Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
Reading: Meluruskan Pandangan Keliru terkait Konseling ke Psikolog
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Meluruskan Pandangan Keliru terkait Konseling ke Psikolog

Redaktur Opini
Last updated: Januari 23, 2026 10:07 am
By Redaktur Opini
4 Min Read
Share
SHARE

Ana Fitri Aulia adalah mahasiswa Magister Psikologi, Universitas Diponegoro.

Sesuatu yang terlihat ringan bagi satu orang bisa jadi terasa menyesakkan bagi orang lain.

 

Perasaan capek, sedih, takut, cemas, adalah perasaan yang manusiawi. Namun, kita terbiasa menahan perasaan itu. Ibaratnya, kita seperti melihat hujan, menunggu reda hingga berhenti dengan sendirinya. Selama belum banjir, rasanya tidak perlu melakukan apa pun. Padahal ada banyak hal yang perlu diperhatikan agar hujan itu tidak berubah menjadi banjir.

Pola yang sama terlihat dari bagaimana kita memaknai perilaku mencari bantuan, khususnya mengenai kesehatan mental. Banyak orang yang menganggap bahwa selama seseorang masih tampak “baik-baik saja” maka keresahan yang ada dalam dirinya dianggap belum perlu ditindaklanjuti.

Kata-kata seperti “gapapa” atau “nanti juga lewat” memang terdengar menenangkan. Nyatanya kata-kata ini seringkali hanya menjadi tekanan. Masalah dan perasaan yang tidak menyenangkan tidak diberi ruang untuk benar-benar pergi, melainkan hanya “dipres” agar terasa tidak mengganggu.

Dari sini wajar jika seseorang mencari bantuan psikologis dianggap “opsional.” Bukan karena bantuan psikologis tidak dibutuhkan, tetapi karena sejak awal perasaan itu tidak diberi ruang untuk diakui sebagai sesuatu yang layak ditangani.

Selain itu tidak semua orang diberi ruang yang sama untuk memeluk perasaannya. Saat seseorang mencoba jujur tentang bebannya, respons yang didapatkan dari sekitar justru adalah penilaian “kamu lebay”, “masalahmu masih sepele” atau “kamu harusnya kuat.”

Kita sering lupa bahwa beban tidak bisa diseragamkan. Sesuatu yang terlihat ringan bagi satu orang bisa jadi terasa menyesakkan bagi orang lain. Di titik inilah mencari bantuan psikologis seharusnya dilihat secara berbeda. Mencari bantuan bukan tanda menyerah ataupun lemah. Karena ada hal-hal yang tidak selesai hanya dengan dibiarkan begitu saja.

Terkadang beban juga membutuhkan dialog, perspektif lain, atau struktur yang membantu merapikan isi kepala. Pada konteks ini bukan soal berbagi beban, tetapi soal memberi bantuan untuk mengurai sesuatu yang selama ini terlalu acak untuk diproses sendiri.

Kemampuan mencari bantuan psikologis secara adaptif merupakan bagian penting dari cara seseorang bertahan secara sehat. Pendampingan dan pemulihan bisa hadir dalam berbagai bentuk. Bisa melalui percakapan yang aman dengan orang terpercaya, merilis masalah dengan cara menulis, mencari dukungan sosial, atau pendampingan psikologis profesional dari psikolog.

Banyak orang masih beranggapan bahwa pergi ke psikolog sebagai sesuatu yang “wah” dan hanya untuk masalah yang dianggap berat. Ada juga yang berpikir bahwa ke psikolog hanya soal curhat, yang bisa dilakukan ke siapa saja. Sehingga terdapat anggapan bahwa biayanya terlalu besar untuk sebuah “cerita.”

Padahal yang terjadi di ruang konseling tidak sesederhana itu. “Bercerita” dalam konteks konseling memberikan sesuatu yang lebih dalam yaitu membantu memetakan struktur berpikir, mengenali pola masalah, dan membangun mekanisme koping yang lebih sehat.

