BACAAJA, YOGYAKARTA – Rizal Galih Pradana nggak pernah nyangka bakal jadi salah satu dari segelintir orang yang bisa menamatkan studi S2 di Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan IPK sempurna—4,00 bulat tanpa cela. Di usia 25 tahun, ia resmi menyandang gelar Magister Psikologi setelah berjuang selama 1 tahun 10 bulan yang penuh drama akademik dan dilema batin.
Wisuda yang digelar di Grha Sabha Pramana pada Rabu, 22 Oktober, jadi momen klimaks perjalanan panjangnya. Di balik toga dan senyum lebar itu, ada segunung kerja keras, kopi malam hari, dan keputusan besar yang harus diambil di awal perkuliahan.
Dikutip dari laman resmi ugm.ac.id, ceritanya bermula dari kabar mengejutkan: program Magister Psikologi Profesi—jurusan yang Rizal incar lewat beasiswa LPDP—tiba-tiba ditutup karena perubahan kurikulum. Mau nggak mau, Rizal dihadapkan pada pilihan berat: tetap lanjut tapi pindah jalur ke Psikologi Sains, atau mundur dan menunggu program profesi dibuka lagi.
“Waktu itu saya galau banget. Tapi akhirnya saya pilih lanjut aja, karena rezeki LPDP itu nggak datang dua kali,” kenangnya, baru-baru ini.
Keputusan itu bukan akhir dari masalah. Masuk ke Psikologi Sains berarti Rizal harus adaptasi total. Topik risetnya berubah, begitu juga pendekatan studinya. Ia pun akhirnya bergabung dalam riset payung soal food choice (pilihan makanan) yang dibuka oleh Dekan Fakultas Psikologi, Rahmat Hidayat, S.Psi., M.Sc., Ph.D.
Di situ, Rizal mulai mengenal Structural Equation Modeling (SEM), metode analisis yang awalnya terasa seperti teka-teki rumit. Tapi dengan bimbingan yang tepat dan tekad yang kuat, pelan-pelan ia menaklukkannya.
“SEM itu bikin saya pusing di awal, tapi setelah paham, malah jadi seru. Kayak nemu bahasa baru buat memahami perilaku manusia,” kata Rizal sambil tertawa kecil.
IPK 4,00 yang ia dapat bukan semata hasil dari otak encer. Rizal mengaku, ada unsur keberuntungan dan faktor takdir di balik itu semua. Nilainya di UTS nggak selalu sempurna, tapi performa UAS yang maksimal berhasil mendongkrak rata-rata nilainya.
“UAS itu penentu banget, jadi saya gaspol di situ. Saya percaya hasil akhir ditentukan sama totalitas usaha,” ujarnya santai.
Namun di balik nilai-nilai itu, Rizal sadar ada tanggung jawab besar yang ia emban. Sebagai penerima beasiswa LPDP, ia merasa wajib memberi hasil terbaik sebagai bentuk penghormatan pada kesempatan yang sudah diberikan negara.
“Buat saya, LPDP itu amanah. Jadi harus saya buktikan dengan kerja nyata, bukan cuma nilai,” katanya.
Selama kuliah, Rizal punya gaya belajar sendiri. Ia nggak cuma ngulik materi, tapi juga strategi. Salah satu tipsnya adalah memahami sistem penilaian dan karakter dosen.
“Setiap dosen punya gaya masing-masing. Ada yang suka esai, ada yang fokus ke presentasi. Tahu itu bisa bantu kita nyiapin diri lebih matang,” ungkapnya.
Selain itu, Rizal juga percaya bahwa keseimbangan itu penting. Ia nggak mau terlalu ngoyo sampai kehilangan arah. Sesekali, ia memberi jeda buat diri sendiri: nonton film, nongkrong bareng teman, atau sekadar jalan sore buat ngatur napas.
“Yang penting konsisten, bukan ngoyo,” tambahnya.
Di akhir wawancara, Rizal menekankan satu hal: kesempatan kuliah di kampus sebesar UGM itu nggak datang dua kali, jadi harus dimanfaatkan sebaik mungkin.
“Di kampus, kita bisa salah dan diperbaiki. Tapi di dunia kerja, nggak semua kesalahan ditoleransi,” ujarnya bijak.
Ia percaya, dunia akademik adalah ruang latihan terbaik sebelum terjun ke dunia nyata. Di situ, mahasiswa belajar bukan cuma teori, tapi juga mental dan tanggung jawab.
“Kalau udah kerja, semuanya serba cepat. Belajarnya ya sambil jalan. Jadi nikmatilah masa belajar di kampus selagi bisa,” pesan Rizal menutup cerita.
Bagi Rizal, perjalanan S2 ini bukan sekadar perjalanan akademik, tapi juga proses mengenal diri sendiri. Dari kegagalan, keraguan, hingga momen kecil yang mengajarkan arti sabar dan gigih.
Kini, setelah resmi jadi magister dengan IPK sempurna, Rizal ingin fokus menyalurkan ilmunya ke bidang riset dan edukasi. Ia bermimpi bisa membantu lebih banyak orang memahami psikologi secara ilmiah tapi tetap membumi.
“Saya pengen bikin psikologi itu terasa dekat sama kehidupan sehari-hari, bukan cuma teori di buku,” pungkasnya.
Dan siapa sangka, di balik angka 4,00 itu, ada cerita tentang kopi larut malam, tumpukan jurnal, dan keyakinan bahwa setiap usaha—kalau disertai niat tulus—nggak akan pernah sia-sia. (*)


