BACAAJA.CO, KENDAL– Panggung Porprov Jawa Tengah 2026 resmi ditutup. Medali sudah dibagikan, klasemen sudah dikunci, dan para atlet mulai bisa menarik napas setelah bertanding habis-habisan.
Tapi satu hal sudah disiapkan: giliran Kedu Raya menjadi tuan rumah pesta olahraga terbesar di Jawa Tengah berikutnya. Wagub Jateng, Taj Yasin Maimoen menutup Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVII Jateng 2026 di Halaman Stadion Kebondalem, Kabupaten Kendal, Jumat (30/10/2026).
Setelah Semarang Raya menjadi tuan rumah, estafet penyelenggaraan Porprov XVIII pada 2030 akan berpindah ke wilayah Kedu Raya. “Semoga kita ketemu lagi di 2030, Porprov ke-18 di Kedu Raya,” kata Taj Yasin.
Ada lima daerah yang disiapkan menjadi tuan rumah bersama, yakni Kota Magelang, Kabupaten Magelang, Temanggung, Wonosobo, dan Kebumen. Taj Yasin berharap Porprov tidak berhenti sebagai ajang berburu medali dan adu kekuatan antardaerah. Lebih dari itu, kompetisi olahraga seharusnya menjadi ruang mempererat persaudaraan antaratlet dan kontingen.
Baca juga: Gagal Pertahankan Juara Porprov, Tinju Fokus Regenerasi Atlet
Hasil pertandingan juga diharapkan menjadi modal bagi atlet Jateng untuk meningkatkan kemampuan sebelum menghadapi Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028 di Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.
Di balik kemeriahan kompetisi, Porprov XVII menyisakan duka. Dua atlet meninggal dunia selama penyelenggaraan, yakni Syabila Rizkia Putri Raharja dari cabang selam asal Kabupaten Jepara dan Ayudiah Rivana Tridianidita dari cabang pencak silat Kota Semarang.
Taj Yasin menyampaikan belasungkawa dan berharap keduanya mendapat ampunan serta husnulkhatimah. Peristiwa tersebut, menurut dia, harus menjadi bahan evaluasi untuk penyelenggaraan berikutnya.
Keselamatan atlet perlu menjadi perhatian utama agar risiko cedera dapat diminimalkan. “Ke depannya harus ada evaluasi, kita minimalisir cedera pada atlet. Itu yang paling utama,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Umum KONI Jateng, Sujarwanto Dwiatmoko mengingatkan agar persiapan Porprov XVIII dilakukan sejak dini. Salah satu pekerjaan rumahnya adalah memastikan ketersediaan venue pertandingan.
Keterbatasan Fasilitas
Pengalaman Porprov XVII menunjukkan masih ada cabang olahraga yang tidak bisa dipertandingkan di wilayah tuan rumah karena keterbatasan fasilitas. Akibatnya, pertandingan harus digelar di luar wilayah penyelenggara. “Pengalaman menunjukkan bahwa masih ada tiga cabang olahraga yang oleh tuan rumah tidak tersedia venue-nya,” ujar Sujarwanto.
Porprov XVII Jateng 2026 diikuti 7.999 atlet, 1.910 ofisial, dan 3.571 perangkat pertandingan dari 35 kabupaten/kota. Sebanyak 58 cabang olahraga dengan 810 nomor pertandingan dipertandingkan.
Pada klasemen akhir, Kota Semarang keluar sebagai juara umum dengan 177 emas, 115 perak, dan 118 perunggu. Berikutnya ada Kota Surakarta, Kota Salatiga, Kabupaten Grobogan, dan Kabupaten Banyumas.
Sujarwanto menegaskan, prestasi tidak hanya milik daerah yang masuk lima besar. Sebaran medali menunjukkan banyak kontingen kabupaten/kota juga mampu membawa pulang hasil dari perjuangan atletnya.
Baca juga: Panitia Porprov Jateng Nyatakan Tak Ada Investigasi Kematian Atlet Silat Semarang
“Bukan berarti yang lain tidak berprestasi. Karena medali emas dan perolehan medali hampir merata di seluruh kontingen kabupaten dan kota,” tutupnya. Nah, Kedu Raya kini punya waktu sekitar empat tahun untuk bersiap.
Bukan cuma menyiapkan panggung pembukaan dan seremoni penutupan, tetapi juga venue yang layak, fasilitas pendukung, dan sistem keselamatan atlet.
Sebab, menjadi tuan rumah bukan sekadar soal meriah saat acara, melainkan memastikan semua atlet bisa bertanding dengan aman dan pulang membawa kenangan, bukan cedera. (tebe)

