BACAAJA, SIDOARJO – Kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sidoarjo ternyata tak hanya menimpa ratusan santri Pondok Pesantren (Ponpes) Manbaul Hikam. Ada belasan lembaga pendidikan lain yang turut terdampak keracunan MBG di Tanggulangin, Sidoarjo.
Artinya, jumlah korban tak hanya 431 santri Ponpes Manbaul Hikam. Ada banyak korban lainnya dari lembaga pendidikan yang berbeda.
Wakil Gubernur Jawa Timur sekaligus Kepala Satgas MBG Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menyebut ada 19 lembaga pendidikan yang menerima MBG dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin.
Bacaaja: Santri Korban Keracunan MBG di Sidoarjo Bertambah, Tembus 431 Orang
Bacaaja: Korban Keracunan MBG di Berastagi Alami Gangguan Saraf Otak, 3 Korban Dirujuk ke Medan
Emil bilang, dapur SPPG Kalitengah saat itu mendistribusikan sekitar 2.800 porsi MBG.
“Ada 19 lembaga yang terdampak. Salah satunya Ponpes Manbaul Hikam,” kata Emil, Rabu (2/9/2026).
Pemprov Jatim bersama Badan Gizi Nasional (BGN) kini mulai mengecek penerima MBG lainnya. Langkah ini dilakukan buat memastikan kondisi siswa yang mungkin ikut terdampak.
Terutama mereka yang tidak masuk sekolah setelah menyantap makanan tersebut. “Kalau dia enggak masuk, harus kita cek kondisinya ke kediaman,” jelas Emil.
Emil belum merinci nama 19 lembaga pendidikan yang menerima makanan dari SPPG Kalitengah. Namun, penerimanya diketahui berasal dari sekolah swasta. Mulai dari SMA, SMP, SD, hingga TK.
“Enggak ada yang negeri, kebetulan swasta,” ujar Emil.
Sementara itu, operasional SPPG Kalitengah sudah dihentikan sementara. Sampel makanan yang dibagikan juga telah dikirim untuk menjalani pemeriksaan laboratorium.
Sebelumnya, ratusan santri dan santriwati Ponpes Manba’ul Hikam di Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, diduga mengalami keracunan setelah menyantap menu MBG pada Selasa (1/9/2026).
Menu yang dibagikan terdiri dari nasi putih, telur orak-arik, tempe bumbu Bali, tumis buncis baby corn, dan apel.
Kini, pemerintah masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui penyebab pasti kejadian tersebut. (*)

