Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Joki UTBK Unesa Bikin Geleng Kepala, Santai Banget
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Hukum

Joki UTBK Unesa Bikin Geleng Kepala, Santai Banget

Dari informasi yang dihimpun, joki tersebut berusia sekitar 23 hingga 24 tahun. Usianya masih muda, tapi kemampuan akademiknya disebut di atas rata-rata. Ini yang bikin pihak kampus makin heran, karena pelaku bukan sekadar coba-coba, melainkan terlihat seperti orang yang sudah terbiasa dengan tekanan dan sistem seleksi ketat seperti UTBK.

Nugroho P.
Last updated: April 23, 2026 11:44 am
By Nugroho P.
5 Min Read
Share
ilustrasi joko UTBK.
SHARE

BACAAJA, SURABAYA – Kasus perjokian UTBK-SNBT 2026 di Universitas Negeri Surabaya tiba-tiba jadi bahan obrolan panas, bukan cuma karena pelanggarannya, tapi juga karena sosok pelakunya yang jauh dari bayangan “joki amatiran”. Alih-alih terlihat panik atau gugup, pria muda yang diamankan justru tampil santai, bahkan terkesan seperti sudah sangat paham situasi yang dihadapinya.

Dari informasi yang dihimpun, joki tersebut berusia sekitar 23 hingga 24 tahun. Usianya masih muda, tapi kemampuan akademiknya disebut di atas rata-rata. Ini yang bikin pihak kampus makin heran, karena pelaku bukan sekadar coba-coba, melainkan terlihat seperti orang yang sudah terbiasa dengan tekanan dan sistem seleksi ketat seperti UTBK.

Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni Unesa, Martadi, terang-terangan mengaku terkejut dengan sikap pelaku. Selama proses pemeriksaan, tidak ada tanda-tanda kepanikan yang biasanya muncul dari orang yang tertangkap basah melakukan pelanggaran serius.

“Yang bersangkutan sangat tenang, tidak ada raut khawatir, tidak gemetar sama sekali. Ini menunjukkan mereka cukup profesional,” ujar Martadi saat memberikan keterangan, Rabu (22/4).

Hal yang bikin makin geleng kepala, ketenangan itu tetap bertahan bahkan setelah pelaku mengakui perbuatannya. Tidak ada perubahan ekspresi yang signifikan, seolah-olah situasi tersebut sudah ia prediksi sebelumnya.

“Setelah mengaku pun, dia tetap terlihat tenang,” lanjut Martadi, menggambarkan kondisi yang tidak biasa dalam kasus seperti ini.

Dari hasil pendalaman, terungkap juga bahwa pelaku sengaja tidak membawa identitas apa pun saat mengikuti ujian. Tidak ada KTP, tidak ada kartu mahasiswa, bahkan dokumen kecil sekalipun. Ini bukan kelalaian, tapi diduga bagian dari strategi yang sudah dirancang.

Menurut pihak kampus, langkah tersebut kemungkinan besar bertujuan untuk meminimalisir jejak yang bisa ditelusuri. Jika membawa identitas resmi, risiko terbongkar akan jauh lebih besar dan cepat.

“Mereka tidak dibekali KTP atau kartu identitas lain. Kalau sampai membawa kartu mahasiswa misalnya, itu bisa langsung terdeteksi asalnya,” jelas Martadi.

Meski pelaku mengaku bukan mahasiswa aktif, pernyataan itu justru memicu keraguan. Dengan kemampuan akademik yang dimiliki, pihak kampus menilai hampir mustahil jika ia hanya lulusan SMA tanpa pengalaman pendidikan lanjutan.

“Tidak logis kalau hanya lulusan SMA. Kemungkinan dia mahasiswa atau sudah sarjana, tapi memang tidak mau mengaku,” ungkapnya.

Lebih lanjut, dugaan adanya pelatihan khusus juga mencuat. Pelaku disebut mampu menghafal identitas peserta yang dijokinya secara detail, mulai dari nama lengkap hingga data keluarga. Ini menunjukkan ada sistem yang lebih besar di balik aksi tersebut.

“Dia dilatih menghafalkan nama, orang tua, dan data lainnya. Jadi, ketika ditanya, bisa menjawab dengan lancar,” kata Martadi lagi.

Namun, tidak semua pengakuan pelaku berjalan mulus. Dalam beberapa kesempatan, keterangannya justru berubah-ubah, terutama soal latar belakang pribadi dan motif melakukan perjokian.

