BACAAJA, SEMARANG – Ninggalin status Aparatur Sipil Negara (ASN) setelah 13 tahun kerja? Buat banyak orang, itu keputusan yang bikin mikir seribu kali.
Namun, Bima Eka Sakti berani ngambil jalan itu. Bukan karena ada masalah, tapi karena pengin cari bentuk pengabdian lain, lewat jalur politik.
Di podcast Lakon Lokal yang tayang di bacaaja.co, pria yang akrab disapa Bima Sakti atau Bima cerita blak-blakan soal turning point hidupnya. Katanya, hidup sebagai ASN sebenarnya sudah nyaman. Gaji rutin aman, rumah ada, kendaraan ada.
“Kalau dibilang lumayan? Sangat lumayan,” ujarnya santai.
Bacaaja: Kata Mas Tri Sastra Nggak Bikin Kaya, tapi Kenapa Masih Banyak yang Bertahan?
Lepas stasus ASN demi impian mengabdi di tanah kelahiran
Kesempatan datang saat ia maju di pilkada Kabupaten Tegal, kampung halamannya. Konsekuensinya jelas: harus mundur dari ASN.
Keputusan itu sempat jadi bahan diskusi panjang di keluarga. Wajar. Ia meninggalkan kepastian demi pertarungan politik yang belum tentu menang.
Hasilnya? Sekitar 33 persen suara. Belum cukup untuk menang.
Bacaaja: Petuah Sururi Mangrove: saat Dirawat, Alam Membayar Balik dengan Rezeki bagi Keluarga
Mas Bima menyebut kekalahannya karena tiga faktor yang ia rangkum dalam istilah 3W: waktu persiapan mepet, kekuatan organisasi (wong) kalah solid, dan faktor wi alias modal.
“Kalau kalah waktu, wong, dan wi (modal), ya kalah semuanya,” katanya. Realistis, tanpa drama.
Gagal di Pilkada Tegal 2024, ngegas di bisnis
Alih-alih balik lagi ke birokrasi, Bima pilih banting setir ke dunia usaha. Ia mendirikan Best Pangkas Rambut, dan sengaja pakai istilah “pangkas rambut”, bukan barbershop.
Menurutnya, istilah lokal itu lebih membumi. Tapi konsepnya tetap naik kelas: pelayanan modern, tempat nyaman, manajemen rapi.
Cabang pertama berdiri Juli 2024. Kurang dari dua tahun, sudah berkembang jadi empat cabang dengan total sekitar 30 karyawan.
Dari yang dulu terima gaji tetap tiap bulan, sekarang penghasilannya fluktuatif. Tapi sejauh ini, usahanya terus tumbuh dan belum pernah tekor besar.
Nggak Mau Hidup dari Politik
Selain bisnis, Bima juga sempat aktif nyanyi dari panggung ke panggung. Sekarang aktivitas itu mulai dikurangi, fokus ke pengembangan usaha.
Soal politik? Ia nggak menutup pintu, tapi juga nggak buru-buru balik gelanggang.
“Saya tidak ingin hidup dari organisasi. Saya ingin menghidupi organisasi,” tegasnya.
Kalimat itu jadi garis bawah. Ia ingin punya kekuatan ekonomi dulu, supaya nggak tergantung pada kekuasaan atau partai.
Kini, Bima juga sering jadi narasumber di kampus dan sekolah. Topiknya bukan soal jabatan, tapi soal mimpi, kegagalan, dan konsistensi.
Perjalanannya dari ASN, calon kepala daerah, sampai pengusaha pangkas rambut adalah cerita tentang risiko. Tentang berani lepas zona nyaman. Tentang gagal, tapi nggak tumbang.
Karena buat Bima, pengabdian nggak harus lewat kursi kekuasaan. Bisa juga lewat buka lapangan kerja, dan bikin pangkas rambut lokal naik kelas. (*)