Tidak semua ruang cerita adalah ruang konseling. Menjadi psikolog tentu tidak sesederhana membuka ruang dan mengundang orang dengan kalimat “ayo, konseling sama aku.” Karena di balik satu sesi konseling, ada proses pendidikan yang panjang dan kode etik yang ketat.

Seorang psikolog adalah profesional yang telah menempuh pendidikan sarjana psikologi, lalu melanjutkan pendidikan profesi psikolog dengan seleksi yang ketat, praktik berjam-jam, supervisi, dan tanggung jawab etik yang besar.

Psikolog bukan sekadar pendengar yang baik, melainkan ahli yang memahami manusia secara ilmiah dan objektif. Ia bertugas membantu individu tanpa menghakimi dan mengarahkan mereka tanpa menyesatkan.

Maka, mencari bantuan psikologis perlu dipahami sebagai langkah yang wajar seperti halnya pergi ke dokter saat fisik sedang sakit.(*)

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Reklamasi sebagai Kunci Resiliensi

Mahasiswa Jawa dan Cara Inklusif Berteman ala “Jawakarta”

Manusia di Bawah Rezim Perut Lapar

Tragedi Al-Khoziny: Bukan Takdir, tapi Alarm Sistem Pesantren Kita

Dari Rob sampai COP: Dilema-Dilema Keadilan Iklim

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Krisis Identitas Seorang Santri Ketika Menjadi Mahasiswa Baru
Next Article Pemprov Mulai Ngitung “Luka” Pascabanjir

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Keseruan Meet & Greet Densus di SMAN 6 Semarang, Selasa (10/2/2026). Acara seperti ini menjadi langkah penting untuk sosialisasi pencegahan intoleransi dan radikalisme anak-anak di Jawa Tengah.

Bank BJB, Telkomsel, Larissa, hingga Uncle Bao Dukung Bacaaja ‘Meet & Greet Densus’ di SMAN 6 Semarang

Bukan Cuma Kolesterol: CKG Kini Urus Scabies sampai Kusta

Siswa SMAN 6 Semarang, Khansareta Prayunita menjelaskan kesannya ikut Meet & Greet Densus di sekolahnya, Selasa (10/2/2026). (bae)

Pengakuan Siswa SMAN 6 Semarang: Auto Melek Isu Radikalisme Usai Meet & Greet Densus

Mantan Bupati Purworejo, Agus Bastian (batik hijau) dan tiga orang lain bersaksi di sidang korupsi BPR Purworejo, Selasa (10/2/2026). (bae)

Mantan Bupati Purworejo Dicecar Soal BPR saat Jadi Saksi Sidang Korupsi di Semarang

COO bacaaja.co, Puji Utami, menyebut media punya kewajib mengedukasi pelajar agar tak terpapar radikalisme.

COO Bacaaja: Media Berperan Edukasi Pelajar, Cegah Mereka Tak Terpapar Terorisme

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Efek Buruk Candaan Negatif yang Dinormalisasikan

Januari 12, 2026
Gus Yasin dan Romy Rohmahurmuzi memberikan keterengan kepada awak media seusai Muktamar PPP X di Ancol Jakarta. Seperti Muktamar sebelumnya, Muktamar PPP tahun ini juga diwarnahi dengan perpecahan antar kader. Hasilnya, dua kubu salim klaim kemenangan melalui jalur aklamasi partai. Baik kubu incumben Mardionao maupun kubu Agus Suparmanto. Foto: dok.
Opini

Mardiono vs Agus Suparmanto, Drama Faksi PPP yang Tak Pernah Usai

September 28, 2025
Opini

Menerima Kesedihan dengan Tangan Terbuka

November 28, 2025
Opini

Semasa Kecil di Sawah

November 25, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Meluruskan Pandangan Keliru terkait Konseling ke Psikolog
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?