Ia sempat mengaku berasal dari keluarga kurang mampu, seolah ingin menggambarkan bahwa tindakannya didorong oleh kebutuhan ekonomi. Tapi pernyataan itu dianggap tidak konsisten dengan sikap dan kemampuan yang ditunjukkan.

“Pengakuannya berubah-ubah. Dia bilang tidak dibayar, tetapi itu sulit dipercaya. Tidak mungkin orang pintar mengambil risiko tanpa imbalan,” tegas Martadi.

Kasus ini akhirnya membuka mata banyak pihak bahwa praktik perjokian UTBK bukan lagi sekadar aksi nekat individu, tapi diduga sudah berkembang menjadi sistem yang rapi dan terorganisir. Ada pola, ada strategi, bahkan ada indikasi pelatihan khusus.

Dengan terungkapnya kasus ini, kampus dan panitia seleksi diharapkan bisa memperketat sistem pengawasan. Sebab kalau pelakunya saja sudah se-“profesional” ini, bukan tidak mungkin masih ada jaringan lain yang belum terdeteksi.

Di sisi lain, publik juga mulai mempertanyakan bagaimana sistem seleksi bisa ditembus dengan cara seperti ini. Apakah celahnya terlalu besar, atau justru pelakunya memang berada satu langkah di depan?

Yang jelas, kasus ini bukan cuma soal pelanggaran aturan, tapi juga soal integritas pendidikan. Ketika orang yang seharusnya lolos karena kemampuan digantikan oleh joki, maka keadilan dalam seleksi jadi dipertanyakan.

Cerita dari Surabaya ini seolah jadi pengingat keras bahwa dunia pendidikan juga tidak kebal dari praktik curang yang semakin canggih. Dan kalau tidak segera dibenahi, kepercayaan publik bisa ikut tergerus pelan-pelan. (*)

You Might Also Like

Momen Haru Wisuda MK Berubah Tegang, Anwar Usman “Sang Paman” Tumbang

Pelarian Youtuber Resbob Berakhir, Penghina Suku Sunda Ditangkap di Semarang

Cekcok Lampu Sein yang Berujung Nyawa Melayang Tragis!

Kasus Sudewo: KPK Cium Ada “Main Belakang” di Jalur Kereta

Keluarga Eks-Sekda Klaten Menangis di Ruang Sidang, Jaka Sawaldi Divonis 2 Tahun Penjara

TAGGED:Joki UTBKsurByUTBK
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Ilustrasi perang modern dengan alutsista canggih. Fakta Mengejutkan! Pakar Rusia Bilang Perang Dunia III Sudah Meledak, tapi Gak Disadari
Next Article Gedung Koperasi Desa Sudah Jadi, Lah Isinya Masih Misteri Banget

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Dokter IGD Ini Viral, Cara Ngomongnya Bikin Adem Banget

Gedung Koperasi Desa Sudah Jadi, Lah Isinya Masih Misteri Banget

Joki UTBK Unesa Bikin Geleng Kepala, Santai Banget

Ilustrasi perang modern dengan alutsista canggih.

Fakta Mengejutkan! Pakar Rusia Bilang Perang Dunia III Sudah Meledak, tapi Gak Disadari

Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, Samsul Bahri Siregar. (bae)

Pemkot Klaim Anak Muda Semarang Mulai Lirik Budaya Lokal di Tengah Gempuran K-Pop, Benarkah?

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Hukum

Tumpukan Uang Kejagung Dipamerkan, Kerja Nyata atau Pencitraan?

Desember 26, 2025
Arnendo (menunduk) didampingi kuasa hukumnya saat berada di kantor polisi menanyakan tindak lanjut laporan kasus penganiayaan. (ist)
Hukum

Mahasiswa Undip Korban Pengeroyokan Diduga Pelaku Pelecehan Seksual, Begini Sikap Kampus

Maret 7, 2026
Dua terdakwa kasus penyekapan intel dalam kasus aksi May Day, jalani sidang di PN Semarang. (bae)
Hukum

Pengakuan Mahasiswa Undip Penyekap Intel: Kami Niatnya Mengamankan dari Amuk Massa

September 15, 2025
Hukum

Bima Arya Sentil Bupati Pekalongan: Ngaku Tak Paham Hukum Kok Mau Jadi Kepala Daerah?

Maret 8, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Joki UTBK Unesa Bikin Geleng Kepala, Santai Banget
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?