BACAAJA, SEMARANG – Aksi May Day di Semarang tahun ini nggak cuma soal orasi dan spanduk tuntutan. Di balik ramainya massa, ternyata ada “paket lengkap” berisi 15 isu yang dibawa buruh, mulai dari upah, outsourcing, sampai keselamatan kerja.
Koordinator Lapangan Aliansi Buruh Jawa Tengah, Lukman Nur Hakim, bilang aksi ini bukan sekadar agenda tahunan yang lewat begitu saja.
“Ini bukan cuma aksi rutin. Ada 15 isu yang kami bawa, 11 nasional dan 4 lokal,” ujarnya, Jumat (1/5/2026).
Bacaaja: Tuntut Upah Layak, KASBI Jateng: Buruh Lajang Minimal Rp9 Juta Per Bulan
Bacaaja: Demo May Day Semarang, Buruh Perempuan Tuntut Fasilitas Daycare hingga Cuti Haid
Salah satu yang paling disorot adalah rencana pembentukan undang-undang ketenagakerjaan baru. Meski disebut revisi, buruh khawatir isinya justru “aturan baru” yang bisa berdampak besar.
“Kami khawatir pembahasannya terburu-buru dan buruh nggak dilibatkan,” kata Lukman.
Belajar dari pengalaman sebelumnya, buruh kini lebih waspada. Mereka berharap proses penyusunan aturan benar-benar melibatkan pekerja, bukan cuma formalitas.
Selain itu, isu lama yang belum kelar juga kembali diangkat, mulai dari penghapusan outsourcing sampai penolakan upah murah.
Di sisi lain, soal keselamatan kerja juga jadi perhatian serius. Lukman menegaskan, angka kecelakaan kerja di Jawa Tengah masih jadi PR besar.
“Orang kerja itu cari nafkah, bukan mempertaruhkan nyawa,” tegasnya.
Buruh juga mendorong perlindungan lebih untuk pekerja perempuan dan sektor informal, termasuk ojek online, yang dinilai masih minim payung hukum.
Untuk isu lokal, salah satu yang jadi sorotan adalah belum meratanya penerapan upah minimum sektoral di kabupaten/kota di Jateng. Padahal, menurut Lukman, hal itu sudah jadi amanat putusan Mahkamah Konstitusi.
“Baru beberapa daerah yang jalan. Ini harus jadi perhatian,” ujarnya.
Dalam aksi ini, sekitar 1.200 buruh dari berbagai daerah, mulai dari Semarang, Tegal, Pati, Jepara, hingga Banjarnegara—turun langsung ke jalan.
Mereka berharap bisa bertemu langsung dengan pemerintah provinsi dan DPRD Jawa Tengah, sekaligus menyampaikan kajian dan usulan yang sudah disiapkan.
“Kami ingin suara buruh benar-benar didengar, bukan sekadar formalitas,” kata Lukman.
Buat buruh, May Day bukan cuma seremoni tahunan. Ini adalah momen buat “speak up” soal keresahan yang mereka rasakan, dan harapan agar ke depan, kebijakan benar-benar berpihak pada mereka yang kerja setiap hari. (dul)

