BACAAJA, SEMARANG- Bisnis memang harus menghasilkan cuan. Tapi kalau demi untung bumi ikut buntung, apa masih layak disebut bisnis masa depan?
Inilah tantangan yang dibedah Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro (Undip) lewat konferensi internasional ICoBLAST 2026: bagaimana perusahaan tetap kompetitif tanpa bikin urusan lingkungan dan sosial jadi korban.
Lewat The 2nd International Conference on Business, Logistics, Accounting, Supply Chain, and Tax (ICoBLAST) 2026 di Hotel Aruss Semarang, 22-23 Oktober 2026, akademisi dan praktisi dari berbagai negara diajak mencari jalan agar bisnis tak cuma sibuk menghitung laba, tetapi juga memikirkan dampaknya.
Konferensi yang digelar Departemen Bisnis dan Keuangan Sekolah Vokasi Undip bersama Universiti Kuala Lumpur, Universitas Indonesia, dan Universitas Sumatera Utara itu mengangkat tema Responsible Governance and Circular Innovation in Sustainable Business Ecosystems. Bahasa sederhananya: tata kelola harus beres, inovasi jangan mandek, dan sampah jangan terus dianggap urusan belakang.
Baca juga: Sekolah Vokasi Undip Cari Mahasiswa yang Punya Inovasi dan Prestasi
Ketua Pelaksana ICoBLAST 2026, Naila Hanum mengingatkan, keberlanjutan tak cukup berhenti sebagai jargon manis dalam presentasi perusahaan. Harus ada keputusan yang bertanggung jawab dan aksi yang benar-benar terasa.
“Keberlanjutan harus melampaui komitmen dan aspirasi. Diperlukan akuntabilitas, keputusan yang bertanggung jawab, serta tindakan bermakna untuk menjawab tantangan lingkungan dan sosial,” ujarnya.
Sekitar 60 makalah penelitian dipresentasikan dalam sejumlah kelompok pembahasan. Konferensi ini melibatkan peserta, penulis, anggota komite ilmiah, dan pembicara dari tujuh negara, yakni Indonesia, Australia, Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, Selandia Baru, dan Prancis.
Jadi Solusi
Wakil Rektor IV Undip Wijayanto juga mengingatkan agar ilmu pengetahuan tak cuma berakhir menjadi tumpukan jurnal yang rajin dikutip, tetapi minim penerapan. “Pengetahuan dan teori tidak boleh berhenti di atas kertas. Keduanya harus menghasilkan solusi bagi persoalan nyata,” tegasnya.
Sejumlah pembicara internasional mengulas isu keberlanjutan dari berbagai sisi. Prof. Dr. Irene Ting Wei Kiong dari Universiti Malaysia Pahang Al-Sultan Abdullah, Ferry Jie dari Edith Cowan University, Australia, serta Abu H. Ayob dari Universiti Kebangsaan Malaysia membahas tata kelola lingkungan, sosial, dan perusahaan (ESG), rantai pasok berkelanjutan, hingga inovasi hijau untuk memperkuat daya saing.
Pada hari kedua, Prof. Dr. Ir. Purwanto mengupas transformasi industri menuju ekonomi sirkular tanpa limbah. Sementara itu, Salil Dutt dari United Nations Industrial Development Organization (UNIDO) menyoroti peran industri hijau dalam mendorong pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.
Baca juga: Wagub: Vokasi Jangan Nunggu SMK, Mulai Saja dari SMP
Perwakilan Universiti Kuala Lumpur, Azlina binti Mohd Ali, berharap kemitraan dengan Undip berlanjut melalui riset bersama, publikasi ilmiah, pertukaran akademik, hingga kolaborasi dengan industri.
Bagi Undip, konferensi ini diharapkan membuka jalan bagi riset yang lebih aplikatif dan praktik bisnis yang bertanggung jawab. Sebab, ekonomi sirkular bukan sekadar tren mengolah sampah jadi barang baru, melainkan cara berpikir agar sumber daya tidak habis demi mengejar pertumbuhan.
Pada akhirnya, bisnis berkelanjutan bukan soal siapa paling fasih memasang kata “hijau” di laporan tahunan. Yang lebih penting, seberapa hijau tindakannya setelah presentasi selesai dan lampu konferensi dimatikan. (tebe)

