BACAAJA, SEMARANG- Mantan buruh Sritex menganggap kurator kerjanya lamban. Sehingga mereka mendesak agar kurator Sritex diganti saja. Kurator sendiri bertugas membereskan harta pailit Sritex. Masalahnya, hingga kini penjualan aset belum juga kelar. ri
Dampaknya, pelunasan utang termasuk pesangon buruh ikut tersendat. Massa aksi berorasi tepat di depan gerbang Pengadilan Nege Semarang. Dengan pakaian serba hitam, mereka membentangkan spanduk dan poster bernada sindiran keras ke arah kurator.
Baca juga: Mantan Buruh Sritex Demo Tagih Pesangon di Semarang
Salah satu poster paling mencolok bertuliskan “Kurator Kura2”. Sindiran itu menggambarkan kekecewaan buruh. “Kan kerjanya lambat kayak jalannya kura-kura,” celetuk salah satu buruh.
Dalam orasinya, buruh juga menyinggung janji-janji kurator yang dianggap cuma omong kosong. Mereka menilai kurator tidak profesional karena tak kunjung menuntaskan tugas. Orator lain menyebut kondisi buruh kini makin terjepit. Hampir setahun tanpa kepastian, banyak yang kehilangan pekerjaan dan penghasilan.
Tak Produktif
Seorang buruh, Retno Dewi mengaku sangat membutuhkan pencairan pesangon Sritex. Perempuan berusia 58 tahun itu tak lagi bekerja. Umurnya dianggap tak produktif oleh banyak pabrik. Sehari-hari, Dewi hanya di rumah. Kebutuhan hidup mengandalkan penghasilan suami yang kerja serabutan. Dua anaknya sudah lulus sekolah, tapi belum punya pekerjaan tetap.
Baca juga: Kasus Sritex, Eks Dirut Bank DKI: Kami Korban, Kok Malah Didakwa?
Dewi mengaku belum tahu berapa nilai pesangon yang seharusnya ia terima. Ia bekerja di Sritex sekitar 33 tahun. Dulu gajinya hanya UMR ditambah premi. Kalau nanti pesangon cair, Dewi punya rencana sederhana.
Ia ingin buka warung kecil di rumah. “Biar ada usaha buat nyambung hidup,” katanya. Demi tuntutan itu, Dewi rela berangkat dari Klaten ke Semarang. Ini sudah ketiga kalinya ia demo di PN Semarang, ditambah sekali di Sritex. (bae)


