BACAAJA, SEMARANG — Di sebuah perlintasan kereta api di Jl. Stasiun Jerakah, Semarang Barat, drama kecil terjadi hampir setiap hari. Bukan soal keretanya, tapi soal manusia, yang kadang terlalu buru-buru, sampai lupa rasa takut.
Palang sudah turun. Sinyal sudah jelas. Tapi tetap saja, ada yang nekat nyelonong.
Di situlah Musa (50) berdiri. Bukan sekadar penjaga palang, tapi juga penjaga keselematan di titik rawan itu.
Sudah sekitar setahun ia menjalani rutinitas yang sama: menerima info kereta, buru-buru menutup palang, lalu berharap semua orang cukup waras untuk berhenti. Harapannya? Sering kali kandas.
Bacaaja: Ketika Disiplin Diabaikan, Wajar Bila Tragedi Berulang di Perlintasan Kereta
Bacaaja: Tabrakan Kereta Banyak Makan Korban Jiwa, DPR Sorot Gagalnya Sistem Keselamatan
“Sudah saya tutup, masih saja ada yang menerobos. Padahal itu sudah jelas berbahaya,” kata Musa, Senin (04/05/2026).
Perlintasan ini belum pakai sistem otomatis. Semua masih manual. Info kereta datang lewat telepon dari petugas lain atau stasiun terdekat. Waktunya mepet, kadang cuma sekitar satu menit sebelum kereta melintas.
Dalam hitungan detik itu, Musa harus sigap. Menutup palang, memastikan jalur steril, dan dalam waktu bersamaan, melawan pengendara yang kadang lebih cepat dari logika.
“Kadang orang itu tidak sabar. Sudah tahu ditutup, masih nekat lewat. Kalau terjadi apa-apa, kita juga yang kena,” ujarnya.
Buat Musa, ini bukan sekadar cerita tegang. Ia pernah ikut menangani korban kecelakaan di sekitar jalur tersebut. Pengalaman yang tidak mudah dilupakan.
Tanpa perlu detail berlebihan, satu hal yang jelas: pemandangan setelah kecelakaan cukup untuk bikin siapa pun berpikir dua kali sebelum melanggar.
“Kalau sudah kejadian, itu berat. Tapi sebagai relawan, kita memang harus siap,” ucapnya pelan.
Masalahnya, Musa tidak sendiri menghadapi semua ini, dan justru itu yang jadi persoalan. Saat ini, penjagaan hanya dilakukan dua orang. Mereka harus gantian hampir 24 jam. Kebayang capeknya.
“Dua orang itu berat. Harus bagi waktu, jaga hampir seharian,” katanya.
Padahal, jalur Jerakah ini bukan jalur sepi. Lalu lintasnya ramai, dari warga sekitar, anak sekolah, sampai penghuni kos yang lalu-lalang tiap hari. Artinya, risiko juga ikut ramai.
Musa tahu betul, kondisi ini tidak bisa dibiarkan terus. Ia berharap ada perubahan nyata, bukan sekadar wacana.
“Harapannya ya ada sistem otomatis, sama tambahan orang. Biar lebih aman,” ujarnya.
Di tengah segala keterbatasan, Musa tetap berdiri di sana. Menutup palang. Memberi tanda berhenti. Menjaga sesuatu yang sering dianggap sepele: nyawa.
Karena pada akhirnya, palang yang turun itu bukan cuma besi penghalang. Itu alarm. Itu peringatan. Masalahnya tinggal satu: mau didengar, atau diabaikan. (*)

