Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Banjir Semarang, Dosen Unwahas Sentil Pengembang Perumahan Nakal
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Info

Banjir Semarang, Dosen Unwahas Sentil Pengembang Perumahan Nakal

Semarang banjir lagi, banjir lagi. Tapi kali ini bukan cuma soal hujan deras, ada “andil diam-diam” dari pembangunan perumahan yang dinilai makin ngawur. Dosen lingkungan dari kampus ternama pun mulai angkat suara, dan isinya lumayan nyelekit.

T. Budianto
Last updated: Maret 28, 2026 7:54 pm
By T. Budianto
3 Min Read
Share
Guru besar Unwahas, Prof Dr Ir Rita Dwi Ratnani, ST, MEng, IPM. (Foto: Ist)
SHARE

BACAAJA, SEMARANG- Bicara tentang banjir Kota Semarang memang tidak ada habisnya. Tapi, masalah ini perlu selalu dibahas agar ketemu akar masalahnya dan dicari bersama solusinya.

Pakar lingkungan dari Universitas Wahid Hasyim (Unwahas), Prof Rita Dwi Ratnani menyoroti alih fungsi lahan yang masif diduga kuat ikut menyumbang masalah banjir. Ia menilai, pembangunan perumahan yang tidak terkendali jadi salah satu biang kerok.

Perubahan dari lahan resapan menjadi permukiman jelas mengurangi kemampuan tanah menyerap air. “Alih fungsi lahan itu memang ada pengaruhnya terhadap banjir,” ujar kepada BacaAja.

Meski begitu, ia tidak menutup mata bahwa kebutuhan hunian terus meningkat. Pertumbuhan penduduk dan keinginan tinggal dekat pusat aktivitas membuat pembangunan sulit dibendung. Namun, yang jadi masalah adalah cara membangunnya.

Ia menegaskan, aturan soal tata ruang sebenarnya sudah jelas, tapi sering diabaikan. “Kalau saya melihatnya iya, sudah melanggar. Karena wilayah yang dijadikan permukiman jauh lebih banyak dibandingkan area resapan air,” tegasnya.

Baca juga: Alih Fungsi Lahan di Kawasan BSB Masif, Jadi Biang Kerok Banjir Semarang

Ia lalu menyinggung kawasan BSB yang awalnya dirancang cukup matang.  Desain awalnya memperhitungkan keseimbangan. Ada pembagian zona untuk permukiman, transportasi, hingga area resapan.

Tapi kondisi berbeda terlihat di wilayah sekitarnya yang turut dipadati perumahan baru. Seperti Jatisari Semarang hingga Boja yang secara administratif masuk Kabupaten Kendal. Pertumbuhan di Semarang atas dan tetangga Semarang itu dinilai tidak terkontrol.

Lonjakan Pembangunan

Perpindahan warga dari Semarang bawah ke atas ikut memicu lonjakan pembangunan. Di titik ini, kritiknya makin tajam. Ia menyebut banyak pengembang, terutama skala kecil, cenderung asal bangun tanpa memperhatikan dampak lingkungan.

“Jangankan resapan air, jalur air saja tidak dibuat. Area penghijauan juga tidak ada, semuanya habis untuk rumah,” katanya. Menurut dia, pola seperti ini jelas bermasalah. Permukaan tanah yang tertutup beton dan paving membuat daya serap air menurun drastis.

Akibatnya, air hujan tidak punya tempat untuk masuk ke tanah. Air langsung mengalir dan berpotensi memicu banjir di wilayah bawah. Ia menegaskan, perumahan yang baik seharusnya punya sistem drainase yang jelas. Selain itu, harus ada ruang terbuka hijau sebagai area resapan.

Baca juga: Atasi Banjir Semarang, Agustina Wilujeng Bangun Rumah Pompa Baru di Petudungan

Tanpa dua hal itu, pembangunan hanya memindahkan masalah. Wilayah atas mungkin terlihat rapi, tapi dampaknya terasa di tempat lain. Ia juga menyoroti lemahnya pengawasan dokumen lingkungan. Pengembang besar umumnya memiliki AMDAL dan mengikuti aturan.

Namun, pengembang kecil sering luput dari perhatian. Tidak sedikit yang tidak memiliki dokumen, atau hanya sekadar formalitas. “Yang kecil ini yang sering jadi masalah. Entah tidak punya dokumen lingkungan, atau ada tapi tidak dijalankan dengan benar,” ujarnya.

Ia mengingatkan, jika pola pembangunan seperti ini terus dibiarkan, kondisi banjir di Semarang akan semakin sulit dikendalikan. Kalau semua lahan mau disulap jadi rumah tanpa mikirin resapan, ya jangan kaget kalau air akhirnya cari rumahnya sendiri, dan biasanya, dia milih masuk ke rumah warga. (bae)

You Might Also Like

Mau Glowing Malah Pusing? BPOM Ingatkan Bahaya Kosmetik dan Treatment Asal-asalan

Realisasi Dapur Gizi di Jateng Baru 12 Persen

Dua Anak Kotim Terpapar Paham Ekstrem dari Game Online, Terkait Bom SMA Jakarta?

Semarang Siap Jadi “Dapur Ide” Program MBG

96 Ribu Pejabat “Belum Lapor” LHKPN, MAKI: KPK Jangan Cuma Kasih Angka, Spill Namanya!

TAGGED:alih fungsi lahanbanjir semarangpengembang nakalunwahas
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Dari Sampah Jadi Listrik: Pemprov, Pemkot Semarang dan Pemkab Kendal Teken PKS
Next Article Haji 2026 Hampir Matang, Pemerintah Janji Layanan Makin Ngena

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

SIDANG TPPU--Gus Yazid terdakwa kasus pencucian uang BUMD Cilacap, digiring dari ruang sidang menuju mobil tahanan. (bae)

Istri Gus Yazid Ungkap Fakta Mencengangkan: Dia Lebih Pilih Setia kepada Jenderal Widi

JALAN--Jalan baru Undip Tembalang. (google earth)

Pemkot Semarang Ikut Terseret, Warga Tuntut Ganti Rugi Lahan Proyek Jalan Jangli-Undip

Mohammad Saleh Minta Perbaikan Jalan Pantura Barat Dipercepat

Menengok Ulang Kontroversi “Wonderland Indonesia” yang Mengubah Cara Kita Melihat Budaya

Warga Binaan Lapas Purwodadi Belajar Jadi Barista

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Ekonomi

Rawit Lagi “Pedas”, Pemprov Gelontor Tiga Ton ke 15 Daerah

Februari 25, 2026
Info

Tarawih Perdana Jateng Mulai Kapan Sih

Februari 17, 2026
Ilustrasi tindak pidana pencucian uang (TPPU) atau money laundry. (narakita/grafis/tera)
Hukum

Cuci Uang Hasil Korupsi Sawit Ditjen Bea Cukai? Kejagung Geledah Money Changer di Mal Jakarta

Januari 21, 2026
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto
Politik

Laskar Cinta Jokowi Desak Prabowo Lengser: “Jika Tak Mampu Lebih Baik Mundur!”

Agustus 29, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Banjir Semarang, Dosen Unwahas Sentil Pengembang Perumahan Nakal
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?