BACAAJA, SEMARANG – Pernah memperhatikan ada orang yang lebih nyaman menulis, makan, atau melakukan hampir semua aktivitas menggunakan tangan kiri? Kebiasaan itu dikenal sebagai kidal, dan ternyata bukan sekadar perbedaan cara menggunakan tangan.
Di berbagai negara, termasuk Indonesia, mayoritas orang memang menggunakan tangan kanan. Karena itulah orang kidal sering dianggap berbeda, bahkan dulu tak sedikit yang diminta berlatih memakai tangan kanan sejak kecil.
Padahal, menjadi kidal bukan kebiasaan yang dibuat-buat. Para peneliti menyebut kecenderungan menggunakan tangan kiri berkaitan dengan perkembangan otak serta dipengaruhi faktor genetik.
Meski jumlahnya hanya sekitar 10 hingga 12 persen dari populasi dunia, orang kidal menyimpan banyak fakta menarik yang membuat mereka begitu unik.
Mulai dari dunia olahraga, kemampuan berpikir, hingga faktor keturunan, berikut beberapa fakta tentang orang kidal yang menarik untuk diketahui.
Sering Unggul di Berbagai Cabang Olahraga
Salah satu kelebihan yang paling sering dibahas adalah kemampuan orang kidal dalam olahraga tertentu. Beberapa penelitian menunjukkan mereka kerap memiliki keuntungan saat berhadapan langsung dengan lawan.
Cabang olahraga seperti tenis, tinju, anggar, baseball, hingga bulu tangkis sering memperlihatkan keunggulan atlet kidal. Gerakan yang berbeda membuat lawan lebih sulit menebak arah serangan.
Tak heran jika sejumlah atlet dunia yang sukses ternyata merupakan pengguna tangan kiri. Salah satu nama paling terkenal adalah Rafael Nadal yang meraih banyak gelar bergengsi di dunia tenis.
Keunggulan tersebut bukan berarti semua orang kidal otomatis menjadi atlet hebat, tetapi sudut serangan yang tidak biasa memang bisa menjadi nilai tambah dalam pertandingan.
Banyak Tokoh Besar Ternyata Kidal
Dunia juga mencatat banyak tokoh terkenal yang merupakan orang kidal. Mereka berasal dari berbagai bidang, mulai dari politik, seni, hingga ilmu pengetahuan.
Beberapa mantan presiden Amerika Serikat seperti Barack Obama, Bill Clinton, George H.W. Bush, Ronald Reagan, dan Gerald Ford diketahui lebih dominan menggunakan tangan kiri.
Di bidang seni dan sains, nama besar seperti Leonardo da Vinci dan Michelangelo juga dikenal sebagai orang kidal. Fakta ini sering memunculkan anggapan bahwa kidal identik dengan kreativitas tinggi.
Meski begitu, para peneliti mengingatkan bahwa kesuksesan seseorang tetap dipengaruhi banyak faktor seperti pendidikan, lingkungan, latihan, dan pengalaman.
Kemampuan Otak Masih Terus Diteliti
Ada anggapan bahwa orang kidal lebih cepat mengolah informasi karena aktivitas kedua belahan otaknya bekerja dengan pola yang sedikit berbeda dibanding mayoritas orang.
Sejumlah penelitian memang menemukan adanya perbedaan struktur dan konektivitas otak pada sebagian orang kidal. Namun hasil penelitian tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa semua orang kidal memiliki kemampuan yang sama.
Karena itu, klaim bahwa seluruh orang kidal pasti lebih pintar atau lebih kreatif masih belum dapat dibuktikan secara mutlak.
Yang jelas, setiap orang memiliki potensi berbeda, baik menggunakan tangan kanan maupun tangan kiri.
Benarkah IQ Orang Kidal Lebih Tinggi?
Muncul cukup banyak anggapan bahwa orang kidal memiliki IQ di atas rata-rata. Pendapat ini berasal dari beberapa penelitian yang menemukan cukup banyak orang kidal dalam kelompok berkemampuan intelektual tinggi.
Namun para ilmuwan menilai hasil tersebut tidak bisa dijadikan patokan untuk semua orang. Hingga kini belum ada bukti ilmiah yang menyatakan bahwa kidal secara otomatis membuat seseorang memiliki IQ lebih tinggi.
Kemampuan berpikir tetap dipengaruhi banyak hal, mulai dari faktor genetik, pola asuh, pendidikan, hingga lingkungan tempat seseorang tumbuh.
Karena itu, tangan yang digunakan bukanlah penentu utama kecerdasan seseorang.
Faktor Genetik Ikut Berperan
Kecenderungan menjadi kidal juga dipengaruhi oleh faktor keturunan. Jika salah satu atau kedua orang tua menggunakan tangan kiri, peluang anak menjadi kidal cenderung meningkat.
Meski demikian, faktor genetik bukan satu-satunya penyebab. Perkembangan janin, lingkungan, serta proses pembentukan otak sejak dalam kandungan juga ikut berkontribusi.
Artinya, tidak semua anak dari orang tua kidal akan menjadi kidal, begitu pula sebaliknya.
Pada akhirnya, kidal hanyalah salah satu variasi alami pada manusia. Perbedaan tersebut bukan kelemahan, melainkan bagian dari keragaman yang membuat setiap orang memiliki cara unik dalam menjalani aktivitas sehari-hari. (*)

