Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Dua Bulan Nunggak, Honorer Sekolah Jabar Kena Imbas Aturan Baru
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Pendidikan

Dua Bulan Nunggak, Honorer Sekolah Jabar Kena Imbas Aturan Baru

Dinas Pendidikan Jawa Barat akhirnya buka suara soal kondisi ini. Kepala Dinas Pendidikan Jabar, Purwanto, menyebut jumlah honorer yang terdampak cukup besar dan tersebar di berbagai daerah.

Nugroho P.
Last updated: April 22, 2026 7:48 pm
By Nugroho P.
5 Min Read
Share
Ilustrasi guru honorer.
SHARE

BACAAJA, BANDUNG — Kabar kurang enak datang dari dunia pendidikan di Jawa Barat. Ribuan tenaga honorer sekolah lagi-lagi harus gigit jari karena hak mereka belum cair. Bukan sehari dua hari, tapi sudah masuk bulan kedua, tepatnya sejak Maret sampai April 2026.

Situasi ini bikin banyak pihak angkat suara. Soalnya, tenaga honorer ini bukan cuma guru, tapi juga staf tata usaha, petugas keamanan, sampai kebersihan yang tiap hari memastikan sekolah tetap berjalan normal.

Dinas Pendidikan Jawa Barat akhirnya buka suara soal kondisi ini. Kepala Dinas Pendidikan Jabar, Purwanto, menyebut jumlah honorer yang terdampak cukup besar dan tersebar di berbagai daerah.

Menurut data yang dihimpun, ada sekitar 3.823 tenaga honorer yang belum menerima gaji selama dua bulan terakhir. Angka ini mencerminkan betapa luasnya dampak persoalan tersebut di lingkungan pendidikan.

Purwanto menjelaskan, penyebab utama keterlambatan ini bukan karena kelalaian daerah semata. Ada faktor regulasi dari pusat yang ikut memengaruhi proses pencairan gaji tersebut.

Kebijakan dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi menjadi salah satu kendala utama. Aturan ini membuat proses administrasi pembayaran harus disesuaikan ulang.

“Jumlahnya 3.823, ada guru, ada TU, keamanan, dan kebersihan. Tertunda dua bulan, jadi, kami belum bisa membayarkan gajinya karena terbentur edaran Menpan RB,” kata Purwanto saat dikonfirmasi, Rabu (22/4).

Meski begitu, pihak Dinas Pendidikan tidak tinggal diam. Mereka saat ini sedang berkoordinasi dengan pemerintah provinsi untuk mencari jalan keluar yang paling memungkinkan.

Purwanto menegaskan bahwa solusi sedang dibahas bersama gubernur. Skema pembayaran yang tepat tengah dirumuskan agar hak para honorer tetap bisa dipenuhi.

“Solusinya lagi dicari. Yang jelas mereka sudah bekerja dan sekolah juga membutuhkan, kami cari skema pembayarannya seperti apa,” ujarnya.

Di lapangan, para honorer tetap menjalankan tugas seperti biasa. Mereka mengajar, mengurus administrasi, hingga menjaga lingkungan sekolah tanpa kepastian kapan gaji akan diterima.

Tenaga honorer ini tersebar di berbagai SMA dan SMK di seluruh Jawa Barat. Peran mereka krusial, terutama dalam menutup kekurangan tenaga pengajar di beberapa mata pelajaran.

Purwanto menyebut, beban kerja para honorer sebenarnya sudah sesuai dengan ketentuan. Bahkan dalam beberapa kasus, mereka harus saling mengisi kekurangan jam mengajar.

“Seperti guru bahasa Indonesia itu bisa ngajar yang lain, kekurangannya diisi oleh yang lain, tergantung pelajaran. Rata-rata sudah sesuai jam mengajar,” jelasnya.

Kondisi ini memperlihatkan fleksibilitas para honorer dalam menjaga proses belajar mengajar tetap berjalan. Meski begitu, soal kesejahteraan masih jadi pekerjaan rumah besar.

Di sisi lain, peluang rekrutmen honorer baru juga belum jelas. Dinas Pendidikan memilih fokus menyelesaikan persoalan yang ada terlebih dahulu.

Purwanto mengaku belum bisa memastikan apakah akan ada penambahan tenaga honorer dalam waktu dekat. Semua masih menunggu perkembangan kebijakan dan kebutuhan di lapangan.

“Rekrutmen baru juga harus memikirkan yang sedang bekerja. Memaksimalkan dulu yang ini, kalau ini bisa dioptimalkan makin bagus,” katanya.

