BACAAJA, CILACAP – Langkah kaki itu terdengar biasa saja, tapi di baliknya tersimpan akhir dari sebuah proses panjang. Seorang warga negara asing asal Malaysia, Azhan Bin Zakaria, akhirnya resmi dipulangkan dari Indonesia setelah menjalani rangkaian hukum yang tak singkat.
Pria berusia 54 tahun tersebut sebelumnya mendekam di Lapas Kelas II Ngaseman, Nusakambangan. Masa hukumannya sudah tuntas, namun urusannya belum selesai begitu saja. Statusnya sebagai WNA dengan pelanggaran keimigrasian membuat langkah berikutnya tak bisa dihindari: deportasi.
Proses pemulangan ini ditangani langsung oleh Kantor Imigrasi Kelas I TPI Cilacap. Tim bergerak sejak pagi hari, memastikan semua berjalan sesuai aturan yang berlaku tanpa celah.
Pada Kamis pagi, sekitar pukul 09.00 WIB, Azhan dikawal menuju Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta. Di tempat ini, tahapan penting dimulai, mulai dari verifikasi identitas hingga wawancara mendalam.
Selama proses itu, Azhan tidak sendirian. Tim Intelijen dan Penindakan Keimigrasian (Inteldakim) ikut mendampingi, memastikan semua prosedur berjalan rapi dan sesuai standar.
Wawancara dilakukan untuk memastikan data dan latar belakang yang bersangkutan. Ini bukan sekadar formalitas, melainkan bagian krusial sebelum seseorang dipulangkan ke negara asalnya.
Selain itu, dokumen perjalanan juga harus dilengkapi. Tanpa dokumen ini, proses deportasi tidak bisa dilanjutkan. Semua berkas diperiksa secara detail oleh pihak kedutaan.
Setelah dinyatakan lengkap, proses bergerak cepat ke tahap berikutnya. Tak ada waktu yang terbuang, semua sudah dijadwalkan secara sistematis.
Dari kedutaan, rombongan langsung menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta, tepatnya Terminal 2F yang menjadi titik keberangkatan internasional.
Sekitar pukul 15.00 WIB, mereka tiba di bandara. Proses check-in hingga pengawasan keamanan dilakukan dengan pengawalan ketat.
Kepala Seksi Intelijen dan Penindakan Keimigrasian, Mukhlis Akbar, menegaskan bahwa semua tahapan dijalankan sesuai prosedur.
“Proses pendeportasian kita laksanakan secara prosedural, humanis, dan akuntabel sesuai dengan komitmen Imigrasi Cilacap dalam menegakkan hukum keimigrasian,” ujarnya.
Pernyataan itu menegaskan bahwa deportasi bukan sekadar tindakan hukum, tapi juga tetap memperhatikan sisi kemanusiaan.
Menjelang malam, Azhan akhirnya diterbangkan menuju Kuala Lumpur. Ia menumpang maskapai AirAsia dengan nomor penerbangan AK 387.
Pesawat lepas landas sekitar pukul 18.55 WIB, menandai berakhirnya keberadaan Azhan di Indonesia.
Namun, cerita ini bukan sekadar soal pemulangan. Ada pelanggaran serius yang melatarbelakanginya.
Azhan diketahui melanggar aturan keimigrasian, termasuk statusnya sebagai eks narapidana kasus narkotika serta penyalahgunaan izin tinggal selama berada di Indonesia.
Pelanggaran itu masuk dalam ketentuan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian, tepatnya Pasal 75 Ayat 1.
Aturan tersebut memberikan kewenangan kepada pejabat imigrasi untuk mengambil tindakan administratif terhadap WNA yang dianggap mengganggu ketertiban.
Tak berhenti pada deportasi, langkah lanjutan juga disiapkan. Nama Azhan diusulkan masuk daftar penangkalan.
Melalui sistem Cekal Online, pengajuan itu dilakukan agar yang bersangkutan tidak bisa kembali masuk ke wilayah Indonesia di masa mendatang.
Langkah ini menjadi sinyal tegas bahwa pelanggaran keimigrasian tidak akan ditoleransi.
Di sisi lain, tindakan ini juga menunjukkan keseriusan aparat dalam menjaga kedaulatan hukum negara.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa setiap WNA yang berada di Indonesia wajib mematuhi aturan yang berlaku.
Sekali melanggar, konsekuensinya bukan hanya hukuman pidana, tapi juga kehilangan akses untuk kembali.
Dan bagi Azhan Bin Zakaria, perjalanan pulang itu bukan sekadar kepulangan, melainkan penutup dari bab panjang yang penuh konsekuensi hukum.(*)

