BACAAJA, SEMARANG- Program Keluarga Berencana (KB) di Kota Semarang lagi-lagi jadi sorotan karena terus naik daun, terutama dari sisi partisipasi pria. Pemkot Semarang lewat Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Disdalduk KB) gerak cepat dengan segala macam inovasi, mulai dari pelayanan jemput bola sampai kampanye vasektomi yang pelan-pelan berubah dari “hal tabu” jadi “ya udah sih, kenapa nggak?”.
Kepala Disdalduk KB Kota Semarang, Lilik Farida bilang, capaian KB di kota ini lagi bagus-bagusnya. Target partisipasi 77 persen tercapai, bahkan metode kontrasepsi jangka panjang makin ngehits.
“Sekarang fokus kami itu KB pasca salin. Efeknya signifikan banget buat nurunin risiko stunting, karena jarak kelahiran anak lebih ideal,” ujar Lilik, Senin (17/11). Nggak cuma itu, generasi muda Semarang juga mulai mikir panjang.
Tren nikah muda makin turun seiring makin banyak yang nguber pendidikan dan karier. “Pernikahan di bawah usia 19 tahun terus menurun. Ini sinyal bagus buat masa depan,” tambahnya.
Biar makin dekat sama warga, layanan KB digelar di 16 kecamatan, bisa sampai 20 kali sebulan. Kadang dua kali, kadang sekali, sesuai kebutuhan wilayah. Dari MUYAN KB sampai kerja sama dengan rumah sakit, semuanya dibuka seluas mungkin.
Nah, yang bikin heboh: KB pria juga naik peminat. Pada 2024 baru 46 persen, tapi tahun 2025 udah lebih dari 100 pria ikut vasektomi. “Mereka lebih nyaman kalau tindakan dilakukan dokter spesialis di rumah sakit,” jelas Lilik.
Layanan Antar Jemput
Selain vasektomi, metode IUD, implan, dan MOW juga tetap favorit. Untuk memudahkan peserta, disediakan layanan antar-jemput. “Kalau nggak ada kendaraan, kami jemput. Selesai tindakan, sore udah bisa pulang,” katanya.
Yang bikin program ini makin “worth it” di mata warga: peserta vasektomi dapat uang pengganti Rp1 juta dari Pemkot Semarang. Mayoritas peserta adalah pria umur 33-an, sudah punya minimal dua anak dengan anak bungsu berusia lima tahun. Kalau istrinya punya kondisi medis tertentu, vasektomi bisa dilakukan lebih awal.
Lilik berharap kesadaran masyarakat soal perencanaan keluarga makin tinggi. Bukan cuma soal jumlah anak, tapi kualitas hidup dan kesehatan generasi selanjutnya. “Dengan KB terencana, kesehatan ibu dan anak terjaga, dan angka stunting bisa ditekan,” tandasnya.
Jadi, di Semarang, “jadi bapak bijak” sekarang bukan cuma soal nabung pendidikan, tapi juga berani bilang: “cukup segini anaknya, sisanya tinggal fokus hidup.” Kalau dapat sejuta pula… ya siapa yang mikir dua kali? (tebe)