Kebutuhan tenaga pendidikan di Jawa Barat sendiri sebenarnya sangat besar. Totalnya mencapai sekitar 60 ribu orang, mencakup guru hingga tenaga pendukung lainnya.

Angka tersebut menunjukkan adanya gap yang cukup lebar antara kebutuhan dan ketersediaan tenaga kerja di sektor pendidikan.

Sementara itu, status para honorer saat ini juga masih belum jelas. Mereka belum diangkat menjadi PPPK, baik penuh waktu maupun paruh waktu.

Meski status belum berubah, mereka tetap dituntut menjalankan tugas seperti biasa. Hal ini yang kemudian memunculkan dilema di kalangan tenaga honorer.

Dari sisi anggaran, kebutuhan gaji honorer sebenarnya tidak kecil. Dalam satu bulan, totalnya bisa mencapai sekitar Rp7 miliar.

Jika dihitung selama dua bulan, berarti ada sekitar Rp14 miliar yang belum tersalurkan kepada para tenaga honorer tersebut.

Nilai tersebut menunjukkan bahwa persoalan ini bukan hanya soal teknis, tapi juga menyangkut pengelolaan anggaran yang cukup besar.

Di tengah situasi ini, harapan para honorer sederhana. Mereka hanya ingin hak yang sudah seharusnya diterima bisa segera dibayarkan.

Bagi mereka, gaji bukan sekadar angka, tapi juga penopang kehidupan sehari-hari. Terlebih di tengah kebutuhan yang terus meningkat.

Pemerintah daerah kini dituntut bergerak cepat. Koordinasi dengan pusat jadi kunci agar masalah ini tidak berlarut-larut.

Jika tidak segera diselesaikan, dampaknya bisa meluas. Bukan hanya ke tenaga honorer, tapi juga ke kualitas pendidikan secara keseluruhan.

Kondisi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa peran honorer masih sangat vital. Tanpa mereka, operasional sekolah bisa terganggu.

Publik kini menunggu langkah konkret dari pemerintah. Apakah solusi akan segera ditemukan, atau justru masalah ini akan berulang di masa depan.

Yang jelas, dua bulan tanpa gaji bukan hal sepele. Apalagi bagi ribuan tenaga honorer yang setiap hari tetap mengabdi di dunia pendidikan.

 (*)

You Might Also Like

Unwahas Terima 4.663 Maba, dari Timor Leste hingga Thailand

Dari Bambu ke Beton, Jalan Sekolah Kini Lebih Aman, Ini yang Dilakukan Polres Banjarnegara

Siswa Berprestasi SMK Purworejo Dilaranag Ikut Ujian, Cuma Gegara Ini

Gaji Guru Cuma Rp200 Ribuan? DPR Desak Pemerintah Revisi Aturan BOS, Digitalisasi Sekolah Harus Merata!

Belajar Bahasa Korea Bareng Oppa, Siswa Semarang Auto Semangat. Ada Beasiswanya?

TAGGED:bandungdedi mulyadihonorerjawa baratpurwanto
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Enam Warisan Budaya Semarang Diakui Nasional
Next Article Tanggal Muda Datang, Gaji Aman Atau Sekadar Lewat Saja

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Ketahuan Curang UTBK, Alat Tersembunyi Bikin Geger Kampus Semarang

Gelombang Haji Jateng Mulai Bergerak, Kloter Berangkat Tanpa Transit

Ihram Bukan Gaya, Ini Aturan Penting yang Sering Disalahpahami

KDMP Beromzet Sebulan Rp60 Juta, Ketuanya Gak Cuan Sama Sekali!! Apes Bos

Ilustrasi godaan mudahnya pencairan pinjaman online (pinjol).

Utang Pinjol RI Tembus Rp100 Triliun, Gen Z dan Milenial Paling Banyak Terjerat

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Pendidikan

Rahasia di Balik Mandi Wajib, Bukan Cuma Soal Suci, Tapi Begini

September 17, 2025
Pendidikan

Sekda Jateng: Enam Hari Sekolah Masih Dikaji

November 24, 2025
Pendidikan

Santri Kuliah Sampai Luar Negeri, Kenapa Enggak?

Februari 8, 2026
Pendidikan

Tim KKN-T Undip 21 Dorong Petani Gedong Ciptakan Produk Inovasi Kopi

Agustus 2, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Dua Bulan Nunggak, Honorer Sekolah Jabar Kena Imbas Aturan Baru
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?