Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Cerita Mak Jah Bertahan di Tengah Laut, Rumah Apung untuk Terus Jaga Mangrove Sayung
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Tumbuh

Cerita Mak Jah Bertahan di Tengah Laut, Rumah Apung untuk Terus Jaga Mangrove Sayung

R. Izra
Last updated: April 25, 2026 9:54 am
By R. Izra
4 Min Read
Share
Rumah apung untuk Mak Jah, penjaga kelestarian mangrove di Desa Bedono, Sayung, Demak.
Rumah apung untuk Mak Jah, penjaga kelestarian mangrove di Desa Bedono, Sayung, Demak.
SHARE

BACAAJA, DEMAK – Perubahan garis pantai di wilayah Sayung, Kabupaten Demak, menyisakan cerita tentang kehilangan sekaligus keteguhan. Di Dusun Rejosari Senik, Desa Bedono, yang kini lebih banyak digenangi air laut, seorang perempuan bernama Pasijah atau Mak Jah memilih tetap tinggal saat yang lain pergi.

Di usia 56 tahun, ia menjadi satu-satunya warga yang masih menghuni kawasan tersebut. Ketika rumah-rumah lain telah lama ditinggalkan akibat abrasi dan banjir rob, Mak Jah justru bertahan sambil merawat alam yang tersisa.

Dua dekade lalu, wilayah itu masih berupa perkampungan pesisir yang produktif. Sawah dan ladang palawija menjadi sumber penghidupan warga. Namun, sejak awal 2000-an, air laut mulai sering naik ke daratan dan perlahan mengubah lanskap desa.

Bacaaja: Petuah Sururi Mangrove: saat Dirawat, Alam Membayar Balik dengan Rezeki bagi Keluarga
Bacaaja: Salut, Warga Bedono Terus Tanam Mangrove Demi Lindungi Pesisir

“Dulu masih ada sawah, tanaman juga banyak. Tapi sejak rob sering datang, lama-lama semuanya hilang,” ujar Mak Jah, Jumat (24/04/2026).

Situasi memburuk sekitar tahun 2010. Air semakin tinggi, permukiman tak lagi layak dihuni, dan warga memilih pindah. Dari ratusan keluarga yang pernah tinggal, kini hanya Mak Jah yang tetap bertahan.

Keputusan itu bukan tanpa alasan. Ia merasa punya tanggung jawab menjaga lingkungan, terutama mangrove yang dinilai mampu menahan laju abrasi. Dengan keterbatasan yang ada, Mak Jah mulai menanam sendiri bibit mangrove di sekitar tempat tinggalnya.

Ia mengumpulkan bibit dari berbagai sumber, bahkan membuatnya secara mandiri. Prosesnya tidak instan, tetapi perlahan kawasan tersebut kembali menunjukkan tanda-tanda kehidupan.

Kini, deretan mangrove yang tumbuh di sekitar rumahnya berfungsi sebagai pelindung alami sekaligus tempat hidup berbagai biota laut seperti ikan, kepiting, dan udang.

Atas dedikasinya, Mak Jah dikenal luas sebagai penjaga terakhir kawasan tersebut. Banyak yang menyebutnya sebagai simbol keteguhan, bahkan menjulukinya “Kartini Laut” dari Sayung.

Namun menjalani kehidupan di tengah genangan air bukan hal mudah. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia harus menyeberang menggunakan perahu selama puluhan menit sebelum melanjutkan perjalanan darat ke pasar.

“Kondisi ombak kadang tidak menentu. Kalau besar, ya sulit ke mana-mana. Tapi sudah terbiasa,” katanya.

Tempat tinggalnya pun terus ia sesuaikan dengan kondisi sekitar. Ia meninggikan bagian rumah secara bertahap agar tetap bisa digunakan meski air pasang datang.

Perjuangan Mak Jah akhirnya mendapat perhatian dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Ia menerima bantuan rumah apung yang digagas oleh Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi.

Rumah apung tersebut diharapkan menjadi solusi tempat tinggal yang lebih aman saat rob datang, sekaligus mendukung aktivitasnya menjaga lingkungan.

“Alhamdulillah sangat membantu. Kalau air naik tinggi, bisa tetap tinggal dengan aman,” ujarnya.

