SEMARANG, BACAAJA- Kaligrafi di MTQ Nasional XXXI 2026 bukan sekadar adu rapi tulisan Arab. Dari pena, cat, dan tinta, seni ini kini ikut masuk ke layar komputer. Menariknya, perjalanan kaligrafi di Semarang ternyata sudah dimulai sejak 47 tahun lalu, ketika seni lukis Islami pertama kali ikut meramaikan MTQ 1979.
Lomba kaligrafi menjadi salah satu cabang yang mencuri perhatian dalam MTQ XXXI Tingkat Nasional 2026 di Jateng. Hampir seluruh provinsi mengirimkan wakilnya untuk bertarung dalam lima golongan, yakni naskah, hiasan mushaf, dekorasi, kontemporer, dan digital.
Direktur Lembaga Kaligrafi Alquran (Lemka), KH Didin Sirojuddin AR, mengatakan, peserta kaligrafi terdiri atas lima golongan putra dan putri. Jika seluruh kuota terpenuhi, jumlah peserta mencapai sekitar 380 orang.
Yang paling kekinian tentu golongan digital. Kalau dulu kaligrafi identik dengan pena, tinta, dan kuas, sekarang komputer ikut naik kelas menjadi “alat tempur”.
Baca juga: Catat! Daftar 12 Venue dan Cabang Lomba MTQ Nasional di Semarang
Peserta membuat tulisan sekaligus lukisan kaligrafi menggunakan perangkat komputer. Meski medianya berubah, standar penilaiannya tetap tidak main-main.
“Penilaian kaligrafi mencakup kebenaran kaidah huruf, keindahan huruf, dan keindahan hiasan,” ujar Didin, Senin (14/9/2026). Pada golongan hiasan mushaf, misalnya, unsur huruf mendapat bobot 60 persen, sedangkan hiasan 40 persen. Artinya, secantik apa pun ornamen yang dibuat, kalau hurufnya berantakan, tetap saja nilainya bisa ambyar.
Didin menambahkan, karya peserta harus dibuat langsung saat lomba. Ketentuan ini menjadi salah satu pembeda dengan sejumlah kompetisi kaligrafi internasional yang memungkinkan peserta mengerjakan karya selama berbulan-bulan.
Dalam MTQ di Indonesia, karya dibuat langsung sehingga orisinalitasnya lebih mudah dipastikan. Seluruh karya peserta juga bakal dipamerkan dalam dialog kaligrafi pada 16 September 2026. Pameran tersebut diharapkan menjadi ruang untuk melihat perkembangan seni kaligrafi sekaligus mengenalkannya kepada masyarakat yang lebih luas.
Bagi Didin, MTQ XXXI di Semarang punya cerita sejarah tersendiri. Sebab, kota ini pernah menjadi saksi ketika seni lukis Islami pertama kali masuk dalam rangkaian kegiatan MTQ.
Bagian MTQ
Peristiwa itu terjadi pada MTQ XI di Semarang pada 1979. Kala itu, pameran seni lukis Islami menjadi bagian dari kegiatan MTQ. Dukungan terhadap pameran tersebut bahkan datang dari Joop Ave, yang saat itu menjabat Direktur Jenderal Pariwisata dan kemudian menjadi Menteri Pariwisata.
Kini, 47 tahun berselang, Semarang kembali menjadi panggung pameran seni kaligrafi berskala internasional. Uniknya lagi, menurut Didin, dukungan terhadap seni lukis Islami dan kaligrafi tidak hanya datang dari kalangan muslim. “Rupanya karya-karya lukis Islami itu disukai oleh siapa pun, dan memang tidak ada batas-batas,” katanya.
Pesan serupa disampaikan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi. Menurutnya, MTQ XXXI bukan hanya milik umat Islam, tetapi juga menjadi bagian dari masyarakat secara luas.
Keterlibatan berbagai kelompok, termasuk masyarakat nonmuslim, dinilai menjadi gambaran semangat toleransi dan nilai rahmatan lil alamin yang ingin ditonjolkan Jawa Tengah.
Baca juga: MTQ Nasional Bukan Sekadar Soal Lomba
Luthfi berharap MTQ tidak berhenti sebagai kompetisi mencari siapa yang paling bagus membaca, menulis, atau menghias ayat. Lebih jauh, ajang tersebut diharapkan membawa pesan perdamaian dari Jawa Tengah untuk Indonesia dan dunia.
“Musabaqah Tilawatil Qur’an milik semua masyarakat. Inilah bentuk rahmatan lil alamin, toleransi beragama sangat dijunjung sekali, semuanya bersatu,” ujar Luthfi.
Ujung-ujungnya, kaligrafi membuktikan satu hal: zaman boleh berubah, medianya boleh pindah dari tinta ke komputer, tapi pesan yang ditulis tetap harus indah. Bedanya, sekarang yang bikin pegal bukan cuma tangan, mata juga ikut lembur menatap layar. (tebe)

