BACAAJA, BLITAR – Suasana di SDN Tlogo 2, Kabupaten Blitar, tak lagi sama seperti dulu. Sejak bangunan perpustakaan dirobohkan untuk pembangunan gerai Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), para siswa kehilangan ruang favorit mereka untuk membaca.
Kini, ribuan buku koleksi perpustakaan hanya ditumpuk di salah satu ruang kelas. Anak-anak yang ingin membaca harus mencari sendiri buku yang mereka inginkan dari tumpukan tersebut.
Beberapa siswa masih menyempatkan diri membuka buku cerita sambil menunggu dijemput orang tua. Namun, tidak sedikit yang kesulitan mengambil buku karena tertindih tumpukan koleksi lainnya.
Kepala SDN Tlogo 2, Sugianto, mengatakan kondisi itu terjadi setelah ruang perpustakaan dibongkar sekitar dua bulan lalu. Awalnya, buku-buku sempat diletakkan di teras sekolah sebelum akhirnya dipindahkan ke dalam kelas agar tidak rusak.
Menurutnya, bangunan yang dirobohkan bukan hanya digunakan sebagai perpustakaan. Di lokasi yang sama juga terdapat ruang kepala sekolah dan sanggar tari yang selama ini dimanfaatkan siswa.
Pihak sekolah mengaku sebenarnya sudah menyampaikan keberatan ketika rencana pembangunan gerai KDMP muncul. Alasannya, gedung tersebut masih dipakai untuk menunjang kegiatan belajar.
Meski begitu, pembangunan tetap berjalan. Bangunan akhirnya dibongkar sebelum ruang pengganti selesai diperbaiki dan siap digunakan.
Komite sekolah juga sempat mengusulkan agar gedung pengganti direnovasi lebih dulu sebelum proses pembongkaran dilakukan. Namun, usulan tersebut tidak terealisasi.
Akibatnya, sejumlah aktivitas sekolah ikut terdampak. Kegiatan tari kini dilakukan di halaman sekolah, sedangkan pelajaran olahraga harus dipindahkan ke lapangan desa yang berjarak sekitar satu kilometer.
Yang paling dirasakan siswa adalah hilangnya akses mudah ke perpustakaan. Padahal, sekolah selama ini rutin menjalankan program literasi dengan mengajak setiap kelas berkunjung ke perpustakaan sedikitnya sekali dalam sepekan.
Dalam kegiatan itu, siswa bebas memilih buku yang disukai, lalu diminta menceritakan kembali isi bacaan mereka. Kebiasaan tersebut dinilai efektif meningkatkan minat baca sekaligus mengurangi ketergantungan anak terhadap gawai.
Sambil menunggu ruang baru tersedia, pihak sekolah berencana membagi koleksi buku ke setiap ruang kelas. Dengan cara itu, siswa tetap bisa membaca meski belum memiliki perpustakaan seperti sebelumnya.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Blitar melalui Dinas Pendidikan disebut telah menyiapkan anggaran sekitar Rp376 juta untuk memperbaiki gedung pengganti. Dana tersebut rencananya dialokasikan melalui perubahan APBD 2026, sehingga proses renovasi diperkirakan baru bisa berjalan menjelang akhir tahun.
Selama masa penantian itu, sekolah berharap para siswa tetap memiliki akses terhadap buku bacaan. Bagi pihak sekolah, menjaga budaya literasi tidak kalah penting dibanding menyediakan ruang belajar yang nyaman. (*)

