BACAAJA, MEDAN – Kondisi sebagian korban keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara (Sumut),cukup serius. Ada yang mengalami gangguan saraf otak.
Tiga korban dirujuk penanganannya ke RSU Haji Medan karena kondisi kesehatannya belum membaik. Ketiganya,Krismas Dayanti Sihite dari SMAN 1 Berastagi serta F Purba dan Ana Karina Karo dari Yayasan Perguruan Bersama Berastagi.
Kondisi Krismas menjadi perhatian serius. Korban mengalami gangguan kesehatan cukup berat. Orang tua korban menyebut putrinya sempat mengalami kesulitan menelan, muntah, hingga tubuh kaku.
Bacaaja: Keracunan MBG, Prabowo Sebut Masalah Besar: Jangan Sampai Dipolitisasi
Bacaaja: Keracunan MBG Terus Terjadi! Ratusan Siswa di Berastagi Tumbang, 240 Orang Masih Dirawat
“Kata dokter, saraf otak anak saya bermasalah. Lehernya seperti terjepit, bahkan untuk minum saja lehernya harus ditarik terlebih dahulu agar air bisa masuk,” ujar Sihite.
Krismas juga sempat mengalami kejang dan gangguan psikologis selama menjalani perawatan. Namun, kondisi terakhir menunjukkan perkembangan positif.
Kepala Bidang Pelayanan Medik dan Keperawatan RSU Haji Medan, Fitrady Ulianda Siregar, mengatakan Krismas mulai bisa duduk dan berkomunikasi meski masih menjalani perawatan di ruang PICU.
“Alhamdulillah kondisi adek siswi tersebut sudah semakin membaik,” katanya, Rabu (19/8/2026).
Sementara itu, F Purba dan Ana Karina Karo dirujuk dari rumah sakit di Berastagi karena masih mengalami keluhan seperti sesak napas, mual, dan pusing.
Ikan busuk jadi lauk, picu keracunan
Di tengah penanganan para korban, Badan Gizi Nasional (BGN) mengungkap temuan awal terkait dugaan penyebab insiden yang berdampak pada ratusan siswa.
Kepala BGN Sudaryono menyebut ada dugaan kelalaian dalam pengelolaan rantai dingin (cold chain) bahan baku ikan.
Menurutnya, sebagian ikan memang disimpan di freezer. Namun, sekitar 200 hingga 300 ekor disebut tidak masuk freezer dan berada pada suhu ruangan selama 12 jam hingga lebih.
“Jadi, itu kelalaian ada pada pengolahan,” ujar Sudaryono saat menjenguk korban.
Kondisi tersebut kemudian menjadi bagian dari investigasi untuk mengetahui penyebab pasti terjadinya dugaan keracunan.
Sejumlah sumber kesehatan juga menyebut ikan jenis tertentu yang tidak segera didinginkan dapat mengalami peningkatan kadar histamin. Jika kadarnya tinggi, kondisi tersebut dapat memicu gejala seperti mual, muntah, pusing, kulit kemerahan hingga jantung berdebar.
Namun, penyebab medis pasti yang dialami para siswa tetap membutuhkan hasil pemeriksaan dan investigasi resmi.
Biaya pengobatan ditanggung pemerintah
Di tengah proses penanganan, Sudaryono memastikan biaya pengobatan para siswa ditanggung melalui skema Universal Health Coverage (UHC) Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.
BGN juga menyatakan siap membantu jika terdapat kebutuhan medis tambahan yang tidak tercakup dalam skema jaminan tersebut.
Insiden ini menjadi sorotan serius karena melibatkan ratusan siswa. Penanganan korban dan investigasi terhadap pengelolaan makanan menjadi dua hal yang kini berjalan beriringan untuk memastikan kejadian serupa tidak kembali terjadi. (*)