Mak Jah berharap bantuan ini tidak menghentikan langkahnya untuk terus menanam mangrove. Baginya, menjaga alam adalah bagian dari mempertahankan kehidupan itu sendiri.

“Selama masih bisa, saya akan terus menanam,” katanya.

Di sisi lain, Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Jawa Tengah, Boedyo Dharmawan, menjelaskan bahwa pembangunan rumah apung merupakan bagian dari upaya adaptasi di wilayah pesisir yang terdampak rob.

Program tersebut melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, hingga dukungan dari sektor perbankan melalui CSR. Hingga akhir 2025, sudah ada 15 unit rumah apung yang dibangun di kawasan terdampak.

Jumlah itu ditargetkan bertambah pada 2026 menjadi 20 unit, dengan fokus pembangunan di Desa Timbulsloko dan sebagian di Desa Bedono.

Kisah Mak Jah menjadi potret nyata tentang bagaimana manusia beradaptasi di tengah perubahan alam. Di saat banyak yang memilih pergi, ia justru bertahan menjaga, merawat, dan memastikan harapan tetap hidup di tengah genangan air. (dul)

You Might Also Like

Dari Irbid Buat Dunia: Mahasiswa Indonesia Gaspol di Irbid Expo 2026

Angka HIV di Semarang Tembus 240 Kasus

Agenda Besar Jokowi: Exit Strategi dan “Menolak Punah”

DPR Jangan Baper, Puan: Jawab Kritik dengan Kerja Nyata untuk Rakyat!

Taruna Baru, Perwira Lulus, Semarang Jadi Rumah Kedua…

TAGGED:demakheadlinemak jahmangroverumah apung
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bapenda Jateng, Muhamad Masrofi. Bayar Pajak Kendaraan di Jateng Dipermudah, Nggak Punya KTP Pemilik Lama Tetap Bisa
Next Article Ganjar Pranowo menjadi pembicara dalam seminar nasional di Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT) Samarinda. Trump Minta Iran Dicoret dari Piala Dunia 2026, Ganjar Sampaikan Respons Menohok

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Kepala Kantor Wilayah Ditjen Imigrasi Jawa Tengah, Haryono Agus Setiawan. (bae)

Fakta Jaringan Love Scamming di Semarang, Izin Tinggal 4 WNA China Kedaluwarsa

LAYANI PELANGGAN - Pelaku usaha fotokopi di Ngaliyan, Semarang, sedang melayani pelanggan. Mereka mengaku empot-empotan menghadapi harga kertas yang terus melambung tinggi, dampak melemahnya rupiah. (dul)

Harga Kertas Melambung Tinggi, Pelaku Usaha Fotokopi Ketar-ketir

KETUA PERADI SAI SEMARANG - Ketua DPC Peradi SAI Kota Semarang, Luhut Sagala (tengah) mengumumkan perubahan nama dan logo organisasi dalam acara buka bersama anggota di Aroem Resto Semarang, Selasa (3/3/2026). (bae)

Luhut Sagala Kembali Pimpin Peradi SAI Kota Semarang, Ini Fokus Agenda Kerjanya

ROKOK - Ilustrasi produk turunan tembakau berupa rokok.

Harga Rokok Ikut Terkerek Naik Meski Tak Ada Penyesuaian Tarif Cukai

KANTONG PLASTIK - Ilustrasi pedagang memasukkan barang yang dibeli pelanggan ke dalam kantong plastik.

Kelihatannya Sepele, tapi Jadi Beban Banget Buat Pelaku UMKM: Harga Plastik Naik Gila-gilaan

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Plesir

Kemenpar Dorong Shiva Festival Naik Level Nasional

Februari 17, 2026
Sepeda motor remuk dihantam KA Harina di perlintasan Kokrosono, Semarang, Jumat (3/4/3306) sore. (ist)
Info

Sudah Diperingatin Tetap Nekat, Pemotor Tewas Ketabrak KA Harina di Kokrosono Semarang

April 3, 2026
Info

Jalan Undip-Unnes Akhirnya “Naik Kelas”

April 29, 2026
Ilustrasi pembacokan.
Hukum

Viral! Mahasiswi UIN Dibacok saat Nunggu Sidang Skripsi, Pelaku Marah Cintanya Ditolak

Februari 27, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Cerita Mak Jah Bertahan di Tengah Laut, Rumah Apung untuk Terus Jaga Mangrove Sayung
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?