BACAAJA, BANGKA BELITUNG – Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Hidayat Arsani, punya cara yang nggak biasa buat ngingetin para pejabatnya biar nggak main-main sama urusan korupsi. Kamis, 26 Maret 2026, dia ngajak mereka langsung “turun lapangan” ke Lapas Kelas II A Tua Tunu Pangkalpinang.
Bukan sekadar kunjungan formal, tapi semacam reality check. Di sana, para pejabat diajak lihat langsung kondisi penjara—mulai dari tidur berhimpitan di atas matras sampai harus cukup dengan kipas angin tanpa AC. Pesannya jelas: jabatan nyaman hari ini bisa berujung sempitnya sel besok.
“Biar kebayang akibatnya kalau nekat korupsi,” kata Hidayat santai tapi ngena.
Langkah ini juga jadi bagian dari upaya menjaga prestasi. Tahun 2025 lalu, pemerintahannya dapet peringkat dua nasional dari KPK soal pencegahan korupsi. Tapi menurut Hidayat, penghargaan itu justru jadi “beban positif” buat terus kerja lebih bersih dan rapi.
Ia juga blak-blakan, bilang kalau masih ada saja pejabat yang coba-coba menyalahgunakan jabatan. Makanya, selain diingatkan secara sistem, mereka juga diajak refleksi secara langsung. “Jangan ngerasa sudah hebat. Ujungnya bisa sama-sama di sini juga,” ujarnya.
Di sisi lain, kunjungan ini nggak cuma soal peringatan. Hidayat juga melihat langsung kondisi lapas yang ternyata over kapasitas—808 penghuni untuk tempat yang seharusnya cuma menampung sekitar 300 orang. Satu sel bahkan bisa diisi sampai 12 orang.
Sebagai bentuk bantuan, dia menyerahkan mesin pengolah pupuk kompos dan berinisiatif bikin sumur bor demi kebutuhan air bersih. Bahkan, rencananya bakal ditambah dua mobil tangki air supaya pas musim kemarau, suplai air tetap aman tanpa harus beli.
Intinya, selain kasih “tamparan halus” ke pejabat, kunjungan ini juga jadi momen buat bantu memperbaiki kondisi di dalam lapas. Kombinasi antara peringatan dan kepedulian—biar yang di luar tetap lurus, dan yang di dalam tetap terurus. (*)


