Fenomena El Nino sendiri bukan hal baru buat Indonesia. Saat suhu laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur mengalami kenaikan, dampaknya bisa terasa sampai Asia Tenggara. Curah hujan menurun, musim kemarau jadi lebih panjang, dan kondisi udara berubah jauh lebih kering dibanding biasanya. Situasi seperti ini sering bikin banyak daerah waswas karena efeknya bisa merembet ke pertanian, sumber air, sampai kebakaran hutan.
Menurut penjelasan dari World Health Organization atau WHO, El Nino termasuk bagian dari fenomena ENSO atau El Nino Southern Oscillation. Fenomena ini muncul secara alami dan melibatkan perubahan suhu laut serta atmosfer di kawasan Pasifik khatulistiwa. Meski terdengar ilmiah dan rumit, dampaknya sangat nyata buat kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.
Wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara disebut jadi kawasan yang paling terdampak penurunan curah hujan saat El Nino terjadi. Indonesia termasuk salah satu negara yang paling sering merasakan efek tersebut. Karena itu, berbagai lembaga mulai bersiap lebih awal agar dampaknya tidak berkembang jadi bencana besar seperti kebakaran hutan dan lahan yang sulit dikendalikan.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika atau BMKG sudah mulai memberi sinyal kewaspadaan sejak awal tahun. Mereka melihat adanya kecenderungan perubahan kondisi iklim global menuju fase El Nino dengan intensitas lemah hingga moderat. Meski belum mencapai level ekstrem, peluang kemunculannya disebut cukup tinggi dan bisa memengaruhi musim kemarau tahun ini.
Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa hasil analisis akhir Maret 2026 memperlihatkan peluang transisi menuju El Nino berada di kisaran 50 hingga 80 persen. Situasi itu diperkirakan membuat musim kemarau datang lebih cepat dan berlangsung lebih lama dibanding kondisi normal. Artinya, daerah-daerah yang biasa mulai panas pada pertengahan tahun bisa mengalami kekeringan lebih dini.
Kondisi tersebut langsung membuat pemerintah pusat dan daerah mulai memperkuat koordinasi. Ancaman paling besar yang jadi perhatian saat ini adalah meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan atau karhutla. Saat tanah dan vegetasi mulai mengering, api kecil bisa dengan cepat berubah jadi kebakaran luas yang sulit dipadamkan.
Wakapolri Dedi Prasetyo ikut mengingatkan pentingnya kerja sama lintas sektor menghadapi ancaman tersebut. Menurutnya, penanganan karhutla tidak bisa hanya mengandalkan aparat saja. Semua unsur mulai dari dinas daerah, relawan, akademisi sampai masyarakat sekitar perlu dilibatkan agar penanganan di lapangan lebih cepat dan efektif.
Suasana waspada juga mulai terasa di beberapa wilayah yang selama ini rawan karhutla seperti Riau dan Kalimantan Barat. Dua daerah itu menjadi lokasi prioritas dalam berbagai langkah antisipasi yang dilakukan pemerintah. Fokusnya bukan hanya memadamkan api ketika muncul, tetapi mencegah kebakaran sebelum benar-benar terjadi.
Salah satu strategi yang mulai dioptimalkan adalah Operasi Modifikasi Cuaca atau OMC. Langkah ini dilakukan dengan memanfaatkan teknologi untuk membantu meningkatkan peluang hujan di wilayah tertentu. Operasi tersebut dianggap penting terutama untuk menjaga kelembapan lahan gambut yang sangat mudah terbakar saat musim kemarau panjang datang.
Kementerian Kehutanan bersama BMKG kini aktif memantau kondisi tinggi muka air tanah di kawasan rawan kebakaran. Saat kondisi air tanah mulai turun drastis, langkah pembasahan kembali atau re-wetting segera dilakukan. Cara ini dinilai lebih efektif dibanding menunggu api muncul lalu melakukan pemadaman besar-besaran.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan bahwa pencegahan jauh lebih penting daripada penanganan setelah kebakaran terjadi. Pernyataan itu menggambarkan bagaimana pemerintah mulai mengubah pendekatan dari yang sebelumnya cenderung reaktif menjadi lebih preventif. Fokus utamanya adalah menjaga cadangan air tanah tetap stabil agar lahan tidak terlalu kering.
BMKG juga menilai bahwa tantangan tahun ini bisa lebih berat dibanding musim kemarau biasa. Prediksi menunjukkan kemarau datang lebih cepat namun berakhir lebih lambat. Jika kondisi El Nino terus menguat, dampaknya bisa terasa sampai akhir tahun dan memengaruhi banyak sektor secara bersamaan.
Bukan cuma urusan hutan, sektor pertanian juga mulai bersiap menghadapi kemungkinan berkurangnya curah hujan. Petani di sejumlah daerah diperkirakan harus menyesuaikan pola tanam agar tidak mengalami gagal panen akibat kekurangan air. Situasi ini biasanya jadi perhatian serius karena berkaitan langsung dengan ketahanan pangan nasional.
Di sisi lain, ancaman kekeringan juga bisa memicu persoalan baru di kawasan perkotaan. Persediaan air bersih berpotensi menurun jika debit sungai dan waduk ikut menyusut. Kondisi seperti ini pernah terjadi di beberapa daerah saat El Nino kuat melanda Indonesia pada tahun-tahun sebelumnya.
Karena itu, BMKG kini memperkuat sistem pemantauan iklim nasional dengan memasang berbagai alat operasional utama dan sensor meteorologi tambahan di kawasan hutan. Penambahan alat ini bertujuan agar data cuaca dan iklim bisa dipantau lebih akurat secara real time.
Langkah tersebut dianggap penting karena perubahan cuaca saat ini sering bergerak sangat cepat. Data yang lebih detail diharapkan bisa membantu pemerintah mengambil keputusan lebih cepat sebelum situasi berubah menjadi darurat. Dengan pemantauan yang lebih presisi, potensi kebakaran maupun kekeringan bisa diprediksi lebih awal.
Fenomena El Nino memang tidak selalu berujung bencana besar, tetapi pengalaman sebelumnya membuat banyak pihak memilih tidak meremehkan ancaman tersebut. Saat musim kering memanjang, efek domino bisa muncul di banyak sektor sekaligus, mulai dari kesehatan, lingkungan, ekonomi, hingga aktivitas masyarakat sehari-hari.
Di tengah situasi itu, masyarakat juga mulai diingatkan untuk lebih hemat menggunakan air dan tidak melakukan aktivitas yang berisiko memicu kebakaran. Edukasi soal bahaya membakar lahan secara sembarangan kembali digencarkan di berbagai daerah rawan karhutla.
Beberapa wilayah bahkan sudah mulai melakukan simulasi penanganan kebakaran hutan sejak awal musim kemarau. Langkah ini dilakukan agar koordinasi antarinstansi lebih siap ketika kondisi darurat benar-benar terjadi. Pemerintah tampaknya tidak ingin kecolongan seperti pada kejadian-kejadian besar sebelumnya.
Meski El Nino 2026 masih berada pada tahap prediksi, tanda-tanda kewaspadaan sudah terlihat jelas dari sekarang. Pemerintah, aparat, hingga relawan mulai bergerak lebih cepat demi mengurangi dampak yang mungkin muncul beberapa bulan ke depan.
Kini semua mata tertuju pada perkembangan cuaca global dalam beberapa bulan mendatang. Jika transisi menuju El Nino terus menguat, Indonesia kemungkinan akan menghadapi musim kemarau yang lebih panjang, lebih panas, dan jauh lebih menantang dibanding tahun-tahun biasa. (*)

