BACAAJA, SEMARANG – Misteri kematian seorang dosen muda Universitas 17 Agustus 1945 Semarang masih bikin banyak orang mengernyitkan dahi. DLL, perempuan 35 tahun, ditemukan tewas tanpa busana di sebuah kamar hotel di kawasan Telaga Bodas Raya, Gajahmungkur, Senin pagi sekitar pukul setengah enam. Temuannya janggal, suasananya gelap, dan pertanyaan publik makin panjang.
Sosok pertama yang menemukan adalah AKBP Basuki, polisi berusia 56 tahun yang sehari-hari berdinas di Direktorat Samapta Polda Jateng. Nama yang awalnya hanya disebut sebagai saksi mendadak jadi sorotan setelah publik tahu bahwa Basuki dan DLL tercatat dalam satu kartu keluarga serta tinggal serumah di Semarang.
Sejak kabar itu mencuat, spekulasi langsung bertebaran. Ada yang mempertanyakan hubungan keduanya, ada yang menyoal kehadiran Basuki di kamar hotel, ada pula yang menyoroti detail waktu penemuan dan pelaporan. Semua pertanyaan itu akhirnya menyeret Bidpropam Polda Jateng turun tangan.
Kabid Propam, Kombes Saiful Anwar, menegaskan bahwa Basuki kini resmi menjalani penempatan khusus selama 20 hari. Pelanggarannya jelas: tinggal satu atap dengan DLL tanpa ikatan pernikahan. Meski sanksi ini belum berkaitan dengan kematian sang dosen, keputusan tersebut diambil agar pemeriksaan berjalan tanpa gangguan.
Proses penyelidikan internal pun digelar dengan menghadirkan Itwasda, SDM, dan Bidkum. Hasilnya menguatkan pelanggaran etik, sementara dugaan pidana sepenuhnya ditangani Ditreskrimum. Direktur Reskrimum, Kombes Dwi Subagio, memastikan penyidikan berjalan untuk mengungkap ada atau tidaknya unsur kriminal dalam kematian DLL.
Dari pemeriksaan awal, korban disebut mengalami pecah jantung—penjelasan yang memunculkan lebih banyak tanda tanya daripada jawaban. Keluarga menolak puas begitu saja dan menuntut pemeriksaan tuntas, termasuk mempertanyakan alasan Basuki berada di lokasi kejadian.
Sementara itu, gelombang mahasiswa Untag ikut turun ke jalan. Mereka mendatangi Polda Jateng, membawa poster, dan meminta transparansi. Bagi mereka, terlalu banyak kejanggalan yang mengganggu logika: korban ditemukan telanjang, posisi tubuh di lantai, ada barang pribadi yang diduga hilang, dan jeda waktu panjang sebelum kabar kematian disampaikan ke kampus maupun keluarga.
Mahasiswa juga mendesak agar seluruh bukti, termasuk barang pribadi korban, diamankan dan diaudit ulang. Kekhawatiran terbesar mereka adalah ada bagian cerita yang sengaja tak diungkap atau malah sengaja dihilangkan.
Kasus ini makin rumit ketika bukti administrasi menunjukkan korban dan Basuki berada dalam satu KK. Publik berspekulasi, media mengulas, dan warganet berdebat—tapi pihak kepolisian menegaskan semua proses tetap dijalankan sesuai prosedur.
Hingga kini, misteri itu belum menemukan pintu keluar. Pemeriksaan terus berjalan, barang bukti terus dikumpulkan, dan para penyidik masih merangkai potongan cerita yang berserakan. Sementara itu, publik menunggu, berharap semua simpul kusut ini bisa terurai terang, tanpa ada yang ditutupi. (*)


