Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Macet, Lalai, dan Minim Sistem: Ujian Nyata Keselamatan Berkendara di Semarang
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Fokus

Macet, Lalai, dan Minim Sistem: Ujian Nyata Keselamatan Berkendara di Semarang

Keheningan malam sontak menjadi momen panik. Api mendadak “menguasai” Sport Center di Semarang, bikin kerugian miliaran dan sejumlah orang harus dilarikan ke rumah sakit.

T. Budianto
Last updated: Mei 5, 2026 3:51 am
By T. Budianto
4 Min Read
Share
SHARE

TAJUK RENCANA

 

KOTA Semarang terus bergerak sebagai salah satu pusat ekonomi dan mobilitas utama di Jawa Tengah. Aktivitas perdagangan, pendidikan, hingga jasa tumbuh pesat, mendorong peningkatan arus kendaraan dari tahun ke tahun.

Namun, pertumbuhan ini belum sepenuhnya diimbangi dengan kesiapan infrastruktur transportasi yang memadai. Dampaknya mulai terasa nyata: kemacetan di sejumlah titik strategis menjadi pemandangan harian, terutama pada jam-jam sibuk.

Kemacetan bukan sekadar persoalan waktu tempuh yang terbuang. Lebih dari itu, kondisi tersebut berpotensi memicu berbagai risiko keselamatan di jalan raya.

Ketika kepadatan kendaraan meningkat, ruang gerak pengguna jalan semakin terbatas, emosi mudah terpancing, dan pelanggaran lalu lintas kerap terjadi. Dalam situasi seperti ini, keselamatan berkendara sering kali menjadi hal yang dikorbankan.

Persoalan semakin kompleks ketika berbicara tentang perlintasan sebidang dengan jalur kereta api yang dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia. Di sejumlah titik di Kota Semarang, perlintasan sebidang masih belum dilengkapi dengan sistem pengamanan yang memadai. Tidak sedikit yang masih mengandalkan palang manual, bahkan ada yang sepenuhnya bergantung pada kewaspadaan warga sekitar.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa risiko kecelakaan di perlintasan sebidang masih tinggi. Beberapa insiden yang terjadi bukan hanya disebabkan oleh keterbatasan fasilitas, tetapi juga oleh rendahnya disiplin pengguna jalan.

Masih kerap dijumpai pengendara yang menerobos palang yang sudah ditutup, mengabaikan rambu peringatan, hingga memaksakan diri melintas saat kereta sudah mendekat. Perilaku seperti ini mencerminkan rendahnya kesadaran akan pentingnya keselamatan, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

Sebuah Ironi

Di sisi lain, keberadaan penjaga palang manual, yang sering kali merupakan swadaya masyarakat, menjadi ironi tersendiri. Mereka memikul tanggung jawab besar dalam menjaga keselamatan di titik-titik rawan, namun tanpa dukungan sistem yang memadai. Ketergantungan pada faktor manusia dalam kondisi berisiko tinggi tentu bukan solusi jangka panjang.

Pemerintah Kota Semarang bersama pemangku kepentingan terkait perlu mengambil langkah yang lebih konkret dan terukur. Pembangunan infrastruktur transportasi harus menjadi prioritas, tidak hanya untuk mengurai kemacetan, tetapi juga untuk meningkatkan keselamatan.

Modernisasi perlintasan sebidang melalui pemasangan palang otomatis, sistem peringatan dini, serta integrasi teknologi menjadi kebutuhan mendesak.

Selain itu, penataan lalu lintas di kawasan padat harus dilakukan secara berkelanjutan. Rekayasa lalu lintas, optimalisasi transportasi publik, serta pembatasan kendaraan di titik tertentu dapat menjadi opsi untuk mengurangi beban jalan. Tanpa intervensi kebijakan yang kuat, persoalan kemacetan dan keselamatan akan terus berulang tanpa solusi yang signifikan.

