BACAAJA, NGAWI– Hujan deras bisa datang tanpa banyak permisi. Kalau saluran air mampet, sampah menumpuk, dan lingkungan tak terurus, bencana tinggal menunggu waktu.
Pemkab Ngawi pun mulai pasang kuda-kuda menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi di musim penghujan. Keseriusan itu terlihat dalam Apel Gelar Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana Hidrometeorologi yang dipimpin Wakil Bupati Ngawi, Dwi Rianto Jatmiko, Rabu (4/11/2026), di halaman Polres Ngawi.
Bukan sekadar apel seremonial dengan barisan rapi dan perlengkapan berjejer, kegiatan ini menjadi ajang memastikan seluruh personel dan peralatan siap diterjunkan ketika bencana datang.
Sejumlah unsur lintas sektor ikut ambil bagian. Mulai dari jajaran kepolisian, TNI dari Kodim 0805 Ngawi, Dinas Perhubungan, Perhutani, Satpol PP, BPBD, Dinas Kesehatan, jajaran polsek, relawan hingga berbagai instansi terkait lainnya. Deputasi perwira juga dilibatkan untuk memperkuat koordinasi antarlembaga.
Baca juga: Kangsantri, Marketplace untuk Dongkrak Kemandirian Pesantren di Ngawi
Dalam amanatnya, Dwi Rianto Jatmiko mengingatkan bahwa menghadapi bencana tak cukup hanya bermodal personel tangguh, kendaraan operasional, dan peralatan penyelamatan. Kesadaran masyarakat menjaga lingkungan justru menjadi bagian penting yang tak boleh disepelekan.
Menurutnya, edukasi lingkungan harus terus digencarkan dengan melibatkan masyarakat secara langsung. Salah satunya melalui pengelolaan sampah yang baik dan imbauan agar warga lebih peduli terhadap kondisi lingkungan sekitar.
“Edukasi terkait menjaga lingkungan merupakan bagian yang sangat penting. Kita harus bersama-sama menjaga lingkungan dengan melibatkan masyarakat, mengelola sampah dengan baik, serta terus memberikan imbauan untuk meningkatkan kesadaran seluruh warga masyarakat,” ungkapnya.
Langkah Awal
Dwi menilai kepedulian terhadap lingkungan menjadi salah satu langkah awal untuk menekan risiko bencana hidrometeorologi, terutama saat intensitas hujan mulai meningkat.
Sebab, persoalan banjir dan bencana lainnya bukan melulu soal derasnya hujan. Kebiasaan membuang sampah sembarangan, saluran air yang tersumbat, hingga lingkungan yang kurang terawat juga bisa memperbesar risiko.
Usai apel, kegiatan dilanjutkan dengan pemeriksaan kendaraan bermotor (ranmor) dan peralatan Search and Rescue (SAR). Pengecekan dilakukan untuk memastikan seluruh sarana dan prasarana berada dalam kondisi siap pakai ketika dibutuhkan.
Baca juga: 178 Kursi Kades Ngawi Segera Diperebutkan, Pemkab Siapkan Rp20 Miliar!
Melalui apel tersebut, Pemkab Ngawi berharap koordinasi lintas sektor semakin solid, kesiapsiagaan meningkat, dan respons penanganan bencana bisa dilakukan lebih cepat.
Namun, ada satu pekerjaan rumah yang tak kalah penting: jangan sampai semangat siaga bencana hanya muncul ketika apel digelar atau hujan mulai mengguyur.
Petugas boleh menyiapkan perahu karet dan peralatan SAR, tetapi kalau warga masih menganggap sungai sebagai tempat sampah, jangan heran kalau banjir datang membawa ‘kiriman’ masalah yang sebenarnya kita buat sendiri. (tebe)

