Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: KUHAP Baru Resmi Berlaku, Mantan Jaksa Agung: Cermin Negara Otoriter & Darurat Hukum
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Hukum

KUHAP Baru Resmi Berlaku, Mantan Jaksa Agung: Cermin Negara Otoriter & Darurat Hukum

R. Izra
Last updated: Januari 2, 2026 11:23 pm
By R. Izra
3 Min Read
Share
Mahasiswa Semarang turun jalan tolak KUHAP baru yang dinilai menginjak-injak HAM, Jumat (21/11).
Mahasiswa Semarang turun jalan tolak KUHAP baru yang dinilai menginjak-injak HAM, Jumat (21/11).
SHARE

BACAAJA, JAKARTA – Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) dan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang baru mulai berlaku Jumat (2/1/2026).

Mantan Jaksa Agung Marzuki Darusman blak-blakan bilang, perlindungan hukum buat warga negara Indonesia lagi di ujung tanduk.

Menurut Marzuki, KUHAP yang resmi diundangkan sejak 17 Desember 2025 itu justru membuka jalan ke arah kekuasaan yang makin sentralistik dan otoriter.

Bacaaja: KUHAP Baru, Penyidik Bakal Tambah Sewenang-wenang
Bacaaja: KUHAP Baru Diketok, Akademisi Waswas: Ancaman Intelektual dan Peneliti Kritis

Ia menyebut, wajah hukum Indonesia hari ini semakin jauh dari semangat demokrasi.

“Kita sekarang sudah masuk dalam sistem politik yang bisa disebut otoritarian. Sumber masalahnya jelas: kekuasaan politik yang terlalu terpusat,” kata Marzuki dalam konferensi pers daring bertajuk Deklarasi Indonesia Darurat Hukum, Kamis (1/1/2026).

Masalah utama yang disorot Marzuki ada di kewenangan aparat penegak hukum, terutama polisi.

KUHAP baru dinilai memberi ruang terlalu luas bagi penyidik untuk bertindak, tanpa pengawasan yang cukup ketat.

Akibatnya, potensi kriminalisasi warga makin terbuka lebar.

“Kalau kekuasaan diberikan tanpa batas, kita bukan cuma masuk ke sistem otoriter, tapi sudah bergerak ke arah yang represif,” tegasnya.

Marzuki bahkan menyebut kondisi ini sebagai kemerosotan hukum yang nyaris tak bisa dibendung.

Melenceng dari prinsip keadilan

Buat Marzuki, pembentukan KUHAP dan KUHP baru bukan sekadar soal teknis hukum.

Ia menyebutnya sebagai operasi politik untuk memperkuat kekuasaan negara, dengan cara “mempersenjatai” aparat lewat kewenangan superbesar.

“Ini bukan lagi soal salah kelola atau inkompetensi. Ini wajah menakutkan dari otoritarianisme: hukum dijadikan alat, aparat diberi kelonggaran seluas-luasnya,” ujarnya.

Sebagai sosok yang ikut terlibat dalam sejarah lahirnya KUHAP 1981 dan pernah menjadi Jaksa Agung di era transisi Reformasi, Marzuki merasa paham betul bedanya hukum dalam sistem demokratis dan sistem otoriter.

Menurutnya, KUHAP baru jelas melenceng jauh dari prinsip keadilan.

“KUHAP ini tidak dibangun atas asas keadilan, tapi ketertiban dan penegakan polisionil. Dari semangat hukumnya saja, ini sudah sulit diperbaiki,” katanya.

Yang bikin situasi makin rawan, KUHAP baru mulai berlaku tanpa aturan turunan yang jelas. Kondisi ini, kata Marzuki, bakal memicu kekacauan dalam penanganan perkara hukum dan menciptakan ketidakpastian serius.

“Mulai hari ini, kita menghadapi kondisi darurat hukum. Bahkan bisa jadi malapetaka konstitusional, karena benteng terakhir yang melindungi warga dari kesewenang-wenangan resmi runtuh,” ucapnya.

Karena itu, Marzuki mendorong masyarakat sipil untuk tidak diam. Ia mengajak publik membangun gerakan kolektif—baik lewat jalur politik maupun hukum—untuk melawan dampak buruk KUHAP baru.

“Kalau perlu, ajukan uji materi ke Mahkamah Konstitusi. Ini bertentangan dengan UUD 1945 dan prinsip negara hukum,” pungkasnya.

Singkatnya, di hari pertama KUHAP baru berlaku, alarm bahaya sudah dinyalakan. Tinggal pertanyaannya: negara mau dengar atau justru tutup telinga? (*)

You Might Also Like

Mohammad Saleh Imbau Pemudik Utamakan Keselamatan

Tembok Rossocrociati Ditantang Messi, Mampukah Bikin Kejutan?

Polisi Buru Narkoba hingga Septic Tank

RUU KUHAP Baru: Penegakan Hukum Lebih Manusiawi, Hak Tersangka dan Korban Diperkuat!

MTQ Datang, Festival Kota Lama Diperpanjang

TAGGED:headlinekuhapkuhap barukuhpnegara otoriter
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Duel Sesama Pejuang: PSIS vs Persipal, Siapa Kabur dari Zona Merah?
Next Article Sawah Ngebut, Lumbung Aman: Jateng 2025 Tembus Target

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

BARONGSAI - Sejumlah pemain barongsai mengenakan baju hijau, tengah memegang kepala barongsai dan memegang dupa, Jumat (25/9/2026). Mereka baru saja mengikuti atraksi untuk meramaikan gelaran Mooncake Festival di Kawasan Pecinan Semarang. (dul)

Barongsai Turun ke Jalan, Rangkaian Mooncake Festival Bikin Warga Berkerumun

Begini Bentuk Hisab Amal di Hari Kiamat

Kemenkum Jateng Dorong Pelaku Usaha Tak Asal Pilih Merek

Mooncake Festival 2026 Hidupkan Kawasan Pecinan Semarang

Sekda Banyumas Mundur Usai Diperiksa KPK

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Fokus

Tanggul Silandak Kembali Jebol Diterjang Banjir

Mei 17, 2026
Fokus

Kafilah Jateng Siap Berlaga di MTQ Nasional 2026

September 5, 2026
Ilustrasi Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah.
Politik

Jangan Lupakan Sejarah! Dulu Pilkada lewat DPRD Dihapus karena Politik Uang

Januari 19, 2026
Pendidikan

SPMB Belum Mulai, Ombudsman Sudah Cium “Bau” Ribetnya

Mei 15, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: KUHAP Baru Resmi Berlaku, Mantan Jaksa Agung: Cermin Negara Otoriter & Darurat Hukum
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?