PALANGKA RAYA, BACAAJA – Siapa sangka, main game online yang awalnya buat hiburan malah bisa jadi pintu masuk paham ekstrem.
Ini yang lagi jadi perhatian serius di Kalimantan Tengah. Dua anak di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terindikasi terpapar paham ekstrem setelah aktif bermain game daring.
Kasus ini disebut-sebut masih nyambung dengan jaringan yang sama dengan peristiwa pengeboman di SMAN 72 Jakarta. Meski begitu, aparat menegaskan persoalannya tak sesederhana radikalisme.
Bacaaja: Pengamat Ungkap Alasan Anak Tergiur Neo-Nazi dan White Supremacy dan Cara Antisipasinya
Bacaaja: Puluhan Anak Jateng Terpapar Konten Ideologi Kekerasan, Kapolda Bentuk Tim Khusus
Plt Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kalteng, Muhammad Rus’an, membenarkan adanya indikasi keterkaitan pola kasus tersebut.
“Masih mengarah ke sana. Polanya mirip, ada unsur kekerasan yang dipicu bullying,” kata Rus’an, Jumat (9/1/2026).
Dari game online lanjut ke grup chat
Menurut Rus’an, paparan paham ekstrem ini berawal dari game online yang akrab di kalangan anak-anak, salah satunya Roblox.
Di sana, korban perlahan diarahkan ke konten berbau kekerasan, sadisme, sampai akhirnya masuk ke grup percakapan di luar game.
“Iya, dari game-game online itu. Arahnya ke tindakan kekerasan dan sadisme,” jelasnya.
Bullying disebut jadi faktor pemicu utama. Anak-anak yang merasa tertekan kemudian “dipancing” dengan narasi balas dendam, kebencian, dan kekerasan.
Namun Rus’an menegaskan, kasus ini belum bisa disebut murni radikalisme terorganisir.
“Yang disebarkan itu lebih ke kekerasan dan sadisme, bukan langsung jaringan radikal,” tegasnya.
Densus 88 Turun Tangan
Saat ini, dua anak tersebut masih dalam penanganan Densus 88 Antiteror Polri. Kesbangpol Kalteng juga sudah menerima laporan resmi terkait kasus tersebut dan terus berkoordinasi untuk langkah lanjutan.
“Densus 88 sudah menangani. Kami fokus antisipasi supaya tidak meluas,” ujar Rus’an.
Tak menutup kemungkinan, pemerintah daerah akan mengambil langkah pencegahan lebih jauh, termasuk sosialisasi ke sekolah-sekolah dan pengawasan terhadap aplikasi atau platform yang rawan disalahgunakan.
Modusnya Halus, targetnya anak-anak
Sebelumnya, Wakil Bupati Kotim Irawati juga mengonfirmasi adanya dua anak di wilayahnya yang terpapar paham ekstrem lewat game online. Modusnya, pemain diajak masuk ke grup WhatsApp setelah berinteraksi di game.
“Dari game, lalu dibawa ke grup WA. Di sana diajarkan kebencian, bahkan cara membunuh,” kata Irawati.
Di grup tersebut, anak-anak dicekoki narasi kebencian berbasis pengalaman dibully, lalu diarahkan ke paham ekstrem yang dibungkus isu agama.
Saat ini, kedua anak itu berada di bawah pengawasan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Kotim serta Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak untuk proses pembinaan.
Kasus ini jadi pengingat keras: dunia digital bukan cuma soal hiburan. Tanpa pengawasan dan literasi yang kuat, game online bisa berubah jadi pintu masuk masalah serius, terutama buat anak-anak. (*)

