BACAAJA, SEMARANG- Pemprov Jateng lagi serius ngebut soal koperasi. Jumlahnya juga nggak main-main, lebih dari 19 ribu koperasi aktif dengan jutaan anggota, plus aset yang sudah tembus puluhan triliun.
Gubernur Ahmad Luthfi bilang, koperasi ke depan harus jadi “basecamp” buat ekonomi rakyat. Nggak cuma jadi tempat pinjam duit, tapi juga jadi pendamping UMKM biar bisa naik kelas.
“Dengan pengurus baru ini, koperasi di Jateng harus bisa jadi cikal bakal kemakmuran masyarakat,” kata Luthfi saat pengukuhan Dekopinwil di Wisma Perdamaian, Selasa (14/4/2026).
Baca juga: 5.500 Koperasi Baru di Jateng, Jadi Motor Ekonomi atau Sekadar Bangunan Estetik?
Data dari Dinas Koperasi dan UKM menunjukkan, total aset koperasi di Jateng sudah menyentuh Rp60,13 triliun, dengan volume usaha Rp43,78 triliun. Anggota koperasi pun mencapai lebih dari 6,8 juta orang, angka yang bikin sektor ini nggak bisa lagi dianggap “kelas pinggiran”.
Menariknya, sekarang lagi didorong juga pengembangan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Dari total lebih dari 8.500 unit, ribuan sudah aktif, bahkan sebagian sudah punya gerai fisik sendiri.
Distribusi Logistik
Luthfi berharap koperasi desa ini bisa jadi pusat distribusi logistik sekaligus “lumbung pangan” lokal. Artinya, desa nggak cuma jadi pasar, tapi juga jadi pemain utama dalam rantai ekonomi.
Sementara itu, Menteri Koperasi Ferry Juliantono menegaskan, gerakan koperasi harus seirama dari pusat sampai daerah. Fokusnya sekarang bukan cuma berdiri, tapi benar-benar jalan dan terasa dampaknya.
Menurut Ferry, koperasi juga harus mulai masuk ke sektor produksi kebutuhan sehari-hari. Dari sabun, sampo, detergen, sampai sambal, semua bisa diproduksi sendiri oleh koperasi. “Ini bisa menghidupkan industri kecil dan mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah,” ujarnya.
Baca juga: 71 Kopdes Merah Putih di Boyolali Dapat “Senjata Baru”: Pikap 4×4 Buat Gas Ekonomi Desa
Selain itu, produk UMKM lokal juga bakal diprioritaskan masuk ke gerai koperasi desa. Jadi, ekosistemnya muter di situ-situ saja, dari warga, oleh warga, untuk warga.
Kalau dulu koperasi identik sama buku catatan dan rapat tahunan yang sepi, sekarang targetnya jadi pabrik ekonomi rakyat. Tinggal satu pertanyaan: siap nggak kita ubah mindset, atau koperasi lagi-lagi cuma ramai pas wacana? (tebe)

