BACAAJA, SEMARANG- Penguatan karakter tidak cukup hanya mengandalkan pengetahuan. Adab, akhlak, dan penghormatan terhadap ilmu juga menjadi bekal penting dalam kehidupan bermasyarakat, termasuk bagi aparatur negara.
Pesan itu mengemuka dalam kegiatan Ngaji Bandongan Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim yang mengawali peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 tingkat Provinsi Jateng .
Puluhan aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemprov Jateng, akademisi, serta aktivis organisasi kemasyarakatan mengikuti pengajian di Wisma Perdamaian, Semarang, Senin (19/10/2026). Kajian kitab karya KH Muhammad Hasyim Asy’ari tersebut dibimbing Pengasuh Pondok Pesantren Al-Itqon, Kota Semarang, KH Ubaidullah Shodaqoh.
Wagub Jateng, Taj Yasin Maimoen mengatakan, ngaji bandongan merupakan tradisi pesantren yang terbuka bagi masyarakat umum. Melalui metode ini, peserta dapat belajar langsung dari ulama sekaligus memperdalam pemahaman keagamaan.
Baca juga: Sampai Kapan Saya Terus Menjadi Santri?
Menurut Gus Yasin, sapaan akrabnya, kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim relevan dipelajari di tengah beragam persoalan sosial. Kitab tersebut mengajarkan pentingnya adab dalam hubungan antara guru dan murid, sekaligus nilai-nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim yang berjumlah 110 halaman tidak mungkin diselesaikan pada hari ini saja. Maka memang ilmu itu harus berkesinambungan,” ujarnya.
Ia berharap, pengajian tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial pembuka Hari Santri. Kajian dapat dilanjutkan di masjid milik Pemprov Jateng dengan melibatkan takmir masjid dan pihak terkait sehingga proses pembelajaran berlangsung lebih mendalam.
Hormati Ulama
Gus Yasin juga menekankan pentingnya menghormati ulama dan menghargai ilmu pengetahuan. Ia berharap kegiatan tersebut menjadi ruang pembinaan spiritual bagi ASN dan masyarakat, sekaligus memperkuat komitmen aparatur dalam memberikan pelayanan terbaik kepada publik.
Dalam metode bandongan, guru membacakan kitab, menerjemahkan atau mengartikan teks, kemudian menjelaskan kandungannya kepada para peserta. Tradisi ini menjadi salah satu metode pembelajaran yang telah lama berkembang di lingkungan pesantren.
Pemprov Jateng menggelar rangkaian peringatan HSN 2026 pada 15-22 Oktober. Sejumlah agenda melibatkan pondok pesantren, satuan pendidikan, dan masyarakat di Kabupaten Pemalang serta Kabupaten Tegal.
Di Pemalang, kegiatan antara lain berupa ro’an atau kerja bakti membersihkan lingkungan pondok pesantren. Program Santri dan Pesantren Sehat juga disiapkan melalui Cek Kesehatan Gratis, layanan Dokter Spesialis Keliling (Speling), serta edukasi pola hidup bersih dan sehat.
Baca juga: 824 Santri Turun Gelanggang di Porsadin VIII Jateng
Selain itu, gerakan literasi dan budaya membaca Alquran digelar selama sepekan di satuan pendidikan formal. Program tersebut melibatkan siswa SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/SMK/MA di Jateng.
Puncak peringatan HSN tingkat Pemprov Jateng dijadwalkan berlangsung di Kota Tegal pada 22 Oktober 2026. Agenda tersebut mencakup sarasehan santri, Jateng Bersholawat, dan upacara peringatan Hari Santri Nasional.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, peringatan Hari Santri diharapkan tidak sekadar menjadi agenda tahunan, tetapi juga momentum untuk merawat tradisi keilmuan pesantren dan menerapkan nilai-nilai adab dalam kehidupan sehari-hari. (tebe)

