BACAAJA, SEMARANG– Ribuan atlet datang membawa mimpi, tetapi yang ikut berlari bukan cuma mereka. Hotel mulai penuh, warung makin ramai, ojek online kebanjiran order, sampai UMKM punya peluang ketemu pelanggan baru.
Itulah efek domino Porprov Jawa Tengah XVII 2026 yang bikin Semarang bukan sekadar arena pertandingan, tetapi mesin penggerak ekonomi dadakan.
Sebagai tuan rumah utama bersama Kabupaten Kendal, Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, dan Kabupaten Demak, Kota Semarang menyambut kedatangan 7.999 atlet dan 1.910 ofisial dari 35 kabupaten/kota.
Baca juga: Api Abadi Mrapen Nyalakan Semangat Porprov Jateng XVII
Selama sepekan, mereka akan berlaga di 58 cabang olahraga dengan 810 nomor pertandingan, angka yang berarti ribuan orang juga membutuhkan kamar hotel, makan tiga kali sehari, transportasi, hingga tempat nongkrong setelah pertandingan.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng menegaskan kesiapan Semarang Raya menjadi tuan rumah yang ramah, aman, dan nyaman bagi seluruh kontingen.
“Atas nama Pemkot Semarang dan seluruh warga Kota Semarang, kami menyampaikan selamat datang kepada seluruh atlet, ofisial, pengurus, dan insan olahraga dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Kami siap menjadi tuan rumah yang ramah, aman, dan nyaman bagi seluruh peserta,” ujarnya saat pembukaan Porprov Jateng XVII, Minggu, (25/10/2026) malam.
Peluang Ekonomi
Di balik sambutan itu, ada peluang ekonomi yang jauh lebih besar daripada sekadar seremoni pembukaan. Ribuan tamu dari berbagai daerah otomatis menciptakan permintaan baru bagi sektor perhotelan, kuliner, transportasi, hingga pelaku UMKM yang berjualan di sekitar venue pertandingan.
Efeknya memang tak selalu terlihat di papan skor. Tetapi setiap kamar hotel yang terisi, setiap nasi goreng yang laku, hingga setiap perjalanan menuju arena pertandingan ikut memutar uang di Kota Semarang.
Baca juga: Porprov Jateng 2026, Momentum Mendulang Manfaat Ekonomi
Agustina juga mengingatkan bahwa Porprov bukan hanya ajang berburu medali, melainkan bagian dari pembinaan atlet menuju PON 2028. Namun, ia menilai olahraga juga punya misi lain: membangun disiplin, mempererat persaudaraan, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
Pada akhirnya, Porprov mengajarkan satu hal menarik: kemenangan bukan cuma milik atlet yang naik podium. Ketika hotel terisi, UMKM tersenyum, dan roda ekonomi ikut berputar, Semarang juga sedang mencetak poin di luar lapangan. Tinggal jangan sampai setelah api Porprov padam, semangat belanja di kota ini ikut kembali masuk bangku cadangan. (tebe)