Namun, upaya pemerintah tidak akan efektif tanpa dukungan masyarakat. Keselamatan berkendara pada dasarnya adalah tanggung jawab bersama. Disiplin dalam mematuhi aturan lalu lintas, kesadaran untuk mengutamakan keselamatan, serta kepedulian terhadap pengguna jalan lain harus menjadi budaya yang dibangun secara kolektif.

Di sinilah peran media menjadi krusial. Media tidak hanya berfungsi sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai penggerak kesadaran publik. Pemberitaan yang konsisten, edukatif, dan kritis dapat mendorong perubahan perilaku sekaligus mengawal kebijakan pemerintah agar lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Keselamatan dan kenyamanan berkendara di Kota Semarang bukanlah isu yang bisa diselesaikan secara parsial. Diperlukan sinergi antara pemerintah, operator transportasi, dan masyarakat untuk menciptakan sistem transportasi yang aman, tertib, dan manusiawi.

Pada akhirnya, jalan raya bukan sekadar ruang mobilitas, melainkan ruang hidup bersama. Ketika keselamatan masih harus diperjuangkan di tengah keterbatasan dan kelalaian, maka yang dipertaruhkan bukan hanya efisiensi perjalanan, tetapi juga nyawa manusia. (*)

You Might Also Like

Semarang di Usia 479: Antara Harapan Warga dan Tantangan Kota

Gak Ada Gebrakan, UMP Jateng 2026 Masih akan Jadi Terendah Nasional?

Semarang Punya Seniman, Tapi Ekosistemnya Masih “Nyari Bentuk”

Stand Indonesia Diserbu di Yordania: dari Wayang sampai Es Cendol, Semua Laris Manis!

Panggung HUT RI ke-80 di Semarang Urung Digelar, Suasana Jadi Serius Gara-Gara Demo

TAGGED:headlinekemacetan semarangpemkot semarangperlintasan sebidangpt kaitajuk rencana
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Si Jago Merah Ngamuk di Metro Sport Center, Kerugian Ditaksir Rp5 M
Next Article Kasus Ponpes Pati Bikin Geram: Kemenag Minta Pelaku Dihukum Berat

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

KIAI CABUL - Kiai Ashari, pengasuh Ponpes Ndholo Kusumo, Pati, mengaku wali untuk memanipulasi psikologi korban. Kiai Ashari mencabuli 50 santriwati, mayoritas korban berasal dari keluarga rentan.

The Power of Kiai Ashari: Cabuli 50 Santriwati, Bebas Berkeliaran Gak Ditahan, Polisi Kalah Sakti?

Ratusan SD di Kudus Tanpa Kepsek, Guru Diajak Naik Level

Aktivis BEM FH Undip cs mengirim amicus curiae ke MK. (ist)

BEM FH Undip Kirim Amicus Curiae ke MK, Kritisi UU TNI yang Problematik

Pemprov Dikasih Alat “Nyedot Air dari Udara”

Kepala Bidang PD Pontren Kanwil Kemenag Jateng, Moch Fatkhuronji menjelaskan kasus pencabulan di Pati, Selasa (5/5/2026). (bae)

Kiai Ashari Cabuli 50 Santriwati, Kemenag Cabut Izin Ponpes Tahfidzul Quran Ndholo Kusumo

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Daerah

Urus Kesehatan Nggak Pakai Ribet, Semarang Tekan Angka Stunting

Januari 21, 2026
Nasional

MK: Polisi yang Mau Jabatan Sipil, Mundur Dulu!

November 13, 2025
Ilustrasi kayu gelondongan terbawa banjir bandang di Sumatera.
Info

Korban Nyawa Banjir di Sumatera Terus Melonjak, BNPB: 303 Orang Tewas

November 30, 2025
Info

Masuk SIPSS Nggak Bisa Pakai Jalan Pintas

Januari 23, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Macet, Lalai, dan Minim Sistem: Ujian Nyata Keselamatan Berkendara di Semarang
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?