BACAAJA, SEMARANG – Musim kemarau tidak hanya memicu kekeringan di berbagai daerah Jawa Tengah, tetapi juga meningkatkan jumlah kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hingga 9 Agustus 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah mencatat sedikitnya 166 kejadian karhutla dengan luas lahan terdampak mencapai 306 hektare.
Kepala Pelaksana BPBD Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, mengatakan kejadian karhutla tersebar di 32 kabupaten/kota. Namun sejumlah daerah di wilayah timur Jawa Tengah menjadi penyumbang kasus terbanyak.
“Yang paling banyak itu sebetulnya di daerah timur, ada Grobogan, Blora, dan Sragen. Kemudian di Pantura ada Pemalang. Di Magelang dan Klaten juga ada kejadian,” ujarnya, Rabu (19/8/2026).
Bacaaja: Rp33,4 Miliar Hangus Jadi Abu, Estimasi Kerugian 447 Kasus Kebakaran di Jateng
Bacaaja: Antisipasi Kebakaran Hutan, Jateng Bentuk Satgas Karhutla
Menurut Bergas, sebagian besar kejadian yang tercatat bukan kebakaran hutan murni, melainkan kebakaran lahan kering, semak belukar, dan area perkebunan tebu yang mudah terbakar saat musim kemarau.
Kondisi cuaca panas, minimnya curah hujan, serta vegetasi yang mengering membuat api lebih mudah menyebar. Karena itu, petugas BPBD bersama relawan siaga melakukan pemantauan dan penanganan di sejumlah titik rawan.
Dari hasil identifikasi sementara, sejumlah kebakaran lahan diduga dipicu aktivitas manusia. Salah satunya praktik pembakaran sisa tanaman atau lahan menjelang panen yang masih ditemukan di beberapa wilayah.
“Kalau lahan, indikasinya banyak yang disengaja dibakar. Biasanya berkaitan dengan proses pembersihan lahan karena dianggap lebih murah dibanding menggunakan tenaga manusia,” kata Bergas.
Meski demikian, ia mengakui terdapat pula kebakaran yang diduga dipicu faktor lain, seperti kelalaian manusia maupun kondisi alam di kawasan perbukitan dan pegunungan.
Di sejumlah kawasan hutan, misalnya, kebakaran dapat dipicu oleh puntung rokok yang dibuang sembarangan maupun gesekan ranting kering saat cuaca sangat panas.
Untuk mengatasi kebakaran yang terjadi, BPBD bersama relawan dan pegiat peduli api melakukan pemadaman secara manual menggunakan peralatan portabel. Selain memadamkan api, petugas juga berupaya mengisolasi titik kebakaran agar tidak merembet ke wilayah yang lebih luas.
“Kendalanya biasanya medan yang sulit dijangkau. Namun itu tidak menjadi hambatan bagi relawan untuk bergerak melakukan pemadaman maupun mengisolasi area yang berpotensi dilalui api,” jelasnya.
BPBD mencatat kerugian akibat kebakaran hutan dan lahan hingga awal Agustus mencapai sekitar Rp1,7 miliar. Nilai tersebut diperkirakan masih dapat bertambah apabila kondisi cuaca kering berlangsung lebih lama.
Berdasarkan informasi BMKG, Jawa Tengah saat ini masih berada pada periode puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga September. Karena itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
“Harapan kami masyarakat lebih berhati-hati, terutama saat beraktivitas di lahan maupun kawasan hutan. Pencegahan jauh lebih penting dibanding penanganan setelah kebakaran terjadi,” pungkas Bergas. (dul)

