BACAAJA, SEMARANG – Ratusan buruh, mahasiswa, dan aktivis turun ke jalan memperingati Hari Buruh Internasional atau May Day di depan Kompleks Gubernur Jawa Tengah, Kota Semarang, Jumat (1/5/2026).
Aksi ini diwarnai berbagai tuntutan, terutama soal kesejahteraan dan perlindungan buruh.
Di tengah aksi, suara buruh perempuan mencuat. Mereka menyoroti hak-hak dasar yang selama ini dinilai belum terpenuhi, mulai dari upah hingga fasilitas pendukung bagi pekerja perempuan.
Bacaaja: Jelang May Day, Buruh Jateng Angkat Suara: Upah Belum Layak, Outsourcing Makin Ngeri
Bacaaja: Pengusaha Jateng Tertekan Kenaikan BBM dan Bahan Baku, Produksi Terancam Turun
Buruh dari KASBI Jateng, Nur Laila, menilai upah di Kota Semarang masih jauh dari cukup. Bahkan, kebutuhan dasar seperti pendidikan anak disebut sulit dipenuhi dengan kondisi saat ini.
Ia juga menekankan pentingnya keberadaan daycare bagi buruh perempuan. Menurutnya, fasilitas tersebut bisa meringankan beban pekerja yang harus membagi waktu antara pekerjaan dan anak.
“Mungkin kami akan menjadi lega karena ada daycare. Itu sangat membantu salah satu kebutuhan kami,” lanjutnya.
Selain soal daycare, Nur Laila juga menyoroti perlindungan kerja bagi buruh perempuan. Ia meminta pemerintah lebih serius menjamin keselamatan dan kenyamanan di lingkungan kerja.
“Buruh perempuan itu harusnya jadi perhatian utama. Keselamatan kerja dan kenyamanan harus diberikan supaya perempuan bisa produktif tanpa meninggalkan kewajibannya sebagai ibu,” tegasnya.
Ia menambahkan, hak-hak seperti ruang laktasi, cuti melahirkan, hingga cuti haid juga harus dipenuhi. Menurutnya, hal tersebut bukan sekadar fasilitas tambahan, melainkan kebutuhan dasar pekerja perempuan. (bae)

