BACAAJA, SEMARANG – Banyak ibu hamil mengira gusi berdarah hanyalah perubahan biasa selama kehamilan. Padahal, jika terus dibiarkan, kondisi ini bisa berdampak pada kesehatan ibu sekaligus perkembangan janin.
Perubahan hormon selama masa kehamilan memang membuat tubuh mengalami banyak penyesuaian. Salah satu yang paling sering terjadi adalah gusi menjadi lebih sensitif, mudah bengkak, dan gampang mengeluarkan darah.
Dokter gigi Sandip Sachar menjelaskan, keluhan ini paling sering muncul saat memasuki trimester kedua hingga ketiga. Risiko juga lebih besar pada ibu yang sebelumnya sudah memiliki riwayat radang gusi.
Lonjakan hormon progesteron dan estrogen membuat jaringan gusi bereaksi lebih kuat terhadap plak maupun bakteri yang ada di dalam mulut. Kondisi tersebut dikenal sebagai radang gusi kehamilan.
Akibatnya, gusi bisa berdarah saat menyikat gigi atau ketika menggunakan benang gigi. Aliran darah yang meningkat selama kehamilan juga membuat jaringan gusi menjadi lebih rapuh.
Masalah ini ternyata cukup umum dialami ibu hamil. Ahli endokrinologi reproduksi Dan Nayot menyebut sekitar 40 hingga 75 persen ibu hamil mengalami gusi berdarah dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda.
Selain perubahan hormon, kondisi tersebut bisa semakin parah jika kebersihan mulut kurang terjaga. Konsumsi makanan manis berlebihan, kekurangan vitamin, hingga kebiasaan merokok juga ikut meningkatkan risikonya.
Jika darah hanya muncul sesekali setelah menyikat gigi, biasanya kondisi itu masih bisa diatasi dengan menjaga kebersihan mulut secara lebih disiplin.
Namun, bila pendarahan berlangsung terus-menerus, gusi terasa nyeri, atau pembengkakan semakin parah, ibu hamil sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter gigi.
Menurut para ahli, kondisi itu bisa menjadi tanda periodontitis atau infeksi gusi yang lebih serius. Dalam beberapa kasus, gusi berdarah juga dapat berkaitan dengan diabetes gestasional, kekurangan vitamin, hingga gangguan pembekuan darah.
Dokter kandungan Anne Antonellis mengingatkan bahwa pendarahan gusi yang berat juga perlu dipantau karena bisa berhubungan dengan rendahnya kadar trombosit atau bahkan menjadi salah satu tanda preeklamsia.
Tak hanya membuat ibu merasa tidak nyaman, infeksi gusi yang dibiarkan juga berpotensi memengaruhi kehamilan. Bakteri dari rongga mulut dapat masuk ke aliran darah dan memicu peradangan di bagian tubuh lain.
Sejumlah penelitian juga menunjukkan kesehatan mulut yang buruk selama kehamilan berkaitan dengan meningkatnya risiko kelahiran prematur, bayi lahir dengan berat badan rendah, hingga preeklamsia.
Karena itu, ibu hamil tetap dianjurkan rutin memeriksakan kesehatan gigi. Membersihkan karang gigi di dokter juga dinilai aman selama kehamilan dan justru membantu mengurangi penumpukan plak penyebab radang gusi.
Menjaga kebersihan gigi dan mulut selama masa kehamilan bukan sekadar soal senyum yang sehat. Kebiasaan sederhana ini juga menjadi salah satu langkah penting untuk membantu menjaga kesehatan ibu sekaligus memberikan perlindungan terbaik bagi calon buah hati. (*)

