BACAAJA, SEMARANG- PSIS Semarang akhirnya buka kartu soal sosok perempuan yang resmi mengambil alih mayoritas saham klub. Teka-teki yang bikin warganet penasaran itu terjawab lewat pengumuman langsung dari akun resmi klub: Datu Nova Fatmawati kini menjadi nyonya baru Mahesa Jenar.
“Ibu Datu Nova Fatmawati resmi mengakuisisi PSIS Semarang,” tulis PSIS. Ia bahkan langsung menyambangi Stadion Jatidiri untuk ngecek persiapan tim jelang laga. Dilaporkan, Datu mengakuisisi 74,2 persen saham yang sebelumnya milik Yoyok Sukawi.
Alasannya? Bukan soal bisnis semata, tapi karena cinta lama. Bukan pada seseorang, melainkan pada klub yang dulu jadi tontonan rutin almarhum sang ayah. Datu, yang asli Semarang, tumbuh dengan ingatan ditinggal ayahnya menonton PSIS setiap liburan.
“Ayah saya sudah meninggal, jadi dari situlah saya ingin meneruskan cinta ayah saya terhadap PSIS,” ucapnya. Ia mengakui kondisi PSIS sekarang lagi “di dasar klasemen”. Karena itu, langkah pertamanya simpel tapi vital: benahi tim dari pemain, pelatih, sampai manajemen.
Dari kubu lama, Joni Kurnianto selaku juru bicara PT Mahesa Jenar Semarang (MJS) mengaku lega akuisisi kali ini berjalan lancar. Chemistry mereka cocok, komunikasi klop, dan Joni yakin Datu paham sepak bola. Ia juga minta maaf atas drama akuisisi sebelumnya yang batal karena minus kecocokan.

Identitas Pemilik Baru
Yang bikin cerita ini makin menarik adalah identitas Datu: selain pernah jadi manajer Persela, ia juga istri CEO Persela Lamongan, Fariz Julinar Maurisal. Artinya, duel PSIS vs Persela ke depan bukan cuma soal gengsi klub, tapi juga… derby keluarga kecil-kecilan.
Performa PSIS sendiri memang lagi memprihatinkan. Di Pegadaian Championship 2025/2026, tim kebanggan warga Semarang ini belum pernah menang dari 10 pertandingan. Mereka cuma mengemas dua poin, baru bikin empat gol, tapi udah kebobolan 25 kali-catatan terburuk sepanjang kasta kedua.
Banyak yang berharap kehadiran Datu bisa jadi turning point. Setidaknya, ada energi baru yang masuk, bukan hanya dari kantong investor, tapi juga dari seseorang yang bener-bener punya keterikatan emosional dengan klub.
Dengan performa PSIS yang lagi turun-turun amat, mungkin memang dibutuhkan “sentuhan tangan perempuan”, apalagi yang bisa multitasking antara mengurus klub sendiri dan ngomporin suami yang CEO klub rival. (tebe)


