BACAAJA, WONOSOBO – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Gunung Sumbing pada Senin (19/10/2026) hingga kini belum padam. Area kebakaran semakin luas.
Kobaran api belum bisa dipadamkan hingga memasuki hari ketiga. Kondisi ini membuat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wonosobo menetapkan status tanggap darurat karhutla pada Rabu (21/10/2026).
Langkah tersebut diambil agar penanganan kebakaran bisa dipercepat. Pemkab Wonosobo juga membuka peluang meminta bantuan dari pemerintah provinsi hingga pemerintah pusat, termasuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Bacaaja: Mencekam! Ratusan Pendaki Dievakuasi di Tengah Malam saat Gunung Sumbing Terbakar
Bacaaja: Cara Wonosobo Turunkan Angka Kemiskinan hingga 4,33 Persen, Bupati Afif: Gak Cukup Andalkan Bansos!
Penjabat Sekretaris Daerah (Pj Sekda) Wonosobo, Mohamad Kristijadi, mengatakan masih adanya titik api menjadi alasan utama peningkatan status darurat.
“Sudah tiga hari ini, melihat perkembangannya memang ada beberapa titik yang belum bisa dipadamkan,” kata Kristijadi, Rabu.
Titik Api Mendekati Magelang dan Temanggung
Situasi kebakaran makin jadi perhatian karena sejumlah titik api berada di kawasan yang berbatasan dengan Kabupaten Magelang dan Kabupaten Temanggung.
Pemkab Wonosobo pun berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk mempercepat proses pemadaman.
Pemerintah daerah juga menyiapkan surat keputusan (SK) bupati terkait peningkatan status tanggap darurat sekaligus pembentukan tim khusus penanggulangan kebakaran.
Tim tersebut direncanakan dipimpin Kapolres Wonosobo. Setiap bidang akan dibentuk sesuai kebutuhan penanganan di lapangan.
“Hari ini kami sudah perintahkan kepada Kalak BPBD untuk segera membuat SK Bupati tentang peningkatan status itu. Kemudian sekaligus pembentukan timnya, tim penanggulangannya yang diketuai oleh Pak Kapolres. Hari ini selesai,” jelasnya.
Pemkab Wonosobo juga membuka kemungkinan mendatangkan helikopter jika kondisi di lapangan membutuhkan bantuan tambahan.
Namun, langkah tersebut akan disesuaikan dengan kebutuhan setelah status darurat dan pembentukan tim penanggulangan ditetapkan.
“Kalau misalnya kita butuh helikopter, kita juga akan mendatangkan itu,” ujar Kristijadi.
Ia mengakui proses pemadaman berpotensi berlangsung lebih lama jika angin kencang terus terjadi. Kondisi angin dapat menyulitkan upaya petugas dalam mengendalikan api.
Di sisi lain, hujan yang mulai turun di sejumlah wilayah diharapkan membantu meredakan kebakaran. Pemkab berharap hujan berlanjut dan angin melemah agar proses pemadaman bisa berjalan lebih efektif.
Jalur Pendakian Sumbing di Wonosobo Ditutup
Dampak kebakaran juga terasa bagi para pendaki. Jalur pendakian Gunung Sumbing di wilayah Wonosobo saat ini ditutup sementara demi keselamatan.
Sementara itu, jalur pendakian gunung lainnya masih dibuka. Meski begitu, masyarakat yang hendak mendaki diimbau tetap waspada dan memperhatikan kondisi lingkungan.
Kristijadi mengingatkan pendaki agar tidak menyalakan api sembarangan, tidak membuang sampah sembarangan, serta ikut menjaga kelestarian alam.
“Mari kita jaga alam kita, gunung kita supaya ke depan lebih baik,” tandasnya.
Saat ini, fokus utama Pemkab Wonosobo adalah mempercepat pemadaman dan mencegah kebakaran meluas. Dukungan lintas instansi hingga kemungkinan bantuan udara diharapkan bisa membantu petugas mengendalikan api di Gunung Sumbing. (*)

