BACAAJA, SEMARANG- Penanganan banjir di Kota Semarang tidak bisa hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur atau kerja pemerintah semata. Edukasi masyarakat dan kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi kunci penting untuk mengurangi risiko banjir yang terus berulang.
Pakar Hidrologi Universitas Diponegoro (Undip) sekaligus Ketua Forum Daerah Aliran Sungai (Fordas) Jateng, Prof Dr Ir Sriyana, MS mengatakan, karakteristik geografis Kota Semarang memang menghadirkan tantangan tersendiri dalam pengendalian banjir.
Menurutnya, banjir yang sempat terjadi di kawasan Ngaliyan pada pertengahan Mei lalu dipicu kombinasi cuaca ekstrem dan kondisi alam setempat. Berdasarkan data BMKG pada 14-15 Mei 2026, curah hujan di wilayah tersebut mencapai kategori lebat dengan intensitas sekitar 50 hingga 100 milimeter per hari.
Sriyana menjelaskan, bentuk Daerah Aliran Sungai (DAS) di kawasan Ngaliyan cenderung membulat. Kondisi ini membuat air hujan dari berbagai arah perbukitan mengalir menuju satu titik secara bersamaan sehingga menghasilkan lonjakan debit yang tinggi dalam waktu singkat.
“Masyarakat perlu memahami bahwa bentuk DAS di Ngaliyan itu seperti mangkuk raksasa. Ketika hujan deras turun, air akan berkumpul dalam waktu bersamaan dan menciptakan puncak aliran yang sangat tajam. Karena itu risiko banjir bisa muncul dengan cepat,” ujarnya, Jumat (29/5).
Persoalan tersebut, lanjut Sriyana, semakin berat karena perubahan tata ruang di kawasan hulu. Alih fungsi lahan, pertumbuhan permukiman, dan berkurangnya area resapan menyebabkan air hujan lebih cepat mengalir ke hilir.
Baca juga: Semarang Kebanjiran Lagi, Wali Kota: Soal Drainase Nggak Bisa Kerja Sendirian
Tidak hanya itu, erosi dari kawasan atas turut membawa material tanah yang kemudian mengendap di saluran dan sungai. Sedimentasi lumpur tersebut berpotensi menyumbat drainase lingkungan hingga memicu luapan air ke kawasan permukiman seperti Purwoyoso.
Meski demikian, Sriyana menilai infrastruktur makro yang dimiliki Pemkot Semarang saat ini sebenarnya sudah cukup baik. Tantangan utama justru terletak pada sumbatan sampah, bangunan yang mempersempit bantaran sungai, serta kebutuhan biaya operasional dan pemeliharaan pompa yang terus meningkat.
Menurutnya, penanganan tata air modern membutuhkan keterlibatan banyak pihak melalui pendekatan Octa Helix. Mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, akademisi, aparat keamanan, masyarakat, media, hingga unsur politik harus bergerak bersama.
Penguatan Kapasitas
“Penanganan banjir tidak bisa lagi memakai pola lama. Semua pihak harus terlibat dan bergerak dalam satu arah agar hasilnya berkelanjutan,” tegasnya. Sriyana juga mendorong penguatan kapasitas lingkungan di tingkat RT dan RW.
Salah satu gagasan yang diajukan adalah mengalokasikan sebagian anggaran RT untuk mendukung program pengelolaan sampah mandiri atau Zero Waste agar sampah tidak berakhir di saluran drainase.
Menanggapi hal tersebut, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng menyatakan, pihaknya menyambut baik berbagai masukan dari kalangan akademisi. Menurutnya, edukasi publik akan menjadi salah satu fokus penting dalam program penataan lingkungan ke depan.
Agustina menegaskan koordinasi dengan BBWS Pemali Juana terkait pengerukan sungai utama terus dilakukan bersamaan dengan upaya pembersihan saluran drainase oleh perangkat daerah.
Baca juga: Banjir Ngaliyan-Tugu, Peneliti Amerta: Kota Salah Ditata
“Kami sangat berterima kasih atas analisis dari Prof Sriyana. Ini memperjelas bahwa persoalan banjir saling berkaitan dari hulu hingga hilir, bahkan sampai kebiasaan kita sehari-hari di rumah,” kata Agustina.
Ia juga mengajak masyarakat untuk ikut menjaga lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan, tidak menutup akses kontrol drainase, serta mulai membiasakan pemilahan sampah dari rumah tangga.
Menurut Agustina, keberhasilan mengurangi risiko banjir tidak hanya ditentukan oleh proyek fisik, tetapi juga kesadaran kolektif seluruh warga dalam menjaga sistem lingkungan kota.
Banjir memang sering datang saat hujan deras. Tapi kalau sungai menyempit, sampah masih rajin masuk selokan, dan lahan resapan terus hilang, hujan cuma kebagian peran sebagai kambing hitam.
Sebab kadang yang meluap bukan hanya air, melainkan juga kebiasaan buruk yang bertahun-tahun dibiarkan mengalir tanpa perbaikan. (tebe)

