BACAAJA, SEMARANG– Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah mencatat angka kemiskinan di Jateng mengalami penurunan pada September 2025. Total penduduk miskin kini berada di angka 3,34 juta orang atau 9,39 persen, turun 0,09 persen dibandingkan Maret 2025.
Kepala BPS Jateng Ali Said menyebut, penurunan ini nggak datang tiba-tiba. Ada beberapa faktor yang ikut ngedorong, mulai dari ekonomi yang tumbuh 5,37 persen (year on year) pada triwulan III 2025, produksi padi yang naik 484 ribu ton Gabah Kering Giling (GKG), sampai tingkat pengangguran yang makin turun.
Baca juga: Kemiskinan Jateng Turun Jadi 9,48 Persen, Wagub Minta OPD Tak Bekerja Sektoral
“Kalau dibandingkan Maret 2025, jumlah penduduk miskin berkurang sekitar 21,86 ribu orang. Dibandingkan September 2024, penurunannya bahkan mencapai 51,52 ribu orang,” kata Ali Said dalam keterangannya di Semarang, Kamis, (5/2/2026).
Dalam penghitungan kemiskinan, BPS masih pakai pendekatan klasik tapi krusial: kebutuhan dasar. Hasilnya, Garis Kemiskinan (GK) Jateng per September 2025 berada di angka Rp570.870 per kapita per bulan. Rinciannya, kebutuhan makanan menyumbang Rp432.788, sementara kebutuhan non-makanan Rp138.082.
Rumah Tangga
Kalau ditarik ke level rumah tangga, Garis Kemiskinan Rumah Tangga berada di kisaran Rp2,55 juta per bulan, dengan rata-rata anggota keluarga miskin sebanyak 4,48 orang per rumah tangga.
BPS juga mencatat kondisi kemiskinan bukan cuma berkurang jumlahnya, tapi juga makin “dangkal”. Indeks kedalaman kemiskinan turun dari 1,557 pada Maret 2025 menjadi 1,507 di September 2025. Sementara indeks keparahan kemiskinan juga ikut turun dari 0,354 menjadi 0,338.
Baca juga: SCU Gandeng Pemprov Jateng, Bareng-Bareng Perangi Kemiskinan
Soal ketimpangan, ada kabar baik juga. Gini ratio Jawa Tengah menurun dari 0,359 menjadi 0,350. Artinya, jarak pengeluaran antarwarga mulai sedikit menyempit.
Angka kemiskinan memang turun, tapi PR belum benar-benar kelar. Data sudah kasih sinyal positif, tinggal pertanyaannya: penurunannya cuma berhenti di tabel BPS, atau benar-benar terasa sampai dapur rumah warga? Karena bagi sebagian orang, grafik turun itu bagus, asal dompet nggak ikut-ikutan datar. (tebe)


