BACAAJA, SEMARANG- DPRD Kota Semarang menyoroti pendapatan daerah dari sektor parkir yang dinilai masih jauh dari kata maksimal. Padahal, jumlah kendaraan di ibu kota Jateng ini bukan main banyaknya.
Wakil Ketua DPRD Kota Semarang, Suharsono menyebut, potensi parkir di Kota Atlas sangat besar. Data kasar saja, jumlah mobil di Semarang mencapai sekitar 200 ribu unit, sementara sepeda motor tembus lebih dari 600 ribu unit.
“Saya pernah hitung sederhana. Kalau satu kendaraan parkir 10 kali saja dalam setahun, pendapatan bisa sampai Rp80 miliar. Itu baru 10 kali parkir,” kata Suharsono, Rabu, (21/1/2026). Bandingkan dengan kondisi sekarang. Pendapatan daerah dari sektor parkir di Kota Semarang masih berkisar di angka Rp3,5 sampai Rp3,6 miliar per tahun. Angka yang dinilai jauh dari potensi sebenarnya.
Baca juga: Liburan Nataru, Pemkot: Urusan Parkir Aman
Menurut Suharsono, kondisi ini jadi sinyal kuat perlunya evaluasi total pengelolaan parkir di Kota Semarang. Mulai dari sistem, pengawasan, sampai komitmen menjalankan aturan. “Bagaimana caranya bikin sistem parkir yang tertib, aman, nyaman, dan yang pasti bisa nambah pendapatan daerah,” ujarnya. Ia mencontohkan daerah lain yang lebih dulu berhasil mengelola sektor parkir.
Daerah Lain
Di Yogyakarta, pendapatan parkir pasar saja bisa mencapai Rp2 miliar. Sementara di Semarang, dari seluruh objek parkir, totalnya hanya Rp3,6 miliar. “Kita harus belajar dari kota lain, seperti Jogja, Solo, Surabaya. Bahkan Surabaya, lima tahun lalu saja pendapatan parkirnya sudah Rp36 miliar,” katanya.
Menurutnya, evaluasi sektor parkir harus dilakukan secara menyeluruh agar pendapatan asli daerah (PAD) bisa sesuai dengan potensi yang ada. Kuncinya ada pada kemauan belajar, komitmen bersama, dan kepatuhan terhadap regulasi.
Baca juga: Kas Semarang Aman, Target Hampir Kesentuh
“Payung hukumnya ada, di undang-undang maupun peraturan menteri. Tinggal dilihat, ini salahnya di mana, pengelolaannya seperti apa,” ujarnya. Ia juga menyoroti metode pengelolaan parkir yang sudah berjalan bertahun-tahun tanpa perubahan signifikan.
Menurutnya, kalau caranya masih sama, hasilnya pun akan tetap sama. “Kalau metodenya nggak diubah, ya pendapatannya juga nggak akan pernah berubah,” tegasnya. Parkiran penuh tiap hari, tapi kas daerah tetap kurus. Jangan-jangan yang gemuk cuma rompi oranye, sementara PAD masih diet bertahun-tahun. (tebe)


