BACAAJA.CO, SEMARANG– Mengurus rumah ibadah, mengajar mengaji, mendampingi santri, hingga menjaga kegiatan keagamaan sering kali berjalan jauh dari sorotan. Padahal, ada banyak orang yang tetap bekerja di balik layar agar kehidupan keagamaan masyarakat terus hidup.
Kabar baiknya, jumlah mereka yang menerima bisyaroh dari Pemkot Semarang bertambah cukup signifikan. Pada 2026, penerimanya mencapai 9.992 orang, naik 3.420 orang atau 52,04 persen dibandingkan 2025 yang berjumlah 6.572 orang.
Peningkatan tersebut disampaikan Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng melalui Plt Asisten II, Yudi Hardianto Wibowo saat membuka Istighosah Akbar dan Napak Tilas Sejarah Santri Kota Semarang di Pondok Pesantren Salafi Luhur Dondong, Mangkang, Jumat (30/10/2026).
Baca juga: Penerima Bisyaroh Pemkot Semarang Tembus 4.000 Orang
Kegiatan bertema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas” itu diikuti sekitar 2.700 peserta, terdiri atas 2.600 santri dan jemaah serta 100 tamu VIP.
Ketua PCNU Kota Semarang, KH Anasom menyambut baik bertambahnya penerima bisyaroh. Insentif tersebut menyasar marbot, penjaga rumah ibadah, guru ngaji, dan pendidik keagamaan lainnya.
Menurutnya, kebijakan itu menjadi bentuk perhatian terhadap orang-orang yang selama ini ikut menjaga kehidupan keagamaan sekaligus mendidik generasi muda.
Apresiasi juga diberikan terhadap program umrah gratis bagi guru Madrasah Diniyah (Madin) dan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ). Program tersebut dinilai sebagai penghargaan atas pengabdian para pendidik keagamaan.
Terus Beradaptasi
Dalam kesempatan itu, Pemkot Semarang juga mengajak pesantren terus beradaptasi dengan perubahan zaman. Santri diharapkan tidak hanya kuat dalam ilmu agama dan akhlak, tetapi juga menguasai teknologi, mengembangkan ilmu pengetahuan, serta punya bekal kemandirian ekonomi.
Semangat kewirausahaan atau santripreneur menjadi salah satu hal yang didorong agar pesantren mampu melahirkan generasi produktif dan berkontribusi bagi masyarakat.
Pemkot juga menekankan pentingnya menciptakan lingkungan pesantren yang aman. Perundungan dan kekerasan tidak boleh dianggap sebagai bagian dari proses pendidikan. Setiap santri berhak mendapat perlindungan dan penghormatan.
Baca juga: Tambah Banyak, Penerima Bisyaroh di Kota Semarang Nyaris 10 Ribu Orang
Dukungan terhadap pesantren turut diperkuat melalui Perda Kota Semarang Nomor 15 Tahun 2025 tentang Fasilitasi Pengembangan Pesantren. Pemkot juga telah mengukuhkan Forum Fasilitasi Pengembangan Pesantren periode 2026-2031 sebagai wadah koordinasi dan keberlanjutan program.
Rangkaian acara di Pesantren Dondong diisi pembacaan manaqib oleh KH Zamahsyari, istighosah dan doa yang dipimpin Gus Nasiruddin, serta mauidhoh hasanah oleh KH Ahmad Haris Shodaqoh, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Itqon Bugen.
Dua santriwati berprestasi, Nasywa Jamilah yang hafal 30 juz Alquran dan Nurlita Nasucha yang berprestasi di bidang olahraga, juga menerima hadiah umrah.
Kenaikan penerima bisyaroh tentu menjadi kabar menggembirakan. Namun, angka 9.992 bukan sekadar deretan angka dalam laporan pemerintah. Di baliknya ada orang-orang yang berharap pengabdian mereka ikut diperhatikan.
Sebab, urusan menjaga kehidupan keagamaan jangan sampai hanya ramai dipuji saat acara seremonial. Mereka yang setiap hari menghidupkan masjid, musala, dan ruang belajar agama juga perlu merasakan perhatian nyata, bukan cuma kebagian tepuk tangan. (tebe)

