BACAAJA, SEMARANG – Selama ini, berat badan berlebih pada anak lebih sering dikaitkan dengan masalah jantung, metabolisme, atau risiko penyakit kronis. Tapi ternyata, urusannya bisa merembet ke kesehatan mata. Sebuah riset menemukan anak dengan kelebihan berat badan dan obesitas punya risiko lebih tinggi mengalami astigmatisme atau mata silinder.
Temuan ini tentu bukan berarti setiap anak dengan berat badan berlebih pasti bakal mengalami mata silinder. Namun, hasil penelitian tersebut memberi sinyal agar kesehatan mata anak juga ikut diperhatikan, terutama jika berat badannya berada di atas kisaran normal.
Astigmatisme sendiri terjadi ketika bentuk kornea atau lensa mata tidak melengkung secara sempurna. Akibatnya, pandangan bisa terlihat kabur atau kurang fokus, baik saat melihat benda dekat maupun jauh.
Riset Libatkan 22 Ribu Lebih Anak
Temuan tersebut berasal dari penelitian yang dipublikasikan di Canadian Journal of Ophthalmology. Peneliti menganalisis data 22.130 anak berusia 6 sampai 10 tahun yang mendapat layanan kesehatan dari Maccabi Healthcare Services di Israel.
Data pemeriksaan mata itu dikumpulkan dalam rentang 2012 hingga 2022. Para peneliti kemudian mengelompokkan anak berdasarkan status berat badan dan memantau kondisi mereka selama rata-rata 62,9 bulan.
Status berat badan ditentukan menggunakan indeks massa tubuh atau BMI yang disesuaikan dengan usia serta jenis kelamin anak.
Hasilnya cukup menarik. Astigmatisme ringan sampai sedang ditemukan pada 30,7 persen anak dengan berat badan kurang, 29,8 persen anak dengan berat badan normal, 32,1 persen anak yang kelebihan berat badan, dan 35,1 persen anak dengan obesitas.
Untuk astigmatisme berat, angkanya juga menunjukkan pola serupa. Kasus ditemukan pada 0,7 persen anak dengan berat badan kurang, 1,1 persen pada kelompok berat badan normal, 1,6 persen pada anak dengan kelebihan berat badan, dan 2 persen pada anak yang mengalami obesitas.
Berat Badan Naik, Risikonya Ikut Naik
Dari analisis tersebut, peneliti menemukan anak dengan kelebihan berat badan punya kemungkinan lebih tinggi mengalami astigmatisme dibandingkan anak dengan berat badan normal.
Hubungan itu terlihat makin kuat pada kelompok anak dengan obesitas. Meski begitu, peneliti menekankan bahwa hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan, bukan bukti bahwa obesitas secara langsung menyebabkan mata silinder.
Dalam perhitungannya, kelebihan berat badan dan obesitas diperkirakan berkontribusi terhadap 4,3 persen kasus astigmatisme ringan hingga sedang dan 13,4 persen kasus astigmatisme berat pada populasi penelitian.
Artinya, masih ada banyak faktor lain yang bisa berperan dalam munculnya gangguan penglihatan tersebut. Jadi, orangtua tidak perlu langsung panik ketika anak memiliki berat badan berlebih.
Kenali Tanda Mata Silinder pada Anak
Astigmatisme pada anak bisa muncul lewat sejumlah tanda yang kadang dianggap sepele. Anak misalnya sering menyipitkan mata saat melihat sesuatu, mengeluh pandangan kabur, atau merasa matanya cepat lelah.
Keluhan sakit kepala juga bisa muncul, terutama setelah anak membaca, belajar, atau melakukan aktivitas yang membutuhkan fokus penglihatan cukup lama.
Jika anak sering kesulitan melihat tulisan di papan, mendekatkan benda ke wajah, atau mengeluhkan penglihatan yang tidak jelas, pemeriksaan mata layak dipertimbangkan.
Peneliti pun menyarankan pemeriksaan mata dan pemantauan yang lebih intensif bagi anak dengan BMI tinggi. Langkah ini diharapkan bisa membantu menemukan gangguan refraksi lebih cepat sehingga dapat segera dikoreksi.
Pada akhirnya, menjaga berat badan anak tetap sehat bukan cuma soal mencegah penyakit jantung atau gangguan metabolisme. Kesehatan mata juga jangan sampai luput dari perhatian, apalagi ketika anak mulai menunjukkan tanda-tanda penglihatan yang bermasalah. (*)

