BACAAJA, SEMARANG – Jawa Tengah (Jateng) mulai dilanda hujan. Biasanya, datangnya musim hujan jadi penanda bagi petani untuk mulai menanam padi.
Namun, hujan juga menyisakan ancaman. Potensi banjir dan ancaman munculnya banyak hanya bisa bikin petani rugi hingga gagal panen total.
Mengantisipasi hal itu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) mulai nyiapin sejumlah langkah perlindungan bagi petani.
Mulai dari memantau kondisi cuaca, menyiapkan alat mesin pertanian (alsintan), hingga memberikan perlindungan lewat asuransi pertanian.
Bacaaja: Ambil 330 Sampel Susu dan Darah, Distanak Jateng Perketat Pengawasan Ternak
Bacaaja: Asuransi Rp6 Juta per Hektare untuk Petani Padi di Jateng, Skema Antisipasi Gagal Panen
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distannak) Jateng, Defrancisco Dasilva Tavares, mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Kementerian Pertanian.
Koordinasi ini dilakukan untuk memetakan wilayah yang berpotensi terdampak banjir, perubahan cuaca ekstrem, hingga serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT).
Sejumlah daerah menjadi perhatian khusus. Di antaranya Demak, Grobogan, Kudus, Karanganyar, dan Pati. Sementara di kawasan Pantura barat, pemantauan mencakup Pekalongan, Pemalang, Tegal, hingga Brebes.
“Selain kita berkoordinasi dengan BMKG, kita juga dengan Kementerian Pertanian ada balai yang khusus memantau. Sehingga menginformasikan setiap daerah ini akan hujan di sini, akan kering di sini, dan potensi hama atau penyakit yang akan muncul,” ujarnya, Rabu (4/11/2026).
Nggak cuma memantau cuaca, Distannak Jateng juga menyiagakan Brigade Alsintan di lima wilayah.
Fasilitas ini bisa dipinjam oleh kelompok tani untuk mempercepat pengolahan lahan dan proses penanaman padi selama November.
Harapannya, petani bisa lebih siap menghadapi musim tanam tanpa terkendala keterbatasan alat.
Selain itu, Pemprov Jateng juga memperkuat perlindungan petani melalui program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP).
Program ini menjadi salah satu cara untuk mengurangi risiko kerugian ketika sawah mengalami gagal panen atau puso akibat bencana.
Pada periode 2025-2026, sekitar 1.200 hektare sawah yang mengalami puso telah menerima klaim asuransi. Besarannya mencapai Rp6 juta per hektare.
Defrancisco berharap bantuan tersebut bisa membantu petani memulihkan modal untuk kembali menanam. Dengan begitu, usaha pertanian tetap berjalan meski ancaman cuaca ekstrem masih membayangi. (*)

