Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Kasus dr Aulia Sudah Inkrah, Tapi IDI Belum Jatuhkan Sanksi Etik ke Tiga Terpidana, Kenapa?
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Info

Kasus dr Aulia Sudah Inkrah, Tapi IDI Belum Jatuhkan Sanksi Etik ke Tiga Terpidana, Kenapa?

Kasus kematian peserta PPDS Undip, dr. Aulia Risma Lestari, memang sudah berkekuatan hukum tetap. Namun, hingga kini tiga terpidana dalam perkara tersebut belum menerima sanksi etik dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

T. Budianto
Last updated: Juli 30, 2026 8:15 am
By T. Budianto
3 Min Read
Share
SHARE

BACAAJA, SEMARANG– Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jawa Tengah memastikan hingga saat ini belum menjatuhkan sanksi etik kepada tiga terpidana dalam kasus yang berkaitan dengan meninggalnya peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Universitas Diponegoro, almarhumah dr Aulia Risma Lestari.

Ketua IDI Jawa Tengah, Telogo Wismo Agung Durmanto mengatakan, sanksi etik hanya dapat diberikan apabila terdapat bukti adanya pelanggaran etik yang telah melalui mekanisme pemeriksaan organisasi profesi.

Menurutnya, putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap tidak menyatakan para terdakwa terbukti melakukan praktik bullying. “Kalau di IDI pasti ada sanksi etik kalau memang terbukti. Tapi kemarin kan tidak terbukti bullying,” kata Telogo atau yang akrab disapa dr. TW, Rabu (29/7/2026).

Baca juga: Kematian Dokter PPDS Ramai Lagi, IDI Jateng Bilang Sudah Punya Jalur Aduan Rahasia

Ia menjelaskan, terdapat perbedaan antara dakwaan yang diajukan jaksa dengan amar putusan majelis hakim. Menurutnya, perkara tersebut awalnya banyak dikaitkan dengan dugaan perundungan.

Namun, dalam putusan pengadilan, hakim justru menyatakan unsur yang terbukti adalah tindak pidana pemerasan. “Tuntutan awal bullying, tetapi dalam putusan bergeser ke pemerasan,” ujarnya.

Dalam perkara tersebut, mantan Kepala Program Studi PPDS Anestesi Undip, Taufik Eko Nugroho dijatuhi hukuman dua tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Semarang.

Vonis itu kemudian diperberat menjadi empat tahun penjara di tingkat banding. Upaya kasasi yang diajukan pun ditolak sehingga putusan tersebut telah berkekuatan hukum tetap.

Sembilan Bulan

Sementara itu, dokter senior korban sekaligus peserta PPDS, Zara Yupita Azra, dan staf administrasi program studi, Sri Maryani masing-masing divonis sembilan bulan penjara.

Ketiganya dipidana dalam perkara yang berkaitan dengan pemerasan terhadap dr. Aulia. Adapun tuduhan mengenai praktik bullying yang sebelumnya menjadi perhatian publik tidak dinyatakan terbukti dalam putusan pengadilan.

Meski demikian, Telogo menegaskan IDI tidak akan memberikan perlindungan kepada anggotanya apabila terbukti melakukan tindak pidana. Namun, untuk penjatuhan sanksi etik, organisasi profesi tetap harus mengacu pada mekanisme pemeriksaan etik serta fakta hukum yang telah diputuskan.

Baca juga: IDI Jateng Pasang Badan, Gak Terima Dokter RSI Sultan Agung Jadi Korban Kekerasan Keluarga Pasien ‘Sultan’

“Kalau pidana ya kita ikuti proses hukumnya. IDI tidak pernah membantu membela anggota yang melakukan pelanggaran pidana,” tegasnya. Ia menambahkan, proses pidana dan proses etik merupakan dua mekanisme yang berbeda, sehingga keputusan dalam ranah etik harus didasarkan pada ketentuan yang berlaku di organisasi profesi.

Pengadilan sudah menutup perkara pidana, tetapi ruang diskusi publik belum benar-benar selesai. Sebab, di mata masyarakat, keadilan sering kali tak hanya diukur dari vonis penjara, melainkan juga dari seberapa besar tanggung jawab moral ikut ditegakkan. (bae)

You Might Also Like

Cek Pos Mudik, Kapolrestabes Semarang: Polisi Harus Terasa, Bukan Sekadar Ada

Jerit Tangis Bella di PN Semarang, Sudah Lama Terpisah dari Bayinya: “Saya Pengen Pulang!”

Bau Aneh Bikin Kaget Sekampung Ujungnya Koper Berisi Mayat

Polisi Ungkap Identitas Korban Tertimpa Pohon Tumbang di Pandanaran

Luthfi Tepati Janji, Beri Bantuan untuk Mahasiswa Korban Banjir Sumatera

TAGGED:dr auliafk undipheadlineIDI Jateng
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Gubernur Jateng Ahamd Luthfi. (dul) 5 Bupati Jateng Terjaring OTT KPK, Luthfi: Apa Lagi yang Kurang?
Next Article Presiden ke-8 RI Prabowo Subianto. Prabowo Naikin Tukin TNI-Kemenhan, Giliran Gaji Guru Bilang Gak Ada Uangnya

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Karhutla Hanguskan 29 Ribu Hektare, 20 Korporasi Tersangka

Solar Subsidi Disedot dari Sopir Truk, 1.110 Liter Disita

178 Kursi Kades Ngawi Segera Diperebutkan, Pemkab Siapkan Rp20 Miliar!

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Desa, Kependudukan, dan Pencatatan Sipil (Dispermadesdukcapil) Jawa Tengah, Nadi Santoso, saat ditemui di kantornya, Kamis (29/10/2026). (dul)

Berapa Estimasi Biaya Pilkades di Jateng? Fantastis, Capai Miliaran Rupiah

LATIHAN KEAMANAN: Petugas sedang latihan keamanan menghadapi dugaan ancaman bom di Bandara Ahmad Yani Semarang, Kamis (29/10/2026). (ist)

Bandara Ahmad Yani Uji Kesiapan Petugas Hadapi Ancaman Bom

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Info

Santap Daging Kambing, Warga Darma Keracunan

Agustus 23, 2026
KAWAL SIDANG--Aktivis Pati, Ahmad Husein (berjas hitam), memanjat pagar meneriakkan dukungan terhadap Bupati Sudewo yang disidang di Pengadilan Tipikor Semarang, Senin (22/6/2206). (bae)
Hukum

Husein Pati ‘Si Penjilat’ Teriak Lantang di Tipikor Semarang: Sudewo Korban Politik!

Juni 22, 2026
Info

Dugaan Keracunan Makanan di Ponpes Banjarnegara, Ratusan Santri Jadi Korban

September 16, 2025
Tampang Agus Ratmono, terduga pelaku perampokan sadis keluarga juragan sate di Boyolali.
Hukum

Polisi Tangkap Rampok Sadis Boyolali di Kudus, Keluarga Korban Curiga Motif Utang Piutang

Januari 31, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Kasus dr Aulia Sudah Inkrah, Tapi IDI Belum Jatuhkan Sanksi Etik ke Tiga Terpidana, Kenapa?
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?