BACAAJA, SEMARANG – SMAN 6 Semarang kedatangan tamu beda, Selasa (10/2/2026). Densus 88 Antiteror Polri, hadir lewat acara Meet & Greet bertema “bahaya intoleransi, radikalisme, dan terorisme di kalangan pelajar dan ruang digital”.
Kanit Idens0s Satgas Wil Jateng Densus 88, Kompol Lugito Gofar, menyebut kegiatan ini jadi langkah awal yang penting. Kolaborasi lintas instansi dinilai krusial untuk menyentuh langsung anak-anak muda.
“Ini Alhamdulillah sekarang kita bisa bekerja sama dengan provinsi, untuk bisa menyampaikan sosialisasi pencegahan intoleransi dan radikalisme anak-anak di Jawa Tengah,” kata Gofar.
Bacaaja: Puluhan Anak Jateng Terpapar Konten Ideologi Kekerasan, Kapolda Bentuk Tim Khusus
Bacaaja: 22 Anak di Jateng Terpapar Konten Kekerasan, Densus 88 Endus Metode Tebar Jaring di Medsos
Kabid Ideologi Wawasan Kebangsaan dan Karakter Bangsa Kesbangpol Jateng, M Agung Hikmati, menegaskan kegiatan ini fokusnya pencegahan sejak dini.
“Kalau bicara Densus itu bukan soal penindakan. Ada sisi pencegahan, dan ini bagian dari upaya cegah radikalisme dan terorisme,” ujarnya.
Ia menyinggung beberapa kejadian di daerah lain yang melibatkan pelajar. Dari situ, Pemprov Jateng langsung bergerak cepat bareng Dinas Pendidikan dan Densus 88.
“Keterpaparan di anak-anak remaja itu sudah mulai meningkat. Kami harus ambil langkah cepat,” lanjut Agung.
Kegiatan ini jadi yang perdana dan sengaja dikemas lebih kekinian. Tujuannya biar dekat dengan dunia remaja dan tidak bikin takut.
“Kalau dengar Densus, anak-anak kan mikirnya macam-macam. Makanya kita bikin Meet and Greet Densus,” kata Agung.
Acara ini juga menggandeng media bacaaja.co. Chief Operating Officer bacaaja.co, Puji Utami, menyebut kegiatan ini bagian dari tanggung jawab bersama.
“Kita ingin anak-anak tidak tersangkut kekerasan, intoleransi, dan sejenisnya. SMA 6 ini jadi pilot project,” ujar Puji.
Ke depan, program ini direncanakan keliling ke SMA dan SMK di Jawa Tengah.
“Beberapa waktu terakhir ada temukan kasus yang melibatkan anak SMA. Ini sudah jadi tanggung jawab kita bersama,” katanya.
Konsep acaranya dibuat santai dan fleksibel. Materi disampaikan dengan bahasa yang dekat dengan keseharian pelajar.
“Bagaimana caranya masuk ke dunia mereka, biar pesannya bisa diterima dengan baik,” tutup Puji. (bae)


