BACAAJA, SEMARANG- Kesenian Gambang Semarang memang masih ada geliat dan peminatnya. Tapi harus diakui, kesenian khas Semarang saat ini lebih banyak tampil di acara festival atau panggung resmi.
Direktur perkumpulan Gambang Semarang Art Company (GSAC) Tri Subekso mengakui hal itu. Selama Gambang Semarang belum ditanggap masyarakat di momen pribadi seperti hajatan, maka berarti masih ada PR.
“Selama Gambang Semarang belum ditanggap jadi hiburan orang punya gawe, itu belum jadi kebutuhan,” kata Tri saat ditemui di acara pameran kesenian di Semarang, Senin (21/4/2206).
Baca juga: Budaya Lokal Semarang Makin Tenggelam di Timeline
Dia bilang, dulu Gambang Semarang sempat ada di fase itu. Diundang di acara mantu atau sunatan. Tapi sekarang belum kembali ke titik itu. Terakhir kali GSAC dapat job hajatan, katanya, sekitar 2016 atau 2017. Setelah itu, panggung lebih banyak datang dari acara formal.
Mulai dari undangan pemerintah sampai perusahaan. Peresmian, gathering, sampai buka puasa bersama. Salah satunya sempat tampil di acara perusahaan di Super Penyet saat Ramadan. “Kalau ngundang pemerintah atau perusahaan itu biasa. Tapi kalau wong mantu ngundang Gambang Semarang, nah itu baru tandanya hidup,” ujarnya.
Bagian Tradisi
Tri menilai, indikator kuat sebuah kesenian hidup itu sederhana. Dipakai di hajatan. Jadi bagian dari tradisi masyarakat sehari-hari. Dia mencontohkan daerah lain. Di Kabupaten Semarang, orang hajatan masih sering nanggap kuda lumping atau wayang kulit. Itu sudah jadi kebiasaan. Artinya kesenian itu jadi kebutuhan.
Sementara Gambang Semarang, menurut dia, belum sampai situ. Masih sebatas tontonan acara tertentu. Belum jadi pilihan spontan warga saat punya acara. “Bukan soal uangnya. Tapi soal eksistensi,” tegasnya.
Baca juga: Saat Semua Serba Scroll, Gambang Semarang Pilih “Live Show”
Meski begitu, aktivitas panggung tetap jalan. Tahun 2025 bahkan jadi salah satu yang paling ramai karena banyak festival dan dukungan program. Sementara 2026 ini masih lebih sepi. Baru satu kali pentas, itu pun di acara buka puasa bersama perusahaan.
Di sisi lain, dukungan pemerintah sebenarnya ada. Gambang Semarang sudah masuk sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Kota Semarang. Artinya, secara kebijakan sudah diakui dan diprioritaskan. Tinggal bagaimana program dan eksekusinya di lapangan.
Tri juga menyoroti soal festival. Menurut dia, jangan sampai cuma seremonial. Apalagi kalau peserta dibentuk dadakan. “Kadang festival ada, tapi kelompoknya dibikin instan. Habis itu bubar,” katanya.
Bagi komunitas, yang lebih penting justru penguatan kelompok. Bikin ekosistem yang benar-benar hidup dan berkelanjutan. Tapi itu juga bukan hal mudah. Mencari orang yang mau serius berkesenian sekarang jadi tantangan tersendiri. Apalagi Gambang Semarang butuh banyak elemen. Mulai dari musik Jawa, sentuhan Tionghoa, sampai cerita dan drama di panggung.
Di panggung resmi, Gambang Semarang masih dapat spotlight. Tapi di hajatan warga, malah belum masuk playlist. Ironisnya, kadang yang diakui pemerintah belum tentu otomatis dipakai masyarakat, karena yang bikin hidup itu bukan panggung besar, tapi undangan kecil dari rumah ke rumah. (bae)

