BACAAJA, SEMARANG – Kebiasaan menyemprot parfum ke leher sebelum berangkat kerja, kuliah, atau sekadar hangout sudah menjadi rutinitas yang dilakukan banyak orang. Aroma segar yang menempel di kulit dianggap mampu meningkatkan rasa percaya diri sekaligus membuat tubuh terasa lebih nyaman saat beraktivitas. Namun belakangan, muncul kekhawatiran yang cukup ramai diperbincangkan di media sosial. Sebagian orang mulai mempertanyakan apakah parfum yang sering disemprotkan ke area leher bisa memicu kanker tiroid.
Perbincangan ini berkembang karena letak kelenjar tiroid memang berada di bagian depan leher, tepat di area yang kerap terkena semprotan parfum, body mist, atau produk perawatan tubuh lainnya. Tidak sedikit yang kemudian mengaitkan penggunaan parfum secara rutin dengan kemungkinan munculnya gangguan pada kelenjar tersebut.
Isu tersebut semakin cepat menyebar karena menyentuh aktivitas sehari-hari yang sangat dekat dengan masyarakat. Banyak orang merasa khawatir karena hampir setiap hari menggunakan parfum tanpa benar-benar mengetahui dampaknya terhadap kesehatan tubuh dalam jangka panjang.
Menanggapi kekhawatiran yang berkembang, Dokter Spesialis Bedah Konsultan Bedah Onkologi RS Pondok Indah – Pondok Indah, dr. Diani Kartini, Sp.B, Subsp.Onk (K), memberikan penjelasan tegas bahwa anggapan parfum dapat menyebabkan kanker tiroid merupakan informasi yang tidak benar.
Menurut dr. Diani, masyarakat perlu memahami bahwa tidak semua zat atau produk yang mengenai area leher otomatis berhubungan langsung dengan risiko kanker pada organ yang berada di bawahnya. Hubungan sebab-akibat dalam dunia medis tidak bisa disimpulkan hanya berdasarkan lokasi penggunaan suatu produk.
Ia menjelaskan bahwa salah satu faktor yang memang diketahui memiliki kaitan dengan risiko kanker tiroid adalah paparan radiasi tertentu. Risiko tersebut biasanya ditemukan pada orang-orang yang bekerja di lingkungan dengan paparan radiasi atau pernah mengalami paparan radiasi dalam jumlah signifikan.
“Yang paparan bekerja di area radiasi. Terkena radiasi. Nah itu bisa terkena cancer,” ujar dr. Diani saat media briefing di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Senin, 1 Juni 2026.
Meski demikian, kondisi tersebut sangat berbeda dengan penggunaan parfum yang hanya diaplikasikan di permukaan kulit. Parfum tidak bekerja dengan mekanisme yang sama seperti radiasi dan tidak memiliki bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa penggunaannya di leher dapat memicu kanker tiroid.
Dokter Diani menegaskan bahwa parfum yang disemprotkan secara topikal atau pada lapisan luar kulit tidak memiliki hubungan langsung dengan terbentuknya kanker tiroid. Karena itu, masyarakat tidak perlu panik terhadap informasi yang belum terbukti kebenarannya.
“Nah kalau misalnya kesemprot parfum, topikal di kulit. Nah itu tidak. Itu hoax ya. Jadi kalau menyemprot parfum ke leher tidak bisa menyebabkan kancer tiroid,” lanjutnya.
Penjelasan tersebut sekaligus meluruskan kesalahpahaman yang selama ini berkembang di masyarakat. Banyak orang beranggapan bahwa jika suatu zat mengenai area tubuh tertentu, maka organ yang berada tepat di bawahnya otomatis akan terdampak secara langsung.
Padahal dalam ilmu kedokteran, proses terjadinya penyakit jauh lebih kompleks. Banyak faktor yang harus dipertimbangkan, mulai dari karakteristik zat yang terpapar, mekanisme kerja di dalam tubuh, hingga bukti penelitian yang mendukung hubungan tersebut.
Fenomena munculnya hoaks kesehatan sebenarnya bukan hal baru. Informasi yang terdengar masuk akal sering kali lebih cepat dipercaya dibandingkan penjelasan ilmiah yang membutuhkan pemahaman lebih mendalam.
Apalagi ketika isu tersebut berkaitan dengan aktivitas sehari-hari yang dilakukan hampir semua orang. Mulai dari penggunaan parfum, skincare, sabun, hingga produk kecantikan lainnya sering menjadi sasaran berbagai klaim yang belum tentu memiliki dasar penelitian yang kuat.
Menurut para ahli kesehatan, ketakutan berlebihan terhadap informasi yang belum terbukti justru bisa membuat masyarakat kehilangan fokus terhadap hal-hal yang sebenarnya lebih penting untuk diperhatikan.
Salah satunya adalah mengenali gejala gangguan tiroid secara benar. Banyak kasus gangguan pada kelenjar tiroid yang terlambat diketahui karena gejalanya sering menyerupai kondisi kesehatan lainnya.
Keringat berlebih misalnya. Tidak sedikit orang yang langsung mengaitkan kondisi tersebut dengan gangguan jantung. Padahal, gejala itu juga dapat muncul akibat masalah pada fungsi tiroid maupun gangguan metabolisme tubuh lainnya.
Selain itu, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas juga kerap menjadi salah satu tanda yang perlu diperhatikan. Namun gejala tersebut tidak bisa langsung dijadikan dasar untuk menentukan diagnosis karena dapat dipicu oleh berbagai kondisi medis.
“Jadi kan. Nanti kan misalnya berkelah-kelah. Kemudian keringat berlebih. Kemudian juga. Berat badan menurun. Terus. Itu kan tanda-tanda hipermetabolisme,” jelas dr. Diani.
Karena gejala gangguan tiroid sering tumpang tindih dengan penyakit lain, pemeriksaan medis menjadi langkah yang sangat penting. Dokter biasanya akan melakukan evaluasi menyeluruh sebelum menyimpulkan penyebab keluhan yang dialami pasien.
Pemeriksaan laboratorium dan berbagai tes penunjang diperlukan untuk melihat apakah terdapat gangguan fungsi tiroid atau justru masalah kesehatan lain yang menghasilkan gejala serupa.
Dengan pemeriksaan yang tepat, pasien dapat memperoleh diagnosis yang akurat sekaligus penanganan yang sesuai. Langkah ini jauh lebih aman dibandingkan mengandalkan informasi yang beredar dari mulut ke mulut atau media sosial tanpa verifikasi.
“Apakah ada peningkatan dari fungsi tiroid atau tidak. Nah itu harus dicek dulu,” katanya.
Pesan utama yang ingin disampaikan para tenaga medis adalah pentingnya memilah informasi kesehatan secara bijak. Tidak semua kabar yang viral memiliki dasar ilmiah yang kuat, meski terdengar meyakinkan.
Di tengah derasnya arus informasi digital, masyarakat diharapkan lebih kritis sebelum mempercayai atau menyebarkan suatu klaim kesehatan. Memastikan sumber informasi berasal dari tenaga medis atau lembaga kesehatan yang kredibel menjadi langkah sederhana yang bisa menghindarkan banyak kesalahpahaman.
Dengan demikian, kekhawatiran bahwa parfum yang disemprotkan ke leher dapat menyebabkan kanker tiroid tidak perlu lagi menjadi beban pikiran. Berdasarkan penjelasan dokter spesialis onkologi, klaim tersebut hanyalah hoaks yang tidak didukung bukti ilmiah, sementara pemeriksaan kesehatan tetap menjadi kunci utama untuk mendeteksi gangguan tiroid secara tepat. (*)

