari dapur MBG yang lokasinya tak jauh dari rumahnya. Dalam kondisi tertentu, ia bisa mendapatkan sekitar 25 kilogram nasi beserta sisa sayuran.
Nasi yang diterima kemudian disimpan di freezer selama dua hari sebelum dicampur dengan pakan pabrikan dan difermentasi. Sementara sisa sayuran biasanya langsung diberikan kepada ayam agar tidak cepat basi.
Menurut Joni, pemisahan limbah menjadi hal penting. Nasi yang diterima umumnya sudah dalam kondisi bersih, sedangkan sisa sayuran terkadang masih tercampur dengan benda nonpangan seperti plastik atau sendok sekali pakai.
“Kalau nasi bersih sekali. Kalau sayur kadang masih campur plastik atau sendok, jadi langsung kami kasihkan ke ayam,” ujarnya.
Pemanfaatan limbah MBG ini turut membantu Joni mengembangkan usaha peternakannya. Populasi ayam kampung jenis KUB yang sebelumnya sekitar 100 ekor kini telah berkembang menjadi sekitar 500 ekor.
Bagi peternak kecil, biaya pakan menjadi salah satu pengeluaran terbesar. Karena itu, keberadaan sumber pakan tambahan dari sisa makanan MBG dinilai memberi manfaat nyata bagi keberlangsungan usaha.
Joni berharap pengelolaan limbah makanan dari dapur MBG ke depan dapat semakin baik, terutama dalam pemisahan sisa makanan dan benda nonpangan. Dengan begitu, sisa makanan yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah bisa dimanfaatkan kembali dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Bagi Joni, MBG kini bukan sekadar program penyediaan makanan bergizi. Dari dapur program tersebut, sisa makanan juga ikut menghidupi ratusan ayam dan membantu peternak kecil mengurangi beban biaya usaha. (dul)